Selasa, 7 April 2026

Opini

Soemitronomics Yang Benar

Soemitronomic. Ketika energi fosil (BBM) mahal membuat harga pangan melonjak, rakyat miskin tidak akan mampu beli makanan bergizi.

Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/DOK. PRIBADI
BEDAH BUKU - Tahun 1970-an, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo merancang konsep "Ekonomi Pancasila" yang menempatkan kesejahteraan rakyat—terutama di pedesaan—sebagai tujuan utama pembangunan.  

Ringkasan Berita:
  • Soemitronomic. Ketika energi fosil (BBM) mahal membuat harga pangan melonjak—cabai Rp 150.000/kg bisa jadi Rp 300.000, ayam Rp 150.000/kg—rakyat miskin tidak akan mampu beli makanan bergizi. Malnutrisi meningkat, produktivitas turun, generasi mendatang stunting.
  • MBG adalah "energy subsidy" dalam bentuk berbeda.
  • Alih-alih subsidi BBM Rp 500 triliun yang sebagian besar dinikmati kelas menengah-atas (pemilik mobil/motor banyak)

Oleh: Anang Fahmi (Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto)

TRIBUNBANYUMAS.COM - Tahun 1970-an, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo merancang konsep "Ekonomi Pancasila" yang menempatkan kesejahteraan rakyat—terutama di pedesaan—sebagai tujuan utama pembangunan. 

Kini, 50 tahun kemudian,  Presiden Prabowo Subianto, menghadapi ujian terberat dari filosofi sang ayah: bagaimana melindungi 140 juta rakyat miskin dan rentan ketika perang Iran-Israel mengancam menaikkan BBM dari Rp 12.300 menjadi Rp 32.000+ per liter?

Jawaban Prabowo: program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)—dua kebijakan yang jika dianalisis dengan framework Soemitronomic, adalah benteng pertahanan terakhir rakyat kecil menghadapi tsunami krisis energi global.

Soemitronomic: Ekonomi untuk Rakyat, Bukan Pasar

Soemitro Djojohadikusumo dalam magnum opus-nya tentang ekonomi Pancasila menegaskan: tujuan ekonomi bukan maksimalisasi profit atau efisiensi pasar semata, melainkan kesejahteraan seluruh rakyat—terutama yang paling lemah.

Dalam bahasa fisika, ini adalah prinsip "minimum potential energy state untuk maximum population"—sistem ekonomi harus dirancang agar energi (resources) terdistribusi untuk memaksimalkan kesejahteraan mayoritas, bukan terkonsentrasi di elite.

Kontras dengan ekonomi neoliberal yang membiarkan mekanisme pasar menentukan alokasi resources, Soemitronomic mengajarkan: negara harus intervensi aktif untuk memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi, terutama saat krisis.

Krisis energi akibat perang Iran-Israel adalah test case sempurna. Jika pemerintah lepas tangan dan biarkan harga BBM naik mengikuti pasar global (Rp 32.000-43.600 seperti negara ASEAN lain), 70 persen rakyat Indonesia akan jatuh miskin. Inflasi 20 % +, daya beli hancur, kelaparan massal. Dalam bahasa termodinamika: sistem ekonomi akan collapse karena "thermal shock"—perubahan temperature (harga energi) terlalu cepat.

Baca juga: Lah Kok Prabowonomics Melawan Soemitronomics?

MBG: Buffer Energi Biologis Saat Energi Fosil Mahal

Program Makan Bergizi Gratis adalah aplikasi brilian dari prinsip 

Soemitronomic. Ketika energi fosil (BBM) mahal membuat harga pangan melonjak—cabai Rp 150.000/kg bisa jadi Rp 300.000, ayam Rp 150.000/kg—rakyat miskin tidak akan mampu beli makanan bergizi. Malnutrisi meningkat, produktivitas turun, generasi mendatang stunting.

MBG adalah "energy subsidy" dalam bentuk berbeda. Alih-alih subsidi BBM Rp 500 triliun yang sebagian besar dinikmati kelas menengah-atas (pemilik mobil/motor banyak), MBG Rp 71 triliun per tahun langsung menyasar 82,9 juta anak dan ibu hamil/menyusui—mereka yang paling vulnerable terhadap krisis pangan.

Dalam bahasa fisika: MBG adalah "guaranteed minimum biological energy intake" untuk mencegah collapse generasi mendatang. Anak yang stunting hari ini adalah SDM yang hancur 20 tahun ke depan. Ini bukan charity—ini investasi ketahanan nasional jangka panjang.

Yang brilian: MBG dirancang berbasis pangan lokal. Bukan impor gandum atau susu formula, tapi nasi, jagung, ikan, sayur, buah lokal. Ini menciptakan "multiplier effect"—uang MBG mengalir ke petani lokal, nelayan, pedagang pasar, meningkatkan ekonomi desa. Dalam ekonomi Soemitro: "pembangunan dari bawah" bukan "trickle-down dari atas".

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Jazirah Arabiah di Mata Rogan

 

Ketika Negara Kehilangan Realitasnya

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved