Berita Jateng
Ada Makam KH Mahfudz Salam di Benteng Pendem Ambarawa, Diusulkan Jadi Pahlawan
Makam tersebut kini telah dipugar menjadi bangunan semi permanen yang asri, dikelilingi taman bunga di atas lahan sekitar
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Di balik tembok tebal Benteng Fort Willem I Ambarawa, sebuah makam sederhana berdiri tenang di tengah kawasan yang sarat jejak sejarah kolonial.
Bangunan yang juga dikenal dengan nama Benteng Pendem itu dikelilingi barak militer, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa, serta hamparan persawahan warga.
Di antara lanskap itulah, makam ulama KH Mahfudz Salam dahulu hanya dikenal sebagai gundukan tanah kecil di tengah genangan sawah.
Makam KH Mahfudz Salam terletak tepat di sisi utara Benteng Willem I. Makam tersebut kini telah dipugar menjadi bangunan semi permanen yang asri, dikelilingi taman bunga di atas lahan sekitar 7 x 10 meter persegi.
Pemugaran dilakukan atas seizin otoritas militer dan dzuriah KH Mahfudz Salam, diinisiasi oleh MWCNU Ambarawa bersama badan otonom NU, dengan dukungan Ansor–Banser PAC Ambarawa dan sekitarnya.
Di lokasi bersejarah itu, Wakil Presiden RI ke-13, Ma'ruf Amin meresmikan kawasan makam tersebut sebagai kawasan wisata religi.
Dalam kesempatan itu, Ma’ruf Amin mengusulkan KH Mahfudz Salam sebagai Pahlawan Nasional.
"Ya, saya kira kan kita memang ada aturan orang-orang yang berjasa dan memenuhi syarat untuk diajukan bisa menjadi pahlawan nasional sebagai penghargaan negara terhadap para pejuang bangsa. Nah, saya kira Mahfudz itu orang yang juga pantas diajukan sebab beliau adalah pejuang bangsa," papar Ma'ruf Amin usai peresmian kawasan wisata religi di Benteng Fort Willem 1 Ambarawa, Kamis (29/1/2026).
Menurut Ma’ruf, KH Mahfudz Salam wafat dalam perjuangan melawan penjajahan.
Informasi sejarah yang dihimpun, ulama asal Jawa Tengah itu meninggal dunia pada Jumat, 4 Rabi’ul Awwal 1364 Hijriah atau bertepatan dengan 17 Februari 1945, setelah ditahan di Benteng Willem I.
Ia gugur sekitar empat bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, dalam usia yang relatif muda, sekitar 45 tahun.
Kala itu, KH Mahfudz Salam ditahan di penjara dalam Benteng Willem I oleh opsir Belanda karena menyerahkan diri setelah berlangsung serangkaian kisah dramatis tentang kekejian Belanda yang telah menangkap, menahan, menyandera dan menyiksa tiga ulama besar dari Kajen, Pati yaitu KH Abdussalam, KH Nawawi dan KH Muhtar.
KH Abdussalam adalah ayah kandung dari KH. Mahfudz Salam. Sedangkan KH Nawawi dan KH Muhtar juga merupakan saudara.
Ketiganya merupakan guru sekaligus para ulama yang sangat dihormati oleh masyarakat Pati dan sekitarnya waktu itu.
Mendengar berita ketiga ulama tersebut ditangkap, ditahan, disiksa sekaligus dijadikan sandera, muncul sikap ksatria dalam diri KH Mahfudz Salam untuk menyerahkan diri sebagai pengganti ketiga ulama tersebut.
Baca juga: Formasi Lengkap Persiku saat Lawan Persipura, Trio Brasil Tampil
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/makam-mahfudz-salam.jpg)