Berita Jateng
Hadir di Undip, Mantan Aktivis 98 Bela Program Prabowo Meski Ditolak Rakyat
pemerintah menaruh perhatian besar pada perbaikan gizi, pemerataan pendidikan, dan peningkatan kualitas generasi muda.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG- Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, menegaskan bahwa berbagai program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak bisa dipandang sekadar sebagai kebijakan baru, melainkan bagian dari perubahan paradigma dalam mengelola negara.
Hal itu disampaikan Budiman usai menghadiri Dialog Kritis bertajuk "Menuju Indonesia Emas atau Cemas? Membaca Kinerja Pemerintah dan Arah Masa Depan Indonesia" yang digelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip), Jumat (12/6/2026).
Dalam forum yang juga diwarnai kritik dan pertanyaan tajam dari mahasiswa, Budiman menjelaskan bahwa program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Desa Merah Putih merupakan instrumen untuk membangun fondasi baru pembangunan nasional.
"Kalau kita menganggap pemerintahan Pak Prabowo hanya membawa program baru, itu kurang tepat. MBG, koperasi rakyat memang program baru, tetapi program-program itu harus diletakkan dalam rangka paradigma baru," katanya.
Menurut Budiman, selama beberapa dekade Indonesia lebih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah dalam rantai ekonomi global.
Pemerintah saat ini, lanjut dia, ingin mendorong transformasi menuju negara yang mampu menciptakan nilai tambah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan industrialisasi.
Ia menilai pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam.
Karena itu pemerintah menaruh perhatian besar pada perbaikan gizi, pemerataan pendidikan, dan peningkatan kualitas generasi muda.
Sebagai contoh, Budiman menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Sekolah Rakyat di Cibinong yang menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Ada anak tukang becak, anak pemulung, bahkan ada yang empat tahun putus sekolah. Mereka sekarang mendapatkan sekolah berasrama dengan fasilitas yang baik. Ini bentuk keberpihakan kepada masyarakat miskin," ujarnya.
Selain menyoroti pembangunan sumber daya manusia, Budiman juga menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait tekanan ekonomi global yang berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas impor.
Ia mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga daya beli masyarakat, termasuk rencana subsidi kedelai guna menekan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap industri tahu dan tempe.
"Pemerintah terus mencari solusi agar beban masyarakat tidak semakin berat. Salah satu yang sedang dibahas adalah subsidi kedelai agar perajin kecil dan masyarakat tidak terlalu terdampak kenaikan harga akibat dolar," katanya.
Dalam dialog tersebut, Budiman juga merespons berbagai kritik yang disampaikan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi dan tidak perlu dihindari.
"Saya tidak pernah mengatakan kritik itu salah. Kritik mereka valid, kritik mereka legitimate. Yang ingin saya jelaskan adalah apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai pemerintah," ujarnya.
Baca juga: Massa di Tanah Leluhur Presiden Mulai Bergerak, Tuntut Prabowo Gibran Mundur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Budiman-sudjatmiko-di-semarang.jpg)