Breaking News:

Berita Semarang

Gelombang Tinggi Rusak 15 Kapal Nelayan di Tambaklorok Semarang, Nelayan Pilih Bekerja di Proyek

Gelombanga tinggi membuat 15 kapal milik nelayan di Kota Semarang rusak dan beberapa lainnya tenggelam.

Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Iwan Arifianto
Nelayan memperbaiki pagar pembatas dari bambu di kawasan Tambaklorok, Kota Semarang, yang rusak akibat hantaman gelombang tinggi, Kamis (10/12/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Gelombanga tinggi membuat 15 kapal milik nelayan di Kota Semarang rusak dan beberapa lainnya tenggelam.

Gelombang tinggi membuat ratusan nelayan di Kota Lumpia tersebut tak berpenghasilan lantaran tak bisa melaut.

Ketua DPD Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang, Slamet Ari Nugroho menyebut, ada 593 nelayan di kawasan pesisir Tambaklorok tidak bisa melaut akibat kapalnya mengalami kerusakan.

"Saat ini, dari laporan, ada sekitar 15 kapal yang rusak dan hancur. Ada juga yang tenggelam. Kapal-kapal itu kebanyakan di bawah 5 GT dan sedang bersandar, lalu terkena benturan ombak besar," jelasnya saat dihubungi, Kamis (10/12/2020).

Nelayan di Tambaklorok, Kota Semarang, menunjukkan perahunya yang rusak akibat dihantam gelombang laut, Kamis (10/12/2020).
Nelayan di Tambaklorok, Kota Semarang, menunjukkan perahunya yang rusak akibat dihantam gelombang laut, Kamis (10/12/2020). (TRIBUNBANYUMAS/Iwan Arifianto)

Dia mengatakan, para nelayan itu menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan ikan.

"Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 500.000 dari hasil tangkapan yang dijual," ucapnya.

Saat ini, kata dia, para nelayan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tak berpenghasilan.

"Mereka yang kapalnya rusak tak punya aktivitas. Bahkan ada yang terpaksa mencari tangkapan di pinggir laut. Hasilnya cuma kerang hijau dan udang. Tapi ada juga yang mencari pekerjaan di proyek untuk bisa memperbaiki kapalnya lagi," ucapnya.

Dia menambahkan, sebenarnya, peristiwa tersebut biasa terjadi setiap tahun yang dinamakan sasi kesongo, terjadi antara bulan Desember sampai Maret.

"Ini biasa terjadi setiap tahun. Tapi, memang tahun ini cukup parah. Ada tanggul penahan yang jebol karena tak kuat menangkal ombak besar. Bahkan, mengakibatkan belasan rumah warga hancur," ujarnya. (*)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul "15 Kapal Nelayan di Semarang Rusak Dihantam Gelombang Tinggi".

Baca juga: 1 Nakes RSUD Salatiga Meninggal Akibat Positif Covid-19, Layanan Rumah Sakit Jalan Terus

Baca juga: Hasil Sementara Pilkada 2020 di Jateng: Kotak Kosong di Kebumen Dapat 38,7 Persen Suara

Baca juga: Hasil Pilkada Serentak 2020: 3 dari 7 Artis Diprediksi Lolos Jadi Pimpinan Daerah, Ini Nama-namanya

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Jumat 11 Desember 2020 Rp 1.921.000 Per 2 Gram

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved