Berita Jateng

Isolasi Mandiri dan Berangkat Bersama Jadi Syarat Santri Kembali ke Pesantren di Jateng

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana menerapkan new normal di bidang keagamaan termasuk di pondok pesantren.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: Rival Almanaf
TRIBUN BANYUMAS/MUHAMMAD YUNAN SETIAWAN
Para santri naik ke bus, sebelumnya mereka juga disemprot disinfektan, Senin (30/3/2020). Itu adalah kloter terakhir santri Ponpes Al Ihya Ulumaddin, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap yang dipulangkan. 

TRIBUNBANYUMAS.COM,SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana menerapkan new normal di bidang keagamaan termasuk di pondok pesantren.

Jumlah santri yang mencapai puluhan ribu di ratusan bahkan ribuan pondok pesantren menuntut pemerintah harus hati-hati dalam memberikan lampu hijau pada para santri untuk kembali ke pesantren.

Jika tak hati-hati, berkumpulnya para santri tersebut memiliki risiko tinggi penyebaran virus corona Covid-19. Seandainya tidak diatur dengan protokol kesehatan ketat, bisa-bisa pondok pesantren menjadi klaster baru penyebaran wabah.

41 Napi Bandar Narkoba Dipindahkan ke Nusakambangan, Ditempatkan di Lapas Super Maximun Security

Youtuber Sampah Ferdian Paleka Bebas, Netizen Prediksi Followernya Akan Semakin Banyak

7 Barang yang Harus Ada di Tas Kamu untuk Cegah Virus Corona Ketika di Luar Rumah Era New Normal

Tidak Masuk Kuota Rapid Test, Warga Gresik Pukuli Tenaga Medis

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Tengah pun berdiskusi mencari solusi bersama Pemprov Jateng dan meminta pendapat para ulama.

"Saat ini baru konsep terkait beberapa aturan new normal di pondok pesantren yang nantinya akan diedarkan ke pondok pesantren. Tapi ini masih konsep," kata Plt Kepala Kanwil Kemenag Jateng, Moh Ahyani, Jumat (5/6/2020).

Sejumlah aturan yang dirancang bagi setiap santri yang hendak kembali ke pondok pesantren antara lain para santri diminta memeriksakan kondisi kesehatannya.

Pengecekan kesehatan Covid-19 telah dilakukan dengan dibuktikan surat kesehatan dari pemerintah setempat.

Kemudian, kata dia, pemberangkatan santri ke pondok juga akan diatur secara bebarengan dengan menggunakan moda transportasi bus, misalnya.

Pemberangkatan kolektif itu dinilai bisa meminimalkan penularan serta lebih mudah dilakukan pengaturan. Santri tidak diperkenankan menggunakan transportasi umum lantaran dikhawatirkan melakukan kontak dengan warga terpapar Covid-19 di perjalanan.

"Diharapkan pemerintah kabupaten/kota mampu untuk memberikan fasilitas bus untuk para santri yang akan kembali ke pondok," ujarnya.

Selain itu, lantaran santri datang dari berbagai daerah, serta dikhawatirkan ada yang terkena, sehingga banyumas.tribunnews.com/tag/isolasi-mandiri' title='isolasi mandiri'>isolasi mandiri akan dilakukan pengelola pondok.

Sempat Berpikir Mudah, Shin Tae-yong Mengaku Kesulitan Melatih Timnas Indonesia

Peti Mati Jenazah Covid-19 Terjatuh ke Liang Lahat, Tim Gugus Tugas Minta Maaf

Shalat Jumat di Masjid Sudah Diperbolehkan, Begini 9 Protokol Kesehatan yang Harus Ditaati

" Santri akan dikarantina dulu di pondok selama 14 hari. Tidak langsung belajar, setelah karantina selesai baru melakukan pembelajaran. Itu agar para santri sehat," tandasnya.

Tak kalah penting, tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dalam setiap kegiatan, memakai masker, mencuci tangan dalam beraktivitas di pondok pesantren.

Penerapan new normal pondok pesantren di Jateng itu akan dilakukan uji coba terlebih dahulu.

" Jateng uji coba dulu. Sementara, baru akan diberlakukan untuk lokal dulu, yakni santri dari Jateng yang akan mondok di pondok pesantren di Jateng. Untuk luar daerah, masih dilakukan pembahasan," Ahyani menambabkan.(mam)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved