Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Banyumas

Masjid Jami Baitussalam Cikakak Jadi Saksi Perjalanan Islam di Banyumas, Punya Saka Tunggal

Masjid Jami Baitussalam Cikakak di Kecamatan Wangon menjadi saksi perjalanan Islam tertua di Banyumas. Masjid ini juga unik, punya saka tunggal.

Tayang:
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
SAKA TUNGGAL - Tiang tunggal di dalam Masjid Jami Baitussalam atau Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (21/2/2026). Masjid yang diperkirakan dibangun tahun 1288 Masehi itu menjadi bukti keteguhan iman warga setempat sejak zaman Belanda. 

Ringkasan Berita:
  • Masjid Jami Baitussalam Cikakak di Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, menjadi saksi sejarah keteguhan iman warga.
  • Masjid yang ditetapkan sebagai cagar budaya itu diperkirakan dibangun sejak tahun 1288 Masehi.
  • Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Saka Tunggal karena memiliki satu tiang utama.

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Kesunyian wilayah perbukitan Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, membuat suasana Masjid Jami Baitussalam terasa damai.

Masjid yang tampak luar memiliki perpaduan warna hijau dan putih itu tak sekadar menjadi bukti keteguhan iman warga tetapi juga saksi sejarah.

Yang membuat lebih unik, Masjid Baitussalam memiliki saka tunggal atau satu tiang penyangga bangunan.

Itu sebabnya, masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Saka Tunggal.

Saka tunggal itu berdiri tegak, kokoh di bagian dalam masjid.

Baca juga: Jejak Mataram di Masjid Agung Nur Sulaiman: Simbol Akulturasi dan Saksi Bisu Banjir Besar Banyumas

Berdasarkan prasasti yang terukir di tiang utama, masjid ini didirikan tahun 1288 Masehi.

Itu sebabnya, Masjid Baitussalam Cikakak ini diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, bahkan disebut-sebut telah berdiri jauh sebelum era Wali Songo di Pulau Jawa.

Empat Sayap di Tiang Tunggal

Tiang tunggal di dalam Masjid Baitussalam Cikakak terbuat dari kayu yang memiliki ukiran indah dan dilengkapi empat sayap.

Kini, tiang utama itu dilindungi kaca untuk menjaga keasliannya dari sentuhan pengunjung.

Juru Kunci Masjid Saka Tunggal Sulam (52) menjelaskan, empat sayap di tiang itu memiliki filosofi Jawa, papat kiblat lima pancer atau empat mata angin dan satu pusat.

Empat sayap itu menjadi lambang api, angin, air, dan bumi yang mengelilingi manusia sebagai pusat kehidupan.

Saka tunggal itu, kata Sulam, juga menjadi simbol huruf alif dalam aksara Arab.

"Orang hidup itu seperti alif, harus lurus."

"Jangan bengkok, jangan berbohong."

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved