Berita Jateng
Atap SMA Negeri 1 Wiradesa Roboh Lukai Pekerja, Pemborong Akui Ada Kecelakaan Kerja
akibat insiden robohnya atap, pihak Cabang Dinas Pendidikan memberikan tambahan waktu kepada rekanan untuk menyelesaikan pekerjaan
Penulis: Indra Dwi Purmomo | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PEKALONGAN - Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Tengah Wilayah XII, Sukamto, memastikan bahwa robohnya atap bangunan di SMA Negeri 1 Wiradesa terjadi pada proyek rehabilitasi gedung sekolah yang hingga kini belum dilakukan serah terima.
Oleh karena itu, tanggung jawab perbaikan sepenuhnya masih berada di tangan pihak rekanan pelaksana.
Sukamto menjelaskan, proyek rehabilitasi tersebut sejatinya ditargetkan selesai pada 31 Desember. Namun akibat insiden robohnya atap, pihak Cabang Dinas Pendidikan memberikan tambahan waktu kepada rekanan untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Ini proyek rehabilitasi dan mestinya selesai tanggal 31 Desember. Alhamdulillah belum serah terima, jadi masih menjadi tanggung jawab rekanan. Kami beri waktu lagi untuk menyelesaikan," ujarnya.
Terkait dugaan penyebab kejadian, Sukamto menilai robohnya atap diduga akibat kesalahan prosedur dalam pelaksanaan pekerjaan, terutama karena pelaksana mengejar target penyelesaian proyek.
"Menurut saya, ini karena kesalahan prosedur pelaksanaan. Karena kejar target, akhirnya terjadi kejadian seperti ini," ungkapnya.
Ia menegaskan, bahwa seluruh bangunan yang terdampak merupakan proyek rehabilitasi, bukan revitalisasi. Proyek tersebut dilaksanakan melalui mekanisme lelang dan dikerjakan oleh rekanan dari Semarang, yakni CV Tunjung.
"Semua ini rehabilitasi, lewat lelang. Rekanannya dari Semarang, CV Tunjung kalau tidak salah," katanya.
Sukamto menyebutkan, sesuai ketentuan yang berlaku, rekanan masih dapat diberikan tambahan waktu maksimal 50 hari untuk menyelesaikan pekerjaan. Hingga saat ini, proyek tersebut memang belum dilakukan penyerahan resmi.
"Belum ada penyerahan, jadi kita beri jeda waktu. Secara aturan boleh sampai 50 hari," jelasnya.
Dalam pelaksanaan rehabilitasi, material bangunan yang digunakan merupakan kombinasi antara material lama dan baru.
Berdasarkan pengecekan di lapangan, sekitar 20 persen material lama masih digunakan dan 80 persen material baru, sesuai ketentuan teknis yang diperbolehkan.
"Masih ada material lama yang dipakai dan itu boleh. Sekitar 20 persen lama, 80 persen baru," terangnya.
Ia juga memastikan, bahwa pengawasan proyek telah dilakukan oleh pihak terkait. Sementara itu, terkait adanya pekerja yang mengalami luka akibat kejadian tersebut, Sukanto menyebut kondisinya tidak serius dan telah ditangani.
"Ada pekerja yang terluka, tapi tidak parah dan sudah ditangani," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/sekolah-pekalongan-ambruk.jpg)