Berita Semarang
Awas! Air Hujan di Semarang, Boyolali, dan Solo Mengandung Mikroplastik
Fakta ini diperoleh dari uji sampel dalam acara Invisible Threat if Mickroplastics yang diselenggarakan Greenpeace, Ecoton dan Jarilima
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Air hujan yang mengguyur kota mereka mengandung mikroplastik.
- Fakta ini diperoleh mereka saat melakukan uji sampel dalam acara Invisible Threat if Mickroplastics yang diselenggarakan Greenpeace, Ecoton dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang, Selasa (25/11/2025) petang.
- Hasil dari uji mereka yang dibantu tim dari Ecoton menunjukkan bahwa hanya dua air yang tidak mengandung mikroplastik yakni air dimasak sendiri dan air permunian.
TRIBUNBANYUMAS.COM,SEMARANG -Warga Kota semarang harus hati-hati jika mengggunakan air hujan.
Pasalnya, air hujan yang mengguyur Kota Semarang mengandung mikroplastik.
Fakta tersebut diperoleh saat uji sampel dalam acara Invisible Threat if Mickroplastics yang diselenggarakan Greenpeace, Ecoton dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang, Selasa (25/11/2025) petang.
Menurut Linggayani Soentoro, Jaringan Peduli Iklim dan Alam, yang melakukan pengujian air hujan, bahwa fakta tersebut diperoleh setelah pihaknya menguji air hujan yang dibawa oleh sejumlah kominitas warga Kota Semarang.
"Iya tadi ada kawan komunitas yang membawa sampel air hujan selepas diuji ternyata mengandung mikroplastik," ujar Linggayani Soentoro kepada Tribun.
Lingga dan beberapa teman komunitasnya tidak hanya menguji air hujan.
Mereka juga menguji beberapa sampel air yang dibawa dari rumah meliputi air hasil dimasak sendiri, air dari galon Reverse Osmosis (RO), es batu balok, air keran, air dari hasil pemurnian (water purifier).
Hasil dari uji mereka yang dibantu tim dari Ecoton menunjukkan bahwa hanya dua air yang tidak mengandung mikroplastik, yakni air dimasak sendiri dan air permunian.
"Sisanya, semua air mengandung mikroplastik. Jadi, kami deg-degan maka dari kegiatan hari ini semoga kami dan masyarakat bisa tercerahkan," jelasnya.
Warga Rejosari Semarang Timur itu menyebut, mikroplastik juga bisa berdampak ke rahim perempuan.
Ia tidak menyangka, tempat teraman di rahim ibu saja sudah terpapar mikroplastik.
Baca juga: Geledah Mobil Pribadi AKBP Basuki, Polda Jateng Temukan Obat dan Tas Perempuan
"Ya kita harus segera mawas diri dengan tidak menggunakan atau meminimalisir penggunaan mikroplastik," bebernya.
Hasil uji yang dilakukan warga Semarang tersebut selaras dengan hasil penelitian Ecoton dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ).
Dalam riset itu menunjukkan Semarang menduduki posisi keempat sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi pada Juni 2025.
Penelitian yang dilakukan di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara, dan pada akhirnya, ikut mencemari air hujan.
| Geledah Mobil Pribadi AKBP Basuki, Polda Jateng Temukan Obat dan Tas Perempuan |
|
|---|
| Ngaji Butuh Gizi, Semarak Berbagi Nasi Goreng Prendengan untuk Santri Banjarnegara |
|
|---|
| Lantai Sekolah Alam Purwokerto Ambruk saat Tasyakuran Hari Guru, 21 Pengajar Jadi Korban |
|
|---|
| Polisi Selidiki Sekolah Alam Purwokerto Lantai Dua Ambruk, 21 Guru yang Sedang Rapat Ikut Jatuh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/teliti-air-mikroplastik.jpg)