Kamis, 23 April 2026

Berita Jateng

Wonosobo Waspada Bencana, Potensi Longsor di Kaliwiro dan Sukoharjo Jadi Perhatian

Sumekto Hendra Kustanto, menyebut Wonosobo memiliki beragam jenis ancaman bencana alam yang terjadi hampir sepanjang tahun

Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
Tribunnews.com/Imah Masitoh
POTENSI BENCANA - Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonosobo, Sumekto Hendra Kustanto menyebut, Wonosobo memiliki beragam jenis ancaman bencana alam yang terjadi hampir sepanjang tahun. Wilayah Kecamatan Kaliwiro dan Sukoharjo menunjukkan gejala tanah bergerak paling serius di tahun ini. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana setelah berbagai wilayah menunjukkan gejala tanah bergerak dan kerentanan longsor. 


Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonosobo, Sumekto Hendra Kustanto, menyebut Wonosobo memiliki beragam jenis ancaman bencana alam yang terjadi hampir sepanjang tahun.


Menurut Sumekto, sejumlah kecamatan memiliki karakteristik bencananya masing-masing, mulai dari angin kencang hingga tanah longsor. 


Namun beberapa waktu terakhir, perhatian BPBD terfokus pada wilayah Kecamatan Kaliwiro dan Sukoharjo yang menunjukkan gejala tanah bergerak paling serius.


“Wonosobo ini kaya minimarket bencana. Ada longsor, banjir, gas beracun, dan sekarang tanah bergerak di Kaliwiro dan Sukoharjo keadaan cukup parah pada beberapa waktu lalu," ujar Sumekto, Rabu (26/11/2025).


Hasil survei terbaru BPBD menunjukkan lebih dari 20 rumah di wilayah terdampak seperti di Kaliwiro telah mengalami keretakan. Meski sebagian besar bangunan sudah dikategorikan tidak layak huni, beberapa warga masih tetap menempatinya.


Untuk sementara, BPBD belum mengeluarkan instruksi evakuasi massal. Namun warga diminta mengungsi mandiri ke rumah keluarga terdekat jika hujan deras turun lebih dari dua jam berturut-turut.


“Keselamatan nomor satu. Kami edukasi warga untuk mengungsi dulu kalau hujan besar. Banyak rumah sudah retak tapi masih ditempati,” jelasnya.


Selain itu, BPBD tengah menyiapkan opsi rumah kayu sebagai contoh hunian aman di daerah rawan tanah bergerak. Menurut Sumekto, struktur kayu relatif lebih tahan terhadap pergeseran dibandingkan bangunan beton.

Baca juga: Peras Kades, 3 Oknum Wartawan di Pekalongan Ditangkap


Untuk memastikan langkah penanganan berikutnya, BPBD Wonosobo telah mengirim laporan resmi ke Badan Geologi di Bandung. Kajian ilmiah dari lembaga tersebut nantinya menjadi dasar penetapan status tanggap darurat.


“Kami sudah matur ke BNPB. Kajian dari Geologi Bandung akan menentukan langkah selanjutnya, apakah kita naik status ke tanggap darurat atau tidak,” kata Sumekto.


Sumekto menyebutkan bahwa Wonosobo mengalami berbagai kejadian bencana hampir setiap bulan. 


Meskipun mayoritas berupa pohon tumbang atau angin kencang yang dapat ditangani dengan cepat bersama relawan, ancaman bencana besar tetap menjadi fokus mitigasi.


Daerah seperti Kepil, Kalikajar dan Kertek kerap dihantam angin ribut, sementara Kejajar, Kaliwiro, dan Watumalang menjadi wilayah langganan longsor.


“Relawan adalah garda pertama. Tanpa mereka kami bukan siapa-siapa. Mereka selalu hadir lebih dulu di lapangan,” ujarnya.


Dengan kondisi tanah yang labil dan cuaca ekstrem yang tidak menentu, BPBD menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan. 


Edukasi warga akan terus digencarkan, terutama terkait tanda-tanda gerakan tanah dan langkah penyelamatan diri. (ima)

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved