Senin, 8 Juni 2026

Berita Pendidikan

Penelitian Dosen SCU Semarang: Masyarakat Adat Paling Rentan Kehilangan Ruang Hidup akibat Iklim

Masyarakat adat dinilai menjadi kelompok paling rentan kehilangan ruang hidup sekaligus identintas budaya di tengah ancaman perubahan iklim.

Tayang:
Tribun Banyumas/Dol Pribadi Retang Wohangara
PENELITIAN - Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang B Retang Wohangara (Kanan) saat berada di salah satu lokasi penelitian di Sumba Timur, beberapa waktu lalu. 

Ringkasan Berita:
  • Masyarakat adat dinilai menjadi kelompok paling rentan kehilangan ruang hidup sekaligus identitas budaya di tengah ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga ekspansi ekonomi ekstraktif.
  • Meski begitu, kuatnya jejaring sosial menjadi pelindung dan menopang ketangguhan budaya mereka.
  • Hal ini menjadi temuan dosen SCU Semarang terhadap masyarakat adat di Sumba Timur.

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Masyarakat adat dinilai menjadi kelompok paling rentan kehilangan ruang hidup sekaligus identitas budaya di tengah ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga ekspansi ekonomi ekstraktif.

Isu tersebut diangkat oleh dosen Fakultas Bahasa dan Seni, Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang B Retang Wohangara, dalam disertasi doktoralnya berjudul Model Ketangguhan Budaya dan Pengetahuan Ekologis Tradisional: Pengembangan dan Penerapan Indikator Kualitatif di Sumba Timur.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana komunitas tradisional di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mempertahankan budaya dan pengetahuan ekologis mereka di tengah tekanan global, perubahan sosial, dan krisis ekologis yang terus berkembang.

Dalam penelitiannya, Retang menyusun indikator kualitatif Ketangguhan Budaya (KB) yang meliputi Identitas dan Pewarisan Budaya, Kapasitas Adaptasi dan Inovasi, Kohesi dan Jejaring Sosial, Tata Kelola Sumber Daya Alam Berbasis Pengetahuan Ekologis Tradisional (PET), Institusi dan Kepemimpinan Budaya, serta Interaksi dengan dan Dukungan Kekuatan Eksternal.

Baca juga: Pembatasan Medsos Anak, Psikolog SCU: Perlu, tapi Penguatan Kontrol Diri Lebih Penting

Keenam indikator tersebut digunakan untuk menakar ketangguhan tiga komunitas tradisional di Sumba Timur, yakni Kamanggih, Mondu, dan Kambata Wundut.

"Masyarakat adat memiliki hubungan historis, kultural, dan spiritual yang sangat kuat dengan bumi, air, hutan, serta tanah leluhur mereka. Alam tidak hanya dipandang sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga sumber identitas, spiritualitas, nilai budaya, hingga keberlanjutan kehidupan lintas generasi," katanya di Gedung Teater Thomas Aquinas Lantai 3 Kampus SCU Bendan, Kamis (21/5/2026).

Karena itu, kerusakan lingkungan dinilai bukan sekadar persoalan hilangnya sumber daya alam, tetapi juga ancaman terhadap eksistensi budaya dan cara hidup masyarakat tradisional.

Penelitian ini juga berangkat dari kenyataan bahwa kajian mengenai ketangguhan budaya, selama ini masih bersifat konseptual dan belum memiliki indikator kualitatif yang operasional untuk penelitian empiris.

Melalui disertasi tersebut, Retang merumuskan model ketangguhan budaya berbasis sintesis perspektif Sistem Sosial-Ekologis, Pengetahuan Ekologis Tradisional, dan Ekologi Politik.

Jejaring Sosial Pelindung Budaya

Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa kohesi dan jejaring sosial menjadi pilar paling kuat dalam menopang ketangguhan budaya masyarakat tradisional Sumba Timur.

Nilai solidaritas seperti "ta pa kalembingu" atau "kita berkeluarga", sistem kekerabatan kabihu, hingga praktik gotong royong menjadi fondasi penting keberlanjutan komunitas.

Selain itu, identitas budaya masyarakat Sumba disebut tetap terjaga melalui agama Marapu, bahasa lokal Kambiara, ritual adat, tradisi lisan, seni tari, hingga tenun ikat.

Budaya Sumba juga dinilai terus beradaptasi melalui inovasi kreatif, seperti penggunaan media digital, revitalisasi budaya melalui sekolah adat, hingga festival budaya.

Dalam aspek ekologis, penelitian tersebut menegaskan bahwa Pengetahuan Ekologis Tradisional masyarakat Sumba mengandung prinsip keberlanjutan, resiprositas, dan penghormatan terhadap alam.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved