Berita Pendidikan
88 Persen Anak Ingin Kembali Belajar di Sekolah, DP3AKB Jateng Beberkan Alasannya
Kepala DP3AKB Jawa Tengah, Retno Sudewi mengatakan, sekira 88 persen siswa di Jawa Tengah memilih belajar di sekolah dibandingkan di rumah.
Penulis: Dhian Adi Putranto | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pandemi Covid-19 membuat anak-anak terpaksa menjalani pembelajaran jarak jauh atau melalui metode daring.
Namun ternyata tidak semua anak menikmati belajar dari rumah.
Tak sedikit pula para siswa justru tertekan karena pembelajaran dari rumah.
• Serapan Anggaran Baru 27 Persen, Pemprov Jateng Didesak Makin Agresif Belanjakan APBD Tahun Ini
• Mengenang Masa Kejayaan Pabrik Tembakau di Purbalingga, Upah Karyawan GMIT Lebihi Gaji PNS
• Cerita Kerinduan Hari Nur Yulianto, Nantikan Muhammad Yunus Merumput Lagi Bersama PSIS Semarang
• Tambah Daya Jadi 2.200 VA Cuma Bayar Rp 170.845, Ini Penjelasan Lengkap PLN
Kepala DP3AKB Jawa Tengah, Retno Sudewi mengatakan, sekira 88 persen siswa di Jawa Tengah memilih belajar di sekolah dibandingkan di rumah.
"Ada banyak jawaban dari anak-anak."
"Salah satunya karena belajar di sekolah, ada temannya."
"Sehingga mereka bisa belajar bersama-sama," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (23/7/2020).
Namun menurutnya, anak-anak juga memahami bahwa belajar di sekolah yang membuat orang banyak berkumpul menjadi satu lokasi mempunyai risiko besar penularan Covid-19.
Di sisi lain, anak-anak juga memahami bahwa pencegah penularan Covid-19 bisa menggunakan alat pelindung diri (APD).
Seperti masker, face shield dan sarung tangan, menjaga jarak, serta membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Kami pun juga berupaya untuk agar anak-anak tidak bosan di rumah."
"Misal dengan mengadakan berbagai kegiatan seperti workshop online membuat video hingga lomba membuat video singkat dari aplikasi Tiktok."
"Tujuannya anak-anak tetap bersemangat di rumah dan tidak stress," tambahnya.
Sementara itu, perwakilan orangtua siswa di Semarang, Amini menuturkan, pembelajaran di rumah secara daring, tak hanya anak yang stres tetapi juga orangtua.
Hal itu karena tidak semua materi yang disampaikan kepada siswa melalui daring dapat dipahami oleh siswa.