Minggu, 26 April 2026

Berita Jateng

DPC PKB Tanggapi Mundurnya Gus Yusuf dari Ketua DPW PKB Jateng

Mundurnya tokoh PKB Jateng tersebut ditanggapi secara beragam oleh para Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB di masing-masing Kabupaten/Kota

Penulis: iwan Arifianto | Editor: khoirul muzaki
AGUS SALIM
Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf memilih mundur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ia sebelumnya merupakan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jateng. Jabatan itu, diemban Gus Yusuf sejak tahun 2013. Alasan mundurnya Gus Yusuf karena ingin mencurahkan waktu dan tenaganya untuk pesantren. 


Mundurnya tokoh PKB Jateng tersebut ditanggapi secara beragam oleh para Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB di masing-masing Kabupaten/Kota.

Mereka menilai, mundurnya Gus Yusuf dari PKB harus menjadi sinyal bagi partai untuk tidak berleha-leha. 


"Gus Yusuf merupakan figur karismatik yang selama ini memimpin PKB Jateng hingga bisa mencapai parpol nomor dua dengan suara terbanyak pada pemilu 2024. Dan, ini tantangan baru bagi pengurus DPW baru untuk lebih cerdas dalam berjuang," ujar Ketua DPC PKB Kabupaten Pekalongan adalah Asip Kholbihi kepada Tribun, Rabu (11/2/2026). 


Ia meyakini meskipun Gus Yusuf secara struktural tidak di partai, tetapi secara kultural masih tetap mendukung PKB. Namun, mundurnya Gus Yusuf menjadi tantangan internal partai. Tantangan itu ditambah dari eksternal berupa munculnya partai baru dan partai-partai penguasa yang memiliki sumber daya mumpuni. Sementara PKB selama ini hanya mengandalkan kekuatan sosial kapital, bukan ekonomi kapital. 


"PKB Jateng sekarang tidak bisa adem ayem, ibarat kendaraan sekarang kecepatan harus 120 (ngebut), tidak bisa seperti kemarin santai-santai karena ada figur sentral (Gus Yusuf)," bebernya. 


Ia menilai, PKB saat ini harus bekerja lebih mengutamakan kerja tim dengan mengutamakan kekuatan struktur organisasi. Ia menyebut, PKB tidak boleh tergantung pada kader melainkan membuka fungsi partai sebagai alat transformasi sosial. Artinya, partai bisa menjadi kepanjangan tangan masyarakat. Semisal langkah ini terwujud, maka dengan sendirinya muncul pengikut atau konstituen baru partai. 


"Ya kalau PKB tetap adem-adem saja hanya mengandalkan basis kultural tentu akan menghadapi tantangan berat. Terlebih sistem kepartaian PKB sebagian masih menganut sistem patronase," ungkapnya. 


Patronase yang kentara di PKB Jateng adalah sosok Gus Yusuf. Asip menilai, ketika sosok Gus Yusuf tidak lagi di PKB maka berpotensi menggerus suara pemilih PKB. "Maka ini menjadi cambuk babi pengurus baru untuk lebih meningkatkan kinerjanya," terangnya. 


Asip meyakini, PKB di bawah ketua yang baru Sarif Abdillah bisa mempertahankan capaian partai saat ini, bahkan bisa meningkatkan. 


Ia meminta kepada DPW untuk segera melakukan konsolidasi internal terutama melakukan silaturahmi kepada pengurus pondok pesantren yang selama ini sudah sangat baik di orkestrasi oleh Gus Yusuf.


Basis pesantren, lanjut Asip, menjadi ladang penting bagi parpol. Menurutnya, ladang ini jangan sampai digarap partai lain. Sebab, Ia khawatir ketua DPW sekarang tidak seluwes Gus Yusuf karena berlatar politisi karir. 


"PKB harus merawat betul para kiai dan santri di samping intervensi ke basis lain. Langkah ini Hubungan ini harus dibangun secara longterm (jangka panjang). Tidak bisa pendek-pendek dalam waktu singkat," tuturnya. 

Baca juga: Pikap Bermuatan Freezer Terbakar di Tol Pemalang-Batang, Api Muncul setelah Mobil Menepi


Dihubungi terpisah, Ketua DPC PKB Kabupaten Demak Zayinul Fata mengatakan, Gus Yusuf selama memimpin PKB sangat keras kepada para kader terutama dalam meminta kader untuk berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama. 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved