Banyumas
Ahmadiyah Luruskan Pemahaman Status Kenabian Mirza Ghulam Ahmad
Jemaat Ahmadiyah Jateng 1 meluruskan kesalahpahaman masyarakat terkait status kenabian Mirza Ghulam Ahmad dalam podcast Tribun Banyumas
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Jemaat Ahmadiyah kerap dianggab memiliki ajaran menyimpang oleh kelompok Islam lain karena pandangan terhadap pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad.
- Dalam podcast Tribun Banyumas, tokoh Ahmadiyah menegaskan bahwa mereka tetap meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi).
- Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai nabi ummati yang sama sekali tidak membawa syariat atau hukum baru, melainkan menghidupkan kembali ajaran Al-Qur'an dan sunah.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Jemaat Ahmadiyah sering disebut memiliki ajaran yang menyimpang oleh kelompok Islam lainnya.
Hal itu dikarenakan sosok pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, yang dianggap sebagai nabi oleh para pengikutnya.
Lalu, siapakah sebenarnya sosok Mirza Ghulam Ahmad bagi Jemaat Ahmadiyah?
Baca juga: Maulana Nizamuddin: Tidak Ada Perbedaan Cara Jemaat Ahmadiyah Beribadah, Sama Sesuai Islam!
Kedudukan Nabi Muhammad
Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Ahmadiyah Jateng 1 memberikan penjelasan lengkap dan terbuka tentang sosok Mirza Ghulam Ahmad dalam program podcast Tribun Banyumas yang telah tayang pada Rabu (4/3/2026).
Mubalig Lokal Purwokerto Utara, Maulana Muneeb Ahmad, mengatakan bahwa pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, dalam banyak bukunya menyampaikan secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW itu adalah khatamul anbiya dan khatamun nabiyyin.
Artinya, tidak ada perbedaan pandangan secara mendasar di antara Jemaat Ahmadiyah dan umat Islam lainnya tentang kedudukan Nabi Muhammad SAW.
"Bahwa Nabi Muhammad sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi, red). Memang ketidakpahaman teman-teman ini yang membuat seolah-olah, kita ini ada nabi baru," ujarnya meluruskan.
Tidak Bawa Syariat
Sementara itu, Mubalig Daerah DPW Ahmadiyah Jateng 1, Maulana Nizamuddin Sofa Adnan, mengungkapkan bahwa Jemaat Ahmadiyah meyakini pemahaman nabi itu dibagi menjadi dua kategori. Kategori tersebut yakni nabi yang membawa syariat dan nabi yang tidak membawa syariat.
Kemudian, hal yang sering diperdebatkan di luar seakan-akan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, adalah nabi yang membawa syariat, serta punya peraturan dan hukum baru.
"Padahal beliau sendiri mengatakan, 'saya ketika dibandingkan dengan Rasulullah, itu lebih mulia debu yang menempel di Rasulullah dibandingkan saya'," jelasnya mengutip pernyataan sang pendiri.
Menghidupkan Kembali Agama
Menurut Nizamuddin, Mirza Ghulam Ahmad mendapatkan kemuliaan semata-mata karena kesetiaannya mengikuti Rasulullah SAW. Sehingga Allah memberikan kepadanya derajat yang tinggi.
Tetapi, pemahaman kenabiannya tersebut bukan sosok yang membawa syariat baru, melainkan adalah nabi ummati.
"Beliau itu adalah nabi ummati karena beliau mengikuti dari Rasulullah," ungkapnya.
Nizamuddin menambahkan, Mirza Ghulam Ahmad mempunyai misi yang cukup dalam, yaitu ingin menghidupkan kembali kemurnian agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
"Dan ingin kembali menegakkan syariat yang dibawa oleh Rasulullah, yaitu berupa Al-Qur'an dan sunah yang selama ini banyak ditinggalkan oleh umatnya," pungkasnya. (fba)
| Pasien Sekarat Diminta Serahkan ATM, Sultan Nusantara Tipu Warga Setengah Miliar |
|
|---|
| Arief Sebut Golkar Partai Paling Terbuka Tanpa Sistem Trah |
|
|---|
| Pangki Soroti Pajak Hotel, Dorong OPD Banyumas Maksimalkan PAD |
|
|---|
| Dorong Bupati Sadewo, Golkar Banyumas Dukung Program Pro-Rakyat |
|
|---|
| Tepis Stigma Partai Tua, Ketua Golkar Banyumas: Kami Rangkul Anak Muda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260304-purwokerto-podcast-ahmadiyah.jpg)