Jumat, 8 Mei 2026

Berita Wonosobo

Hati-hati, Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Punya 7 Titik Rawan Longsor

Pemkab Wonosobo mencatat setidaknya ada tujuh titik rawan longsor di Jalan Lingkar Sumbing. Tindakan mengurangi risiko longsor pun dilakukan.

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: rika irawati
Tribun Banyumas/Imah Masitoh
VIRAL - Pemandangan alam di Jalan Lingkar Sumbing (Jalisu) Wonosobo, Rabu (7/1/2026). Pemkab Wonosobo mencatat ada tujuh titik rawan longsor di Jalisu. 

Selain itu, pemerintah juga merencanakan penanaman vegetasi penahan erosi serta penambahan infrastruktur senderan di titik-titik tertentu. 

Namun, hingga kini, seluruh pekerjaan tersebut belum sepenuhnya rampung.

Penataan Lokasi

Penutupan Jalisu juga tidak semata-mata dilakukan karena faktor teknis. 

Pemerintah daerah melihat tingginya minat masyarakat sebagai peluang mengembangkan kawasan Sumbing menjadi destinasi wisata baru yang tertata.

"Kami justru khawatir, animo masyarakat yang tinggi mengunjungi tetapi berhadapan dengan risiko adanya longsor," lanjutnya.

Ia menambahkan, terdapat semangat bersama antara pemerintah kecamatan dan masyarakat di sepanjang Jalisu untuk menata kawasan agar tidak hanya viral sesaat.

"Untuk menjadi destinasi wisata yang rapi, yang bersih, yang teratur, sehingga tidak hanya fomo tapi viral yang berkelanjutan," ujarnya.

Baca juga: Viral, Jalisu Wonosobo Berlatar Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Potensi Jadi Tujuan Wisata Baru

Di kawasan sekitar Jalisu, aktivitas ekonomi masyarakat mulai tumbuh, seperti UMKM olahan lokal dan produk kopi. 

Pemerintah ingin memastikan bahwa pembukaan jalan ini memberi dampak jangka panjang.

"Kami ingin apa, dibukanya jalan lingkar Sumbing ini tidak hanya berhenti pada tersedianya output jalannya saja."

"Tetapi, betul-betul memberikan dampak berkelanjutan pada peningkatan perekonomian masyarakat," tuturnya.

Cegah Alih Fungsi Lahan

Pemkab Wonosobo juga membuka peluang berkembangnya homestay milik warga, glamping, serta usaha wisata berbasis komunitas. 

Selama ini, fasilitas penginapan lebih banyak terkonsentrasi di wilayah lain seperti Dieng dan Menjer.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tetap harus memperhatikan tata ruang dan keberlanjutan lingkungan.

"Kita akan menjaga, jangan sampai kemudian terjadi alih fungsi lahan yang secara masif," tegasnya.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved