Kamis, 30 April 2026

Banyumas

Ahmadiyah Luruskan Pemahaman Status Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

Jemaat Ahmadiyah Jateng 1 meluruskan kesalahpahaman masyarakat terkait status kenabian Mirza Ghulam Ahmad dalam podcast Tribun Banyumas

Tayang:
Tribun Banyumas
PODCAST TRIBUN BANYUMAS: Mubalig Daerah DPW Ahmadiyah Jateng 1, Maulana Nizamuddin Sofa Adnan (tengah), dan Mubalig Lokal Purwokerto Utara, Maulana Muneeb Ahmad (kanan), saat menjadi narasumber dalam podcast bersama Tribun Banyumas yang tayang pada Rabu (4/3/2026). Podcast yang dipandu oleh Content Manager Tribun Banyumas, Rustam Aji, ini membahas dan meluruskan pemahaman publik terkait sosok Mirza Ghulam Ahmad. 
Ringkasan Berita:
  • Jemaat Ahmadiyah kerap dianggab memiliki ajaran menyimpang oleh kelompok Islam lain karena pandangan terhadap pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad.
  • Dalam podcast Tribun Banyumas, tokoh Ahmadiyah menegaskan bahwa mereka tetap meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi).
  • Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai nabi ummati yang sama sekali tidak membawa syariat atau hukum baru, melainkan menghidupkan kembali ajaran Al-Qur'an dan sunah.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Jemaat Ahmadiyah sering disebut memiliki ajaran yang menyimpang oleh kelompok Islam lainnya.

Hal itu dikarenakan sosok pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, yang dianggap sebagai nabi oleh para pengikutnya.

Lalu, siapakah sebenarnya sosok Mirza Ghulam Ahmad bagi Jemaat Ahmadiyah?

Baca juga: Maulana Nizamuddin: Tidak Ada Perbedaan Cara Jemaat Ahmadiyah Beribadah, Sama Sesuai Islam!

Kedudukan Nabi Muhammad

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Ahmadiyah Jateng 1 memberikan penjelasan lengkap dan terbuka tentang sosok Mirza Ghulam Ahmad dalam program podcast Tribun Banyumas yang telah tayang pada Rabu (4/3/2026).

Mubalig Lokal Purwokerto Utara, Maulana Muneeb Ahmad, mengatakan bahwa pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, dalam banyak bukunya menyampaikan secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW itu adalah khatamul anbiya dan khatamun nabiyyin.

Artinya, tidak ada perbedaan pandangan secara mendasar di antara Jemaat Ahmadiyah dan umat Islam lainnya tentang kedudukan Nabi Muhammad SAW.

"Bahwa Nabi Muhammad sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi, red). Memang ketidakpahaman teman-teman ini yang membuat seolah-olah, kita ini ada nabi baru," ujarnya meluruskan.

Tidak Bawa Syariat

Sementara itu, Mubalig Daerah DPW Ahmadiyah Jateng 1, Maulana Nizamuddin Sofa Adnan, mengungkapkan bahwa Jemaat Ahmadiyah meyakini pemahaman nabi itu dibagi menjadi dua kategori. Kategori tersebut yakni nabi yang membawa syariat dan nabi yang tidak membawa syariat.

Kemudian, hal yang sering diperdebatkan di luar seakan-akan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, adalah nabi yang membawa syariat, serta punya peraturan dan hukum baru.

"Padahal beliau sendiri mengatakan, 'saya ketika dibandingkan dengan Rasulullah, itu lebih mulia debu yang menempel di Rasulullah dibandingkan saya'," jelasnya mengutip pernyataan sang pendiri.

Menghidupkan Kembali Agama

Menurut Nizamuddin, Mirza Ghulam Ahmad mendapatkan kemuliaan semata-mata karena kesetiaannya mengikuti Rasulullah SAW. Sehingga Allah memberikan kepadanya derajat yang tinggi.

Tetapi, pemahaman kenabiannya tersebut bukan sosok yang membawa syariat baru, melainkan adalah nabi ummati.

"Beliau itu adalah nabi ummati karena beliau mengikuti dari Rasulullah," ungkapnya.

Nizamuddin menambahkan, Mirza Ghulam Ahmad mempunyai misi yang cukup dalam, yaitu ingin menghidupkan kembali kemurnian agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

"Dan ingin kembali menegakkan syariat yang dibawa oleh Rasulullah, yaitu berupa Al-Qur'an dan sunah yang selama ini banyak ditinggalkan oleh umatnya," pungkasnya. (fba)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved