Banyumas
Kisah Kedekatan Gus Dur dan Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto Sejak 2005
Foto Gus Dur terpampang di Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto. Sosok "Bapak Pluralisme" ini dihormati atas jasanya bagi etnis Tionghoa, Rabu (11/2).
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Foto Presiden ke-4 RI, Gus Dur, menghiasi ruang kantor Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto sejak 2005.
- Gus Dur dikenang sebagai pahlawan bagi etnis Tionghoa karena melegalkan perayaan Imlek dan barongsai.
- Kelenteng berusia hampir dua abad ini memiliki hubungan emosional erat dengan keluarga Gus Dur.
- Sinta Nuriyah Wahid rutin mengadakan sahur keliling di kelenteng ini setiap bulan Ramadan.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Wajah Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terpampang di Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto, Kabupaten Banyumas.
Foto sosok yang dijuluki 'Bapak Pluralisme' itu menghiasi sebuah ruang seluas sekira 3×4 meter yang menjadi kantor Ketua Kelenteng Hok Tik Bio.
Kelenteng yang berlokasi di sebelah utara Pasar Wage Purwokerto itu merupakan bangunan bersejarah yang telah berdiri sejak 1831.
Baca juga: Pertunjukan Liong Meriahkan Bwee Gee Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, Ucapan Syukur Jelang Imlek
Bangunannya tampak megah dengan ornamen khas etnis Tionghoa, seperti ukiran naga dan singa batu yang ikonik.
Sosok Bapak Pluralisme
Pemasangan foto tersebut bukan tanpa alasan. Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto, Suryana (68), mengungkapkan bahwa potret Gus Dur sudah terpasang di ruangannya sejak tahun 2005.
Bagi umat Konghucu dan etnis Tionghoa secara umum, Gus Dur adalah sosok yang sangat peduli terhadap mereka yang termarjinalkan.
"Beliau itu sangat peduli dan plural," kata Suryana kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (11/2/2026). Ia mengaku sudah mengenal pemikiran Gus Dur sejak tahun 1995.
Jasa Bagi Tionghoa
Suryana masih mengingat betul perjuangan Gus Dur, termasuk saat mendampingi kasus hukum etnis Tionghoa di Surabaya yang ditolak catatan sipil karena beragama Konghucu.
Saat menjadi presiden, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 dan menggantinya dengan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.
"Selama 32 tahun, umat keturunan Tionghoa dilarang merayakan Imlek. Tetapi oleh Gus Dur, boleh dirayakan dan barongsai diperbolehkan lagi. Sampai perayaan Imlek secara nasional yang pertama dilaksanakan dua kali, di Jakarta dan Surabaya," kenangnya.
Tradisi Sahur Keliling
Kelenteng Hok Tik Bio juga menjalin kedekatan erat dengan keluarga Gus Dur.
Suryana menceritakan bahwa dirinya pernah diundang menghadiri Muktamar NU di Surabaya.
Bahkan, Gus Dur sempat berkunjung ke Purwokerto dan disambut atraksi barongsai pada 2005 silam.
Hubungan baik ini berlanjut hingga sekarang melalui sang istri, Sinta Nuriyah Wahid.
"Tiap bulan puasa, Ibu Sinta Nuriyah dua kali datang ke Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto. Kami jadi tuan rumah sahur keliling," ungkap Suryana.
Hingga kini, Suryana dan anak-anaknya rutin berziarah ke makam Gus Dur di Jombang.
Ia selalu berpesan kepada generasi muda agar tidak melupakan jasa besar Sang Presiden.
"Kalau minum harus ingat sumber airnya dari mana," pungkasnya. (fba)
| Targetkan 15 Kursi DPRD, PKB Banyumas Gelar Muscab di Purwokerto |
|
|---|
| 7 Tahun Ditutup, Rumput Alun-Alun Purwokerto Kini Boleh Diinjak Lagi |
|
|---|
| Pegawai RSUD Banyumas Tuntut Keadilan Usai BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp12,7 M |
|
|---|
| Makan Bergizi Bukan Cuma Bisnis, Zulhas: Untung Seribu Tetap Untung |
|
|---|
| Latihan Angkat Ransel Dikira Daftar TNI, Siswa SMK di Banyumas Taklukkan 5 Gunung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260211-FOTO-GUS-DUR.jpg)