Pekerja Migran Banyumas

Kisah Yulia Arsa, 15 Tahun Jadi Migran di Hongkong Kini Jadi Benteng Perlawanan Calo di Banyumas

Berbekal pengalaman pahit, Yulia Arsa mendedikasikan hidupnya agar warga desanya tak terjerat jalur ilegal.

TRIBUN BANYUMAS/ PERMATA PUTRA SEJATI
PEKERJA MIGRAN - Yulia Arsa (40), mantan pekerja migran yang pernah bekerja di Hongkong dan Macau selama lebih dari 15 tahun, saat mengajar di rumah pintar yang dikelolanya di RT 3 RW 5, Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Minggu (31/8/2025). Rumah Pintar menjadi tempat belajar bagi anak anak pekerja migran yang ditinggal kerja orangtuanya. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Di balik tenangnya perbukitan Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Yulia Arsa (40) menyimpan cerita panjang tentang perjuangan.

Selama lebih dari 15 tahun ia menjadi pekerja migran di Hongkong dan Macau.

Kini, ia mendedikasikan hidupnya menjadi benteng bagi warga desa agar tidak terjerumus ke jalur pemberangkatan ilegal.

Baca juga: Tren KKN di Malaysia Melanda Mahasiswa Unwahas, Dampingi Anak Buruh Migran

Sejak 2019, Yulia aktif mengelola Rumah Pintar, sebuah sekolah nonformal yang ia rintis untuk mendampingi anak-anak pekerja migran dan memberikan advokasi bagi calon tenaga kerja.

"Saya sudah mengalami semua pahit-manisnya jadi pekerja migran. Jangan sampai warga desa harus jatuh ke lubang yang sama," kata Yulia kepada Tribunbanyumas.com, Minggu (31/8/2025).

Berangkat dengan Usia 'Curian' 

Kisah Yulia dimulai pada 1998.

Di usia 18 tahun, ia berangkat secara legal melalui PT Duta Wibawa.

Namun, ada syarat yang harus ia langgar untuk bisa lolos.

"Zaman dulu, manipulasi umur itu hal biasa. Umur saya dituakan menjadi 19 tahun agar bisa diberangkatkan," ujarnya.

Ia bekerja di sektor informal di Hongkong, kemudian pindah ke Macau dan menjadi kasir di sebuah minimarket.

Gaji pertamanya sekitar 3.550 dolar Hongkong, atau setara Rp7 juta kala itu.

Namun, uang itu tak utuh ia terima karena harus membayar biaya potongan perusahaan.

Membangun Benteng di Desa 

Pengalaman panjang di negeri orang membentuk kepeduliannya.

Ia melihat banyak warga desa yang tergiur berangkat cepat melalui jalur ilegal tanpa bekal pengetahuan yang cukup.

Hal inilah yang mendorongnya mendirikan Rumah Pintar.

Baginya, tempat itu bukan sekadar sekolah, melainkan pusat informasi dan perlindungan awal bagi mereka yang bercita-cita bekerja di luar negeri.

Ia tak ingin generasi muda desanya berangkat tanpa kesiapan atau terjebak bujuk rayu calo.

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved