Berita Nasional

Nasib Siswi Berprestasi dengan 700 Piala, Arista Gamang Antara Putus Sekolah atau Masuk SMA Swasta

Nasib Siswi Berprestasi dengan 700 Piala, Arista Gamang Antara Putus Sekolah atau Masuk SMA Swasta

Warta Kota/Rangga Baskoro
Aristawidya Maheswari saat menunjukkan salah satu karyanya yang terpilih dipajang di Galeri Nasional pada Juli 2019. Kini, Arista gamang antara masuk SMA swasta atau putus sekolah, setelah ia gagal dalam PPDB SMA 2020 DKI Jakarta. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Punya segudang prestasi dan meraih 700-an piala, nyatanya tetap membuat Aristawidya Maheswari (15), tak bisa masuk sekolah menengah atas (SMA) negeri manapun di Jakarta.

Bahkan, kini dihadapkan pada dua pilihan yang baginya cukup sulit: sekolah di SMA swasta, atau putus sekolah.

Memang, sejak gagal dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMA negeri, bocah yatim piatu tersebut belum mengambil keputusan atas dua piliha di atas, ia masih gamang.

Nenek Arista, Siwi Purwanti (60) mengatakan, saat ini Arista hanya berkegiatan di rumah dan melakukan beberapa hobinya.

Raih 700 Piala dan Segudang Prestasi, Siswi Ini Tak Diterima di SMA Manapun, Hanya Berharap Ini

Cara Mudah Cek Kepesertaan Bansos Covid-19 Melalui Aplikasi, Simak Petunjuk Berikut Ini

Masih Nekat Tarik Pungutan ke Wali Murid, Bupati Banyumas: Si Kepala Sekolah Bakal Kami Copot

Viral, Kakek Pemerkosa Bocah Tak Dijebloskan ke Penjara Hanya Jadi Tahanan Kota, Apa Kata Polisi?

"Sekarang paling di rumah melukis, main, pokoknya mengerjakan yang hobi-hobinya dia."

"Pertama melukis, main gitar, main musik, terus dia memang beberapa waktu lalu beberapa kali main panahan," ucap Siwi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/7/2020).

Siwi mengaku, kegiatan Arista untuk mengajar di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) saat ini belum bisa dilakukan karena pandemi Covid-19.

"Belum bisa karena kan kasih pandemi. Kalau RPTRA memang sudah lama dari kelas 7 dia ngajar. Rutin kelas 7 itu ngajar di RPTRA sama yayasan anak anak kurang mampu," kata dia.

Sekolah swasta tawarkan beasiswa

Karena tak terakomodasi pada sistem PPDB tahun ajaran 2020/2021 meski sudah mengikuti berbagai jalur, pilihan Arista saat ini adalah belajar di sekolah swasta.

Siwi menyebutkan, ada dua sekolah swasta yang sudah menghubungi Arista untuk menawarkan beasiswa di sekolah tersebut.

Namun masih dipertimbangkan karena jarak sekolah yang cukup jauh, yakni di Jakarta Barat.

Sedangkan Arista bersama nenek dan kakeknya tinggal di Rusun Jatinegara Kaum, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

"Global Sevilla School sudah menghubungi, cuma waktu itu kan ditawarinya yang di Jakarta Barat. Nah Jakarta Barat terlalu jauh. Kemarin sempat yang di Pulomas cuma saya belum menghubungi lagi," tuturnya.

Selain jarak yang cukup jauh, Siwi berujar, Arista merasa kurang percaya diri lantaran sekolah swasta yang menawarinya beasiswa adalah sekolah dengan standar "kelas atas".

"Cuma Arista belum tau pasti kemarin baru ditanya tanya 'dek mau enggak di Global Sevilla' jawabnya 'itu sekolah terlalu bagus buat aku' katanya. Itu sekolahnya orang kelas atas banget," kata Siwi menirukan obrolannya dengan Arista.

Selain Global Sevilla School, sekolah lain yang menawarkan beasiswa kepada Arista, IDN Boarding School.

Namun sekolah tersebut masih dipertimbangkan oleh Arista.

"Belum tau juga kita kan mesti lihat banyak pertimbangan karena masuk sekolah bukan hanya ada yang nawarin masuk sekolah ini itu jadi masih banyak yang dipertimbangkan dan dipikirkan," ucapnya.

Tawaran Pemprov DKI berlaku untuk umum

Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Syaefuloh sebelumnya mengatakan bahwa akan membantu Arista untuk masuk SMA swasta karena tak diterima di SMA Negeri.

Namun, menurut Siwi, bantuan tersebut memang bersifat umum kepada semua anak, bukan hanya Arista.

"Kalau swasta penawaran Pemprov buat umum. Waktu itu direncanakan yang enggak diterima dimasukin swasta," terangnya.

Tawaran itu tak menjamin Pemprov DKI untuk menanggung semua biaya Arista di sekolah swasta.

"Iya memang kita kalau misal Arista dibantu juga enggak lah enggak mungkin karena bukan buat Arista saja," tutup Siwi.

Putus sekolah, mengajar lukis

Aristawidya Maheswari sempat mengungkapkan memilih putus sekolah setelah tidak terakomodasi oleh sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jakarta 2020.

"Agak sedih juga, tapi karena memang tidak masuk karena nilai. Nilai aku tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah juga. Udah coba ke delapan sekolah, tapi tidak dapat juga," kata Arista saat dijumpai di kediamannya, Rusun Jatinegara Kaum, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Rabu (8/7/2020), seperti dikutip Antara.

Rabu (8/7/2020) pukul 15.00 WIB adalah batas waktu penerimaan sekolah negeri melalui jalur terakhir berupa "bangku sisa" yang dialokasikan dari peserta PPDB yang tidak mendaftar ulang serta siswa tidak naik kelas.

Meski faktor usia tidak lagi dipertimbangkan dalam jalur terakhir itu, perempuan peraih lebih dari 700 penghargaan seni lukis tingkat daerah dan nasional itu kalah bersaing dalam perolehan pembobotan nilai.

Alumnus SMPN 92 Jakarta itu hanya mengumpulkan total nilai 7.762,4 berdasarkan akumulasi nilai rata-rata rapor 81,71 dikalikan nilai akreditasi 9,5 poin.

"Pada jalur terakhir ini aku mencoba di SMAN 12, 21, 36, 61, 53, 59, 45, dan 102. Tapi, rata-rata yang diterima nilainya 8.000-an," katanya.

Arista memutuskan untuk putus sekolah pada tahun ini. Kondisi itu akan dimanfaatkan untuk fokus mengajar lukis di sejumlah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta Timur.

Gagal PPDB berulang kali

Sebelumnya, Siwi sudah mendaftarkan cucunya melalui beberapa jalur PPDB, mulai dari jalur prestasi non-akademik, afirmasi untuk pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP), zonasi, hingga prestasi akademik.

Namun, Arista selalu gagal meraih kursi sekolah negeri melalui jalur-jalur PPDB tersebut.

Saat mengikuti jalur prestasi non-akademik, Arista gagal karena prestasinya diraih saat ia duduk di bangku sekolah dasar (SD). Padahal, Arista banyak meraih prestasi di bidang seni lukis.

Total, ada 700 piala yang telah diraihnya selama mengikuti lomba seni lukis. Penghargaan yang pernah ia raih, antara lain juara III lomba cipta seni pelajar tingkat nasional dan juara I festival lomba Kementerian Perhubungan.

"Kalau jalur prestasi syaratnya penghargaan yang diraih maksimal berjarak dua tahun saat dia (Arista) mendaftar PPDB. Karena prestasinya pas SD, jadi enggak bisa," kata Siwi saat dikonfirmasi, Sabtu (5/7/2020).

Sementara itu, pada jalur afirmasi, Arista tak lolos lantaran faktor usia. Banyak calon siswa yang diterima berusia lebih tua dibanding Arista. Siwi kemudian mendaftarkan Arista melalui jalur zonasi.

Namun, lagi-lagi Arista gagal karena faktor usia.

"Saya nyoba (mendaftarkan Arista di) enam sekolah, pertama di SMAN 12, 61, dan 21, gagal karena usia."

"Dicoba lagi ke SMAN 36, 59, dan 53, sama tidak keterima, kalah usia," ungkap Siwi.

Tak patah arang, Siwi terus mengupayakan Arista agar bisa bersekolah di SMA negeri. Siwi mendaftarkan Arista melalui jalur prestasi akademik. Akan tetapi, upayanya juga gagal karena faktor usia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Dilema Arista Setelah Gagal PPDB Jakarta, antara Masuk Swasta atau Putus Sekolah...

Adik Ipar Ganjar Tantang Petahana dalam Pilbup Purbalingga, PKB Berikan Rekomenadsi Paslon Oji-Jeni

Begini Cara KPU Purbalingga Fasilitasi Pasien Covid-19 yang Dikarantina Tetap Nyoblos saat Pilbup

Gahar! Penampakan Maung 4x4, Rantis Produksi Pindad Seharga Rp600 Juta, Prabowo Pesan 500 Unit

Pasar Wage Purwokerto Ditutup 3 Hari, 5 Pedagang Positif Covid-19, Diketahui saat Tes Swab Massal

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved