Jumat, 8 Mei 2026

Purbalingga

Nazar Sembuh Cedera, Tukang Siomay Mudik Jalan Kaki Cilacap-Pemalang

Penuhi nazar sembuh dari cedera, Edi rela mudik jalan kaki dorong gerobak siomay dari Cilacap menuju Pemalang selama empat hari berturut.

Tayang:
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
Mudik Ekstrem Dorong Gerobak, Pedagang siomay asal Pemalang, Edi Rasidi (50), tampak mendorong gerobaknya saat melintas di wilayah Bojongsari, Purbalingga dalam perjalanan mudik jalan kaki dari Cilacap menuju Pemalang, Selasa (17/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Edi Rasidi yang berusia 50 tahun nekat mudik jalan kaki dari perantauannya di Cilacap menuju Pemalang. 
  • Ia menempuh jarak lebih dari 130 kilometer sambil mendorong gerobak dagangannya di bawah terik matahari saat berpuasa. 
  • Aksi ekstrem ini dilakukan demi membayar nazar setelah dirinya sembuh dari cedera parah akibat kecelakaan motor dua tahun lalu. 
  • Berbekal tekad, Edi menargetkan tiba di kampung halamannya pada Kamis malam.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Sesosok pria bersandal jepit tampak sabar menuntun gerobak siomay kesayangannya menyusuri rute utama penghubung Banyumas dan Purbalingga.

Di bawah sengatan terik matahari siang bulan Ramadan, pria paruh baya itu tak menghentikan langkah pelannya.

Sosok tangguh tersebut bernama Edi Rasidi (50), seorang penjual siomay asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang.

Baca juga: Bisa Titip Motor Gratis di Polres Kudus saat Mudik Lebaran, Ini Syaratnya

Pria ini tengah melakoni tradisi pulang kampung yang terbilang sangat ekstrem dan tidak lazim.

Jika mayoritas kaum perantau memilih kendaraan roda dua, mobil, atau bus untuk mudik, Edi justru menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki.

Ia mendorong langsung gerobak dagangannya melintasi rute Cilacap menuju Pemalang yang ditaksir memiliki jarak tempuh di atas 130 kilometer.

Nazar Pasca Kecelakaan

Bagi Edi, perjalanan panjang ini bukan sebatas rutinitas kembali ke kampung halaman jelang Lebaran.

Ada sebuah ikrar suci atau nazar yang sedang ia tunaikan.

Di bagian bodi gerobaknya, tertulis sebuah curahan hati berbunyi: "Aja Ngeluh Ora Due duit, Mudik Mlaku Taklakoni, Demi Njlaluk Pangapura, Negara makmur go kasab angel temen, Demi Sungkem Nyong Mudik Mlaku Cilacap - Pemalang".

"Saya perjalanan dari Sampang, Cilacap tujuan ke Pemalang," kata Edy saat ditemui Tribunbanyumas.com, Selasa (17/3/2026) di sela waktu istirahatnya di pelataran Masjid Darul Najah, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga.

Gerobak siomay yang membebani langkahnya itu tidak semata-mata benda mati pelengkap nazar, melainkan aset masa depannya kelak.

"Saya menggunakan gerobak jalan kaki. Tujuannya gerobak ini mau dibawa pulang ke kampung buat jualan juga di kampung," ujarnya menambahkan alasannya.

Janji Sembuh Cedera

Usut punya usut, ada kisah personal di balik aksi jalan kaki ratusan kilometer ini.

Edy berujar bahwa dirinya pernah mengucapkan janji kepada Sang Pencipta menyusul musibah kecelakaan lalu lintas yang menimpanya sekitar dua tahun silam.

"Nazar itu karena saya dulu pernah kecelakaan di kaki. Dengkul saya sempat lepas karena terkilir. Waktu itu satu kaki tidak bisa jalan," tutur dia mengenang insiden jatuh dari sepeda motor tersebut.

Dalam kondisi tak berdaya itu, ia memanjatkan doa.

Bila kakinya berhasil disembuhkan dan mampu menapak lagi, ia berjanji akan pulang kampung dengan cara berjalan kaki.

Kini, setelah kesehatannya pulih seratus persen, nazar itu langsung dilunasinya.

Empat Hari Berjalan

Perjalanan melelahkan ini ia rintis sejak Senin (16/3/2026) pagi, kira-kira pukul 06.00 WIB.

Andai dijangkau dengan kuda besi, jarak tempuh ini normalnya hanya memakan waktu sekitar tiga jam.

Namun dengan metode jalan kaki sambil menarik beban gerobak, durasinya tentu membengkak drastis.

"Kalau jalan kaki saya perkirakan 4 hari 4 malam," ujarnya optimis.

Dirinya membuat patokan waktu tiba di kampung halaman pada Kamis malam atau menjelang hari Jumat (20/3/2026).

Ia menempuh rute tersebut bermodalkan tekad bulat dan uang saku yang sangat pas-pasan, yakni Rp40 ribu.

Beruntung, di sepanjang aspal yang ia pijak, banyak tangan dermawan yang tergerak hatinya.

"Alhamdulillah ada yang support di pinggir jalan. Ada sekitar satu sampai tiga orang yang langsung membantu," ujarnya bersyukur.

Demi mengusir sepi, Edy rutin mengadakan siaran langsung di media sosial selama menempuh perjalanan.

Kebutuhan kuota internetnya pun disokong oleh bantuan rekan-rekannya.

Rindu Bertemu Keluarga

Pria ini sejatinya baru setengah tahun mengadu nasib di daerah Sampang, Kabupaten Cilacap, dengan mengontrak sebuah kamar kos sederhana.

Keputusan merantau ia ambil murni demi mencari pengalaman dan suasana baru.

Jauh sebelum itu, ia adalah pedagang siomay kawakan di kampungnya sendiri.

"Kalau di Pemalang dulu sudah sekitar 20 tahun, bahkan hampir 22 tahun sebelum corona," tuturnya membeberkan pengalaman puluhan tahun.

Ia meracik sendiri seluruh adonan siomaynya.

Namun, kondisi perekonomian dalam beberapa tahun terakhir membuat pemasukannya merosot dan tidak menentu.

"Untuk tahun-tahun sekarang penghasilan saya tidak bisa diperjelas. Sangat jauh berbeda dari dulu," ujarnya lirih. Walau demikian, ia tak pernah kufur nikmat. "Kalau untuk makan saja cukup," katanya pasrah.

Kini, bayangan wajah orang tua, istri, serta anak-anaknya di rumah menjadi bahan bakar utamanya untuk terus melangkah.

"Di rumah masih ada anak, istri, ibu, dan bapak," katanya. Keinginan terbesarnya hanyalah satu. "Ini demi bertemu keluarga," ujarnya penuh harap.

Terobos Enam Tanjakan

Untuk menekan risiko hambatan fisik, Edy sengaja melalui jalur protokol yang kontur aspalnya lebih bersahabat untuk roda gerobaknya.

"Iya, ini jalur utama. Pilih jalur yang tanjakannya tidak terlalu banyak," katanya.

Kendati demikian, kontur jalan menuju Pemalang via Purbalingga tidak bisa disepelekan.

Ia sudah hafal betul titik-titik rawan yang harus ia taklukkan.

"Total ada enam tanjakan. Yang paling ekstrem ada empat, terutama di Bayeman dan Karangreja. Itu panjang dan cukup berat," ujarnya merinci rintangan medan.

Setiap kali letih mendera, pelataran masjid selalu menjadi tempat peristirahatannya untuk bermalam.

"Saya baru tiga kali singgah. Pertama di Kalibagor, lalu di Sokaraja, dan sekarang di sini. Tadi malam bermalam di masjid di Sokaraja," ujarnya.

Hebatnya lagi, ibadah puasa Ramadan tak pernah ia tinggalkan.

"Alhamdulillah tetap puasa," ujarnya, meski ia tak memaksakan diri bila fisiknya menurun.

Edy melakukan seluruh perjalanan ini hanya menggunakan alas kaki sandal jepit kesayangannya karena merasa canggung bila memakai sepatu.

Ia juga sengaja tak membawa stok siomay mentah agar gerobaknya tak makin berat.

"Kalau bawa dagangan nanti repot masaknya, perjalanan sampai 4 hari," katanya.

Sebelum mantap melangkah ke Pemalang, ia pun masih sempat mengais rezeki di perantauan.

"Terakhir jualan malam Senin, sebelum berangkat pagi," ujarnya.

Dengan irama langkah yang konstan dan napas yang teratur, Edi Rasidi merajut asa di setiap kilometer yang ia lewati.

Doanya begitu sederhana.

"Mudah-mudahan Kamis malam atau malam Jumat sudah sampai," katanya.

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved