Rabu, 6 Mei 2026

60 Orang Masih Dilaporkan Hilang Pasca Ledakan Lebanon

Lebih dari 60 orang dilaporkan masih menghilang pasca- ledakan yang mengguncang Beirut, Lebanon, pada Selasa (4/8/2020).

Tayang:
Editor: Rival Almanaf
AFP PHOTO/ANWAR AMRO
Pemandangan yang menunjukkan kondisi Beirut, Lebanon, pada 5 Agustus 2020 setelah ledakan yang menghantam sehari sebelumnya (4/8/2020), menewaskan 100 orang dan melukai ribuan lainnya. 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Lebih dari 60 orang dilaporkan masih menghilang pasca- ledakan yang mengguncang Beirut, Lebanon, pada Selasa (4/8/2020).

Hal itu disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Lebanon pada Sabtu (8/8/2020) sebagaimana dilansir dari Arab News.

Saat ini, jumlah korban meninggal dilaporkan sebanyak 154 orang dengan 25 jenazah di antaranya belum dapat diidentifikasi.

Kementerian Kesehatan Lebanon menambahkan 5.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.

Wali Murid di Brebes Justru Minta Anak Belajar di Sekolah

Hujan Badai, Pesawat Jatuh dan Terbagi Dua, 18 Orang Meninggal

PT Liga Enggan Menanggung Akomodasi PSIS Jika Bermarkas di Yogyakarta, Mahesa Jenar Tetap di Citarum

Jajal Olahraga Paralayang di Bukit Watu Kumpul, Bupati Banyumas: Bikin Nagih

Dia antara korban luka-luka itu, sebanyak 25 orang keadaannya kritis sehingga harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

Sukarelawan dan personel tim SAR terus melakukan upaya pencarian dan penyelamatan dalam puing-puing bekas ledakan.

Tim SAR dari beberapa negara telah dikirim untuk mengevakuasi korban di area sekitar pelabuhan yang menjadi pusat ledakan dahsyat itu.

Diberitakan sebelumnya pihak berwenang menduga bahwa ledakan tersebut dipicu oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan selama enam tahun di kawasan pelabuhan.

Rakyat Lebanon, kelompok advokasi, dan para kepala negara asing telah menyerukan penyelidikan internasional atas ledakan itu untuk memastikan independensi hasil penyelidikan.

Sementara itu Presiden Lebanon Michel Aoun mengungkapkan dia sudah tahu tentang keberadaan amonium nitrat sekitar tiga pekan sebelum ledakan di Beirut.

Aoun mengaku, dia sudah mendapatkan informasi itu pada 20 Juli dan mengklaim memerintahkan pejabatnya agar "melakukan apa yang perlu dilakukan".

Amonium nitrat itu sudah berada di sana sejak 2014 sejak disita dari kapal kargo yang berlabuh di pelabuhan Beirut karena masalah teknis.

Pemuda 24 Tahun Cabuli dan Bunuh Anak 8 Tahun, Berdalih Kesal Kepada Orangtuanya

Persiapan Gattuso Jelang Napoli vs Barcelona yang akan Tayang di SCTV Minggu 9 Agustus Dini Hari

Tes Massal Virus Corona, 1 Anggota Dewan dan 2 ASN di Kendal Positif Covid-19

Postingan Korban Pencabulan Viral di Instagram, Polisi Buru Pelaku

Meski begitu, Presiden Lebanon berusia 85 tahun tersebut menyatakan dia tak punya otoritas untuk menangani bahan kimia itu, dan tak tahu harus menaruhnya di mana.

Dalam dokumen yang diungkap, ternyata pihak militer, bea cukai, maupun komisi kehakiman sudah menyuarakan kekhawatiran akan bahan kimia ini selama enam tahun terakhir.

Sejauh ini, tidak ada yang tahu penyebab pasti ledakan.

Tapi Aoun menyatakan pemerintah menginvestigasi kemungkinan seperti dihantam roket atau bom.

Pihak berwajib melakukan penahanan terhadap 16 pejabat pelabuhan buntut insiden tersebut, dan menginterogasi puluhan lainnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "60 Orang Masih Hilang Pasca-ledakan di Beirut, Lebanon"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved