Berita Pendidikan

Dosen Teknologi Geologi Unsoed Minta Warga Tak Khawatir Potensi Tsunami 20 Meter, Ini Penjelasannya

Dr Asmoro mengatakan, hasil penelitian tersebut merupakan potensi kejadian dan bukan prediksi kejadian.

Editor: rika irawati
Istimewa
Ilustrasi Tsunami 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Hasil penelitian terkait potensi tsunami setinggi 20 meter di Pantai Selatan Jawa, mendapat tanggapan Dosen Jurusan Teknologi Geologi Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr Ir Asmoro Widagdo.

Dosen Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed Dr.Ir. Asmoro Widagdo.
Dosen Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed Dr.Ir. Asmoro Widagdo. (TRIBUNBANYUMAS/Istimewa)

Dr Asmoro mengatakan, hasil penelitian tersebut merupakan potensi kejadian dan bukan prediksi kejadian.

Dia menjelaskan, tsunami memang berpotensi terjadi lantaran Jawa berada di tepi benua aktif, dimana ada zona penunjaman lempeng yang berpotensi menggetarkan zona di atasnya.

"Potensi ini akan ada sepanjang masa geologi, yang dapat mulai dari ratusan juta tahun lalu dan masih akan berpotensi hingga ratusan juta tahun mendatang," jelasnya seperti dalam rilis yang diterima Tribunbanyumas.com, Jumat (2/10/2020).

Ini Penjelasan BMKG Soal Potensi Tsunami 20 Meter di Wilayah Selatan Jawa

BMKG Ingatkan Adanya La Nina Sepanjang September-November, Ini Wilayah yang Terdampak

BMKG Ingatkan Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi, Kerap Terjadi di Musim Penghujan

Lantaran potensi kejadian berada dalam rentang waktu sangat pajang, prediksi peristiwanya pun hampir tidak mungkin mencapai akurasi hari atau jam.

Diungkapkannya, jalur kejadian tsunami ini juga panjang, dari Sumatera hingga Nusa Tenggara, sehingga kapan serta dimana titik lokasi yang akan pertama melepaskan energi pemicu tsunami, sangat sulit ditentukan.

Dari fakta ini, dia meminta masyarakat tak khawatir akan potensi terjadinya tsunami 20 meter.

"Hasil kajian ini sebaiknya tidak terlalu dibesar-besarkan karena sasarannya bukan menciptakan kekhawatiran masyarakat awam namun kewaspadaan sistemik oleh pihak terkait," imbuhnya.

Menurutnya, sampai saat ini, belum ada alat yang mampu memprediksi kejadian gempa atau tsunami hingga menentukan waktu kejadian.

Karena, skala kejadiannya yang panjang, boleh jadi, tsunami ini baru akan terjadi beberapa generasi kedepan.

Dr Asmoro mengatakan, tujuan utama penelitian adalah agar masyarakat mempersiapkan diri menghadapi tsunami, bukan takut dan khawatir berlebihan.

Menurutnya, yang harus dilakukan adalah membangun kesiapan bersama menghadapi potensi tsunami. Upaya ini dapat melalui kajian dan pembangunan infrastruktur yang antisipatif.

Model-model rumah panggung di Indonesia Timur dapat diadopsi untuk diterapkan di selatan Jawa.

Jalan-jalan utama berarah utara-selatan perlu diperlebar dan di perbanyak sehingga proses evakuasi dapat dilakukan dengan lancar.

Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Pemkab Banyumas Siapkan 3 Tempat Karantina OTG di Batturaden

Imbas Konser Dangdut, Pemkot Tegal Larang Warga Gelar Pesta Hajatan

Disdikbudpora Semarang Fasilitasi Siswa Tak Miliki HP dan Susah Sinyal, Belajar Lewat Siaran Radio

Edukasi kebencanaan pun perlu dilakukan pada anak sejak dini, di sekolah-sekolah, guna menanamkan kesadaran dan kesiapsiagaan.

"Pada intinya, dalam menghadapi potensi bencana tsunami, masyarakat diharapkan tidak panik. Kita kenali bahaya di lingkungan sekitar kita dan kita pelajari cara menyelamatkan diri," imbuhnya.

Masyarakat yang tinggal di bibir pantai juga perlu terhubung dengan sumber informasi yang terpercaya agar tidak mudah termakan isu-isu yang menyesatkan, yang banyak berseliweran di media sosial.

Dr Asmoro mejelaskan, tsunami hanyalah salah satu dari sekian banyak bencana yang mau atau tidak mau harus dihadapi di samping bencana yang lainnya. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved