Teror Virus Corona
Ratusan Orang Jemput Paksa Belasan Pasien Covid-19 di Blora, Ganjar Minta Pemkab Pastikan Ini
Ratusan Orang Jemput Paksa Belasan Pasien Covid-19 di Blora, Ganjar Minta Pemkab Pastikan Ini
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: yayan isro roziki
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta Pemkab Blora memastikan belasan pasien positif Covid-19 dari klaster Temboro, yang dijemput paksa keluarga itu, tetap melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Sehingga, orang di lingkungan sekitar pasien tidak tertular corona.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, menyesalkan aksi penjemputan paksa belasan pasien Covid-19 oleh seraturan orang, di Blora.
Diketahui, aksi jemput paksa belasan pasien positif corona dari klaster Temboro itu terjadi di sebuah klinik di Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Selasa (16/6/2020) kemarin.
Pascainsiden tersebut, Ganjar meminta Pemkab Blora memastikan bahwa para pasien Covid-19 itu melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Serta, pasien dan keluarga mematuhi protokol kesehatan Covid-19 sebagaimana yang telah ditetapkan.
• Cara Mudah Cek Kepesertaan Bansos Covid-19 Melalui Aplikasi, Simak Petunjuk Berikut Ini
• Santri Temboro Positif Corona Orangtua Tuduh Bupati Zalim, Kaji Mbing: Klaster Ini Susah Dievakuasi
• Celeng Aneh Milik Warga Banyumas Viral, Suka Makan Nasi Hangat Roti dan Kopi, Kaki Berjari Panjang
• Kabur Kangen Keluarga, Kisah Santri Positif Covid-19 Klaster Temboro Asal Blora
"Kemarin saya kontak pak Bupati dan Wakil Bupati. Ada informasi keluarga pasien tidak sabar karena lama tidak sembuh."
"Karena mungkin menganggap mereka orang tanpa gejala (OTG), maka keluarga memaksa agar pasien dibawa pulang," kata Ganjar dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6/2020).
Akhirnya, kata dia, disepakati pasien dibawa pulang.
Namun, ia meminta tetap dilakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
Dengan prosedur itu, pasien positif corona tersebut tidak menjangkiti warga lainnya.
Pemkab Blora harus memastikan ada pihak yang bertugas menangani itu.
"Apakah mau (pengawasan) jarak jauh, atau pengawasan dititipkan pada front liner kesehatan terdekat, Puskesmas misalnya untuk terus menyampaikan perkembangan," tandasnya.
Pengawasan, lanjutnya penting agar masyarakat tidak menganggap remeh.
Sebab, meskipun OTG, mereka sedang terjangkit, sehingga harus diberikan perawatan sesuai protokol kesehatan.
"Ini sakit lho ya, sebab ada yang punya persepsi ini tidak apa-apa, kemudian cuek saja. Kita memang perlu edukasi agar literasi masyarakat semakin tumbuh," ujarnya.
Politikus PDI-Perjuangan itu sebenarnya menyesalkan kejadian penjemputan paksa itu.