Berita Wonosobo
Wonosobo Klaim Aman dari KLB Campak di Tengah Lonjakan Kasus Nasional, Ini Datanya!
Dinkes Wonosobo pastikan wilayahnya bebas status KLB campak meski kasus nasional melonjak. Simak data tren kasus dan capaian imunisasinya.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Sejumlah wilayah di Jawa Tengah, telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak
- Di sisi lain, kasus campak di Indonesia mengalami lonjakan pada awal 2026
- Namun, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Wonosobo. Dinas Kesehatan setempat memastikan bahwa hingga saat ini di wilayahnya belum masuk kategori KLB campak.
TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo memastikan wilayahnya hingga saat ini belum masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak.
Meski sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai menetapkan status waspada akibat lonjakan kasus di awal 2026, tren di Wonosobo diklaim masih relatif stabil dan terkendali.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Wonosobo, Heriyono, menegaskan bahwa data lapangan tidak menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan sebagaimana terjadi di wilayah lain.
"Kasus campak kalau untuk kriteria KLB belum terjadi di Wonosobo. Kondisinya tidak semengerikan berita yang ada di luar sana," ungkap Heriyono kepada Tribunjateng.com, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan data medis tiga bulan pertama tahun 2026 (hingga akhir Maret), tercatat ada 120 suspek dengan 5 kasus yang terkonfirmasi positif dari 119 sampel laboratorium.
Baca juga: Cilacap Masuk Daerah KLB: Dinkes KB Banyumas Waspadai Peningkatan Kasus Campak
Angka ini dinilai masih dalam koridor fluktuasi normal jika dibandingkan dengan total 18 kasus positif pada sepanjang tahun 2025 lalu.
Heriyono memaparkan, kunci terkendalinya kasus di Wonosobo adalah tingginya capaian imunisasi pada anak usia sekolah yang menyentuh angka 98 persen.
Imunisasi Bayi Mencapai 85 Persen
Namun, ia memberikan catatan pada imunisasi bayi yang baru mencapai 85 persen.
"Artinya masih ada sekitar 15 persen bayi yang belum terproteksi. Kendalanya klasik, ada orang tua yang khawatir anaknya demam atau rewel setelah imunisasi, hingga faktor keyakinan tertentu," jelasnya.
Pihak Dinkes menekankan bahwa campak, yang menular melalui droplet, sangat berbahaya bagi anak dengan daya tahan tubuh rendah karena risiko komplikasi penyakit penyerta.
Gejala umum yang harus diwaspadai orang tua meliputi demam tinggi yang disertai munculnya bercak merah pada tubuh.
Baca juga: 14 Jam Pascaanjlok, Jalur KA Bumiayu Kembali Normal, Perjalanan Kereta via Stasiun Purwokerto Pulih
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Wonosobo terus melakukan pendekatan edukatif melalui tenaga kesehatan dan perangkat desa tanpa melakukan pemaksaan. Masyarakat diimbau untuk melengkapi jadwal imunisasi anak pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD.
"Layanan penanganan campak tersedia di seluruh Puskesmas. Kami minta masyarakat tidak lengah, tetap terapkan pola hidup bersih dan sehat serta pastikan anak mendapat ASI eksklusif untuk memperkuat imun," pungkasnya. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260406-dinkes-wonosobo.jpg)