Resensi Buku
Ketika Emak-emak Membaca Rempah: Ternyata Tak Sekadar Bumbu Dapur
Buku ini tidak menjadikan saya ahli sejarah, apalagi ekonom. Tetapi ia membuat saya lebih sadar. Lebih peka. Rempah ternyata tak sekadar bumbu dapur
Ringkasan Berita:
- Buku Manifesto Rempah dan Herbal Indonesia bagi saya, yang sehari-hari akrab dengan dapur, anak, dan ritme rumah tangga, kata “manifesto” terasa jauh.
- Selama ini, rempah bagi saya hanyalah bumbu dapur.
- Ia hadir dalam bentuk yang sangat domestik: sejumput pala, beberapa butir cengkeh, jahe untuk wedang, kunyit untuk masakan.
- Buku ini memaksa saya berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana mungkin sesuatu yang kita anggap remeh pernah mengguncang dunia?
TRIBUNBANYUMAS.COM - Buku ini bukan milik saya, paling tidak begitu awalnya saya berpikir. Ia adalah hasil jerih payah suami selama berbulan-bulan. Judulnya terdengar besar, bahkan sedikit mengintimidasi. Manifesto Rempah dan Herbal Indonesia. Bagi saya, yang sehari-hari akrab dengan dapur, anak, dan ritme rumah tangga, kata “manifesto” terasa jauh.
Sejarah dan kedaulatan bukan wilayah yang biasa saya masuki.
Namun rasa penasaran itu sederhana. Saya ingin memahami kegelisahan suami.
Mengapa ia begitu sering bicara tentang rempah, tentang sejarah yang tak selesai, tentang bangsa yang lupa pada akarnya sendiri.
Saya membuka buku ini tanpa niat besar. Hanya ingin tahu.
Di situlah kejutan pertama muncul.
Selama ini, rempah bagi saya hanyalah bumbu dapur. Ia hadir dalam bentuk yang sangat domestik: sejumput pala, beberapa butir cengkeh, jahe untuk wedang, kunyit untuk masakan.
Rempah adalah pelengkap rasa, bukan pusat cerita.
Baca juga: Kecamatan Tahunan Sabet Juara Lomba Tumpeng Buah Piala Bupati Jepara
Buku ini memaksa saya berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana mungkin sesuatu yang kita anggap remeh pernah mengguncang dunia?
Halaman demi halaman membawa saya pada kesadaran yang tidak nyaman. Rempah bukan sekadar soal masak-memasak. Ia adalah alasan kapal-kapal datang, darah tumpah, tanah dirampas, dan sejarah bangsa ditulis oleh tangan orang lain. Yang selama ini kita anggap kecil, ternyata adalah poros besar peradaban.
Sebagai ibu rumah tangga, saya mulai melihat dapur dengan cara berbeda. Dapur bukan lagi ruang yang terpisah dari sejarah. Ia justru menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan. Setiap rempah yang saya pegang membawa jejak panjang—tentang pengetahuan leluhur, tentang tubuh yang dirawat secara alami, tentang hubungan manusia dengan alam yang dulu dijaga, bukan dieksploitasi.
Buku ini ditulis oleh suami bersama mentornya, Prof. Yudhie Haryono, dengan bahasa yang tidak menggurui.
Saya seperti diajak bicara pelan-pelan, membuka satu demi satu lapisan kesadaran saya.
Ada bagian-bagian yang membuat saya terdiam lama, ada pula yang membuat hati terasa perih.
Mengapa narasi tentang rempah selama ini dipersempit hanya menjadi bumbu? Mengapa kisah besarnya nyaris hilang dari ingatan kolektif kita?
| Kecamatan Tahunan Sabet Juara Lomba Tumpeng Buah Piala Bupati Jepara |
|
|---|
| Mobil Terkunci saat Parkir di SPBU Jetis, Damkar Kroya Bantu Sopir yang Panik |
|
|---|
| Pemkab Banyumas Cari Investor untuk Kebondalem Purwokerto, Bagaimana Nasib Penyewa Ruko yang Ada? |
|
|---|
| Cuma Rp 5 Ribu, Nikmati Sunset di Embung Cangkring Kebumen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/buku-rempah-guncang-dunia.jpg)