Berita Banjarnegara
Mengapa Kasus Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Banjarnegara Tinggi? Ternyata Ini . . .
Mengapa Kasus Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Banjarnegara Tinggi? Ternyata Ini . . . Kabupaten banjarnegara belum ditetapkan sebagai layak anak
Penulis: khoirul muzaki | Editor: yayan isro roziki
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Angka kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, di Kabupaten Banjarnegara cukup tinggi.
Di awal tahun 2020 ini saja, Polres Banjarnegara telah mengungkap empat kasus pelecehan seksual terhadap anak. Satu di antara kasus itu bahkan berujung tragis.
Ma'ruf (13), siswa SDN Prigi ditemukan tewas ditimbun sampah di kebun durian milik warga Desa Prigi, Sigaluh.
Ironisnya, selain dibunuh, korban juga diduga mengalami pelecehan seksual oleh tersangka, KR (34) yang tak lain tetangganya sendiri.
• Soal Sucipto, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Donny Gahral Adian: Rektor Unnes Terburu-buru
• Knalpot Mobil Keluarkan Air di Pagi Hari, Normalkah?
• Takjub Lihat Kemewahan Rumah Nia Ramadhani, Tya Ariestya: Takut Nyasar
• Firasat Ayah Korban Tenggelam di Nusakambangan, Khawatir saat Dipamiti - Kembaran Pecahkan Piring
Tahun 2019 lalu, Polres pun mengungkap 13 kasus yang terkait dengan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), meski menurun dari tahun 2018 sebelumnya sebanyak 22 kasus, angka ini masih cukup tinggi.
Ini barulah kasus yang terungkap atau dilaporkan ke pihak Kepolisian sehingga ditindaklanjuti. Kasus kejahatan terhadap anak yang belum terungkap atau tidak dilaporkan bisa jadi lebih banyak.
Anggota DPRD Banjarnegara Lilis Ujianti mengatakan, kenyataanya, tidak semua korban berani mengadukan pelecehan yang dialami ke pihak berwajib.
Alih-alih melapor ke polisi, korban bahkan malu untuk terang-terangan kepada orang terdekat atau orang tua.
• Hati-Hati! Jangan Instal Aplikasi Berikut Jika Tak Ingin Data Pribadi Anda Dicuri
Ini tak lepas dari kultur masyarakat yang memberikan stigma terhadap korban kejahatan seksual.
Alih-alih mendapat perlindungan, anak korban kejahatan seksual bahkan semakin menderita karena label negatif yang disandangnya.
"Misalnya ada kekhawatiran ketika mengadu, masyarakat akan tahu bahwa anak itu pernah diperkosa. Sehingga dia memilih merahasiakan kasusnya sendiri," katanya.
• Muncul Api dan Buih di Bekas Bukit yang Longsor, Kades: Rasanya Asin dan Terakhir Asam
Pengawasan orang tua dan lingkungan terhadap aktivitas anak menjadi penting untuk menghindarkan mereka dari ancaman kejahatan.
Peran orang tua, menurut dia, sangat dibutuhkan dalam upaya perlindungan hak anak. Keterbukaan anak terhadap orang tuanya akan terjadi jika terjalin kedekatan di antara keduanya, termasuk ketika anak mengalami masalah kekerasan seksual.
"Orang tua kurang menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya. Padahal pergaulan anak di era medsos semakin tak terkontrol," katanya.
• Wawancara Khusus dengan Sucipto Hadi, Dosen Unnes yang Dibebastugaskan oleh Rektor
Kabupaten Banjarnegara ternyata menjadi satu di antara tiga kabupaten atau kota di Jawa Tengah yang belum memenuhi syarat kota atau kabupaten layak anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/ilustrasi-kekerasan-pelecehan-dan-kejahatan-seksual-terhadap-anak_2.jpg)