Berita Jateng
Mengintip Produksi Teh Tambi di Pabrik Warisan Kolonial Wonosobo
pabrik tersebut bukan hanya pusat produksi, tetapi juga berkembang menjadi wisata edukatif
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
Pengujian dilakukan menggunakan indra perasa dan alat uji kadar air.
“Teh itu harusnya sepet, itu yang bagus. Kalau pahit, itu ada kesalahan pas pengolahannya,” terangnya.
Jika rasa tidak sesuai, produksi bisa dihentikan sementara untuk mencari letak kesalahannya.
“Kalau ada kurang rasanya yang tidak pas maka akan dihentikan dan dicari kesalahannya, bisa di bagian fermentasi atau pengeringan," lanjutnya.
Teh dari pabrik ini diserap oleh sejumlah merek ternama yang dijual di pasaran. Untuk Tambi memiliki nama sendiri yang terkenal ada cap Petruk dan cap Gunung. Sementara untuk ekspor, teh dikemas rapi dalam karung khusus berukuran besar.
“Salah satunya yang sedang diproduksi ini akan dikirim ke Dubai,” ujar Puji.
Selain Timur Tengah, teh juga diekspor ke Amerika, Eropa, dan Jepang.
Di akhir perjalanan tour, Puji menambahkan tips sederhana berkaitan dengan teh. Ia menyebut teh sebaiknya diminum saat masih panas, tidak didiamkan terlalu lama, dan penyeduhan ideal dilakukan tiga kali celup.
“Teh yang bagus lebih berat, warnanya hitam merata, kalau disedu warnanya kuning keemasan, rasanya sepet tidak pahit atau asam,” pungkasnya. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Pabrik-teh-Tambi-Wonosobo.jpg)