Jumat, 10 April 2026

Wonosobo

Protes Jalan Rusak, Warga Mojotengah Wonosobo Mandi di Kubangan

Warga empat desa di Kecamatan Mojotengah, Wonosobo gelar aksi teatrikal mancing dan mandi di jalan rusak, Sabtu (28/2).

Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
ISTIMEWA
PROTES JALAN RUSAK: Warga dari empat desa di wilayah Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, saat menggelar aksi simbolik menuntut perbaikan Jalan Kalibeber-Deroduwur yang rusak parah, Sabtu (28/2/2026). Warga melakukan aksi memancing hingga mandi di kubangan air jalan sebagai bentuk protes kepada pemerintah daerah. (DOK WARGA) 

Ringkasan Berita:
  • Warga dari Desa Deroduwur, Derongisor, Mojosari, dan Pungangan memprotes kerusakan parah di ruas Jalan Kalibeber-Deroduwur pada Sabtu (28/2/2026).
  • Aksi protes simbolis dilakukan dengan cara menanam pohon pisang, memancing ikan, hingga mandi dan mencuci di kubangan air jalan yang berlubang.
  • Camat Mojotengah yang hadir di lokasi memastikan bahwa perbaikan awal jalan vital tersebut akan segera dieksekusi sebelum perayaan Idulfitri 2026.

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Warga dari empat desa di wilayah Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, mendesak keras adanya perbaikan Jalan Kalibeber-Deroduwur sebelum Hari Raya Idulfitri 2026 tiba.

Keinginan mendesak itu mereka sampaikan dengan menggelar aksi teatrikal dan simbolik di beberapa titik jalan yang kondisinya rusak parah, Sabtu (28/2/2026).

Koordinator aksi, Hendri, mengatakan bahwa aksi turun ke jalan tersebut diikuti oleh perwakilan warga di empat desa yang terdampak langsung, meliputi Desa Deroduwur, Derongisor, Mojosari, dan Pungangan.

Baca juga: Jalan Rusak Milik Provinsi Jateng Hanya Ditambal Jelang Mudik Lebaran, Imbas Pemangkasan Anggaran

Aksi Tanam Pisang

Hendri menyebut, gerakan spontan ini lahir dari keresahan mendalam di tengah masyarakat akibat infrastruktur jalan yang hancur.

"Ini bukan mewakili golongan atau individu tertentu, tapi mewakili seluruh lapisan masyarakat," ujarnya menegaskan.

Dalam aksi protes ini, warga nekat menanam pohon pisang di lubang jalan yang menganga, memancing ikan, mandi, hingga mencuci pakaian di genangan air keruh yang terbentuk akibat aspal yang mengelupas.

Aksi simbolik nan unik ini menjadi cara jitu warga dalam menyuarakan keluhan mereka agar mendapat perhatian pemerintah daerah.

Akses Jalan Vital

Diketahui, kerusakan jalan terjadi di beberapa titik sepanjang ruas Kalibeber-Deroduwur yang membentang sekitar 6,4 kilometer. Kondisi serupa juga terjadi di ruas jalan Mojosari-Gondang sepanjang kurang lebih 5,1 kilometer.

"Keluhannya sama, yaitu kondisi jalan yang rusak sudah terlalu parah dan tidak kunjung ada perbaikan," kata Hendri.

Padahal, ruas Jalan Kalibeber-Deroduwur merupakan urat nadi akses vital bagi warga untuk perputaran kegiatan ekonomi, jalur pendidikan, dan mobilitas sehari-hari.

Selain itu, jalur ini juga menjadi akses utama menuju makam tokoh ulama kharismatik, KH Muntaha Al Hafizh dan KH Asy'ari, sehingga volume kendaraan selalu meningkat tajam terutama saat akhir pekan.

"Ini akses jalan yang sangat vital. Setiap hari teman-teman bisa melihat sendiri bagaimana ramainya ruas jalan Kalibeber-Deroduwur dan kondisi jalannya seperti apa," tambah Hendri.

Rusak Sejak Lama

Menurut penuturan Hendri, kerusakan jalan ini sejatinya sudah berlangsung sangat lama, sementara perbaikan yang dilakukan sebelumnya oleh dinas terkait hanya bersifat tambal sulam yang mudah hancur saat tergerus air hujan.

"Jalan ini sudah lama rusak, kurang lebih sekitar lima tahunan, bahkan bisa dibilang lima sampai sepuluh tahun. Sering ditambal, tapi sekarang kondisinya memang sudah sangat parah," ungkapnya kecewa.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved