Minggu, 10 Mei 2026

Berita Blora

Kisah Maling Genthiri di Blora, Suka Mencuri Hasilnya untuk Janda Miskin dan Anak Yatim

Makam Maling Genthiri berada di area pemakaman umum Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Tayang:
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: Rustam Aji
Tribun Jateng/M Iqbal Shukri
PEZIARAH - Warga saat berziarah di Makam Maling Genthiri di Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Senin (23/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kisah Maling Genthiri sangat melekat bagi sebagian masyarakat Blora.
  • Namun di balik makamnya yang sederhana itu, tersimpan kisah heroik sosok Maling Genthiri yang masih terngiang di benak warga Kawengan.
  • Makam Maling Genthiri berada di area pemakaman umum Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BLORA – Di Kabupaten Blora, ada kisah seorang bernama Genthiri.

Ia dikenal sebagai seorang pencuri atau maling (bahasa Jawa).

Namun, dia bukanlah sembarang maling. Ia mencuri untuk membantu orang lain, terutama janda miskin dan anak yatim.

Kini,  makam Maling Genthiri berada di area pemakaman umum Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.


Saat memasuki area pemakaman umum itu, terasa cukup sejuk. Lantaran di area makam dikelilingi pepohonan jati. Ditambah masih ada pohon-pohon besar di area makam tersebut.


Meskipun dimakamkan di pemakaman umum, makam Maling Genthiri masih dirawat oleh warga setempat.


Bangunan makam Maling Genthiri, berbentuk Joglo dari kayu. Di dalam Joglo itu hanya ada satu makam berikut kelambu putih lusuh yang menyelimutinya.


Namun di balik makamnya yang sederhana itu, tersimpan kisah heroik sosok Maling Genthiri yang masih terngiang di benak warga Kawengan.

Baca juga: SDN 2 Gondoriyo Blora Dibobol, Dua Pencuri Lintas Provinsi Tertangkap Saat Asyik Makan di Warung


Salah seorang warga Kawengan, Suli (88) bercerita bahwa semasa mudanya, Maling Genthiri merupakan pribadi yang nakal suka mencuri.


Namun, kebiasaannya mencuri itu bukan untuk memperkaya diri. Melainkan hasil curiannya itu dibagikan untuk masyarakat miskin.


"Ketika muda itu perilakunya nakal, suka maling. Tetapi kalau mendapat harta dunia itu dikasihkan ke janda yang kurang mampu, diberikan ke anak yatim piatu yang masih kecil sudah ditinggal ayahnya," jelasnya, saat ditemui di rumahnya, Senin (23/2/2026).


Adapun, kisah perjalanan hidup Maling Genthiri pun dipercaya berakhir di Desa Kawengan.


Saat berlari, kakinya terjerat tanaman talas, hingga akhirnya meninggal dunia.


Dari kisah itu, warga Kawengan yang tinggal di sisi barat berdekatan dengan makam Mbah Genthiri tidak berani menanam talas.


"Sejak zaman dulu kalau mau masak talas itu ya beli dari luar. Kalau ada tanaman talas, pasti ada yang sakit. Kalau ketemu pohon talas langsung dibuang," jelasnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved