Buntut Bullying MTs Larangan, Kemenag Brebes Tekankan Kurikulum Cinta
Kemenag Brebes gagas Kurikulum Berbasis Cinta dalam seminar di Ponpes Al Hasaniyyah Larangan untuk tekan kasus bullying santri, Sabtu (23/5).
Penulis: Wahyu Nur Kholik | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Kasus bullying fisik dan verbal di lingkungan madrasah Brebes, seperti di MTs Kecamatan Larangan, memicu keresahan psikologis santri.
- Kemenag Brebes bersama Ponpes Al Hasaniyyah menggelar seminar nasional penguatan motivasi untuk kepala madrasah se-Kabupaten Brebes.
- Pengasuh ponpes menyoroti pentingnya pembenahan pola kepemimpinan madrasah agar mengadopsi model pesantren yang humanis tanpa kekerasan melalui Kurikulum Berbasis Cinta.
TRIBUNBANYUMAS.COM, BREBES - Peristiwa perundungan (bullying) di lingkungan madrasah hingga saat ini terbukti masih menjadi momok yang menakutkan di dalam dunia pendidikan tanah air.
Aksi saling mengejek antar-teman, perundungan fisik secara langsung, hingga lontaran kekerasan verbal yang kerap kali dianggap sebagai sekadar bahan bercandaan oleh para santri, nyatanya dapat meninggalkan bekas luka psikologis yang mendalam bagi korbannya.
Kondisi memprihatinkan ini seperti yang sempat terjadi pada beberapa bulan lalu, di mana sebuah aksi dugaan bullying pecah di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di wilayah Kecamatan Larangan, yang hingga saat ini kasus hukumnya dilaporkan masih terus bergulir di tingkat daerah.
Baca juga: Insiden Anak Terbakar di Batang saat Bermain Merpati, Ada Dugaan Bullying
Sebagai bentuk ikhtiar nyata demi mencegah meluasnya praktik bullying di lingkungan sekolah, pihak Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes bersama Pondok Pesantren Al Hasaniyyah Kedawon, Kecamatan Larangan kompak menggelar kegiatan Seminar Nasional Pendidikan dan Penguatan Motivasi Kinerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), dan Aliyah (MA) baik negeri maupun swasta se-Kabupaten Brebes pada Sabtu (23/5/2026).
Salah satu pembicara utama sekaligus selaku Pengasuh Ponpes Al Hasaniyyah Kedawon, Dr. KH. Nuridin Syamsudin memberikan catatan kritis terkait adanya pola kepemimpinan di tingkat madrasah yang dirasa harus segera dibenahi. Menurut pandangannya, sosok kepala sekolah dan segenap guru madrasah memegang peran utama sebagai teladan hidup bagi para siswa. Sebab, anak-anak memiliki kecenderungan kuat untuk meniru apa saja yang mereka lihat di sekitarnya. Ketika ekosistem lingkungan sekolah berhasil dipenuhi oleh sikap saling menghormati, maka potensi munculnya tindakan bullying otomatis dapat ditekan secara perlahan.
Dia juga memberikan penegasan kuat bahwa institusi madrasah memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun fondasi generasi bangsa yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga kokoh dalam aspek akhlak serta spiritualitas.
"Madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi pusat pembentukan karakter, adab, dan peradaban Islam."
"Termasuk saat ini yang sedang menjadi perhatian publik soal kekerasan di kalangan madrasah. Di Brebes harus menjadi madrasah yang sopan, aman nyaman tidak ada kekerasam sekali, itu tujuan kegiatan hari ini," tandasnya di hadapan peserta.
Konsep kurikulum unik ini sengaja menempatkan nilai-nilai kasih sayang, penghormatan, kepedulian sosial, serta rasa kemanusiaan sebagai bagian pilar penting yang tidak terpisahkan dalam proses jalannya pendidikan.
"Kami di Kementerian Agama dalam kondisi sekarang ada penguatan dan penekananan dengan Kurikulum Berbasis Cinta."
"Kurikulum berbasis cinta bukan berarti mengurangi kedisiplinan, melainkan menghadirkan pola pendidikan yang lebih humanis dan menyentuh sisi emosional peserta didik," pungkasnya mengakhiri penjelasan kepada awak media. (Pet)
| Warga Brebes Ditemukan Tewas di Dalam Rumah, Tetangga Curiga Cium Bau Busuk |
|
|---|
| Dilarang Sekolah Unggah ke Medsos, Iuran Laptop SDN 02 Brebes Disorot |
|
|---|
| Target 370 Siswa, Sekolah Rakyat Wlahar Brebes Baru Jaring 165 Anak |
|
|---|
| Kesal Tak Dapat Laptop, Maling Tumpahkan Tinta Printer di SD Brebes |
|
|---|
| Jelang Lulus, Siswa SDN 02 Brebes Harus Bayar Rp435 Ribu. Terbesar untuk Kenang-kenangan Laptop |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260523-ratusan-kepala-madrasah-ikuti-seminar-pendidikan-brebes.jpg)