Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Soemitronomics Yang Benar

Soemitronomic. Ketika energi fosil (BBM) mahal membuat harga pangan melonjak, rakyat miskin tidak akan mampu beli makanan bergizi.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/DOK. PRIBADI
BEDAH BUKU - Tahun 1970-an, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo merancang konsep "Ekonomi Pancasila" yang menempatkan kesejahteraan rakyat—terutama di pedesaan—sebagai tujuan utama pembangunan.  

Jujur harus diakui: MBG Rp 71 triliun/tahun dan KDMP yang baru tahap rintisan tidak cukup untuk cover full impact krisis energi skala catastrophic. Jika BBM benar-benar Rp 40.000-50.000/liter, inflasi 20 % +, ekonomi kolaps, MBG hanya bisa selamatkan sebagian kecil penduduk.

Tapi dalam prinsip Soemitro: "protect the weakest first". Alih-alih subsidi BBM Rp 500 triliun yang benefit kelas menengah atas, better alokasi Rp 71 triliun untuk MBG yang targeted ke 82,9 juta jiwa paling rentan plus KDMP untuk empowerment ekonomi lokal.

Baca juga: Jeritan UMKM Hadapi Lonjakan Harga Plastik: Pilih Naikkan Harga atau Kurangi Porsi

Ini adalah choice dalam kondisi keterbatasan ekstrem—triage dalam bahasa medis. Tidak semua bisa diselamatkan, prioritaskan yang most critical dan most savable. MBG menyelamatkan generasi mendatang (anak-anak) dari stunting, KDMP membangun resilience jangka panjang ekonomi desa.

Pelajaran Soemitro: Ekonomi Bukan Angka, tapi Manusia

Prof. Soemitro selalu menekankan: ekonomi adalah tentang manusia, bukan GDP atau inflasi atau angka-angka statistik. Ketika ekonom neoliberal bilang "subsidi BBM inefficient, better let market decide", Soemitro akan tanya: "Efficient untuk siapa? Market decide apa—bahwa rakyat miskin mati kelaparan karena tidak punya daya beli?"

Perang Iran-Israel dan krisis energi global membuktikan Soemitro benar. Market gagal. Harga minyak ditentukan bukan oleh supply-demand rasional, tapi oleh geopolitik, spekulasi, dan power play antara superpower. Rakyat kecil jadi korban dari permainan yang tidak mereka mulai dan tidak bisa mereka kontrol.

MBG dan KDMP adalah jawaban Soemitronomic: negara harus hadir, intervensi, protect yang paling lemah. Bukan dengan retorika kosong, tapi dengan program konkret yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari—makan siang anak sekolah, akses modal koperasi desa, training produksi pangan lokal.

Baca juga: Evakuasi KA Bangunkarta di Stasiun Bumiayu: Petugas Gunakan Las untuk Potong Rangkaian Gerbong

Apakah ini akan cukup? Tidak, jika krisis benar-benar catastrophic level. Tapi ini adalah yang bisa dilakukan dengan resources terbatas dan waktu mendesak. 
MBG-KDMP adalah penyesuaian layar ala Soemitronomic—melindungi rakyat kecil dengan cara yang realistis, targeted, dan sesuai dengan nilai gotong royong dan keadilan sosial Pancasila yang diajarkan Soemitro 50 tahun lalu.

Sejarah akan menilai: apakah Prabowo berhasil mengaplikasikan filosofi Soemitronomic menghadapi krisis terbesar sejak 1998? Atau apakah MBG-KDMP hanya plester di luka tembak? Kita akan tahu dalam 6-12 bulan ke depan.(*)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved