Selasa, 16 Juni 2026

Banyumas

Bayar Sukarela, Perahu Pasir Muat 10 Motor Gantikan Jembatan Serayu

Jembatan Serayu ditutup hingga 30 Juli 2026. Hindari muter 45 menit, warga Banyumas pakai perahu pasir bayar sukarela, Senin (15/6/2026)

Tayang:
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
MENGGUNAKAN PERAHU - Sejumlah warga Desa Kaliori dan Sudagaran tampak memanfaatkan perahu pasir bermesin tempel milik Syamsudin sebagai sarana penyeberangan alternatif di aliran Sungai Serayu, imbas penutupan Jembatan Serayu Banyumas, Senin (15/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Penutupan total Jembatan Serayu Banyumas hingga 30 Juli 2026 membuat warga beralih menggunakan perahu kayu penyeberangan. 
  • Perahu pengangkut pasir milik Syamsudin ini melayani rute Kaliori-Sudagaran. 
  • Awalnya dibuat demi antar anak ke SD IT, kini perahu bermuatan 20 orang dan 10 motor itu membantu warga hingga pedagang pasar. 
  • Tanpa tarif khusus, penumpang cukup membayar sukarela Rp5.000 agar tak perlu memutar jalur Mandirancan 45 menit.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Bagi sebagian orang, penutupan Jembatan Serayu Banyumas mungkin hanya berarti perubahan rute perjalanan semata. Namun bagi para pedagang pasar, pelajar, hingga pekerja yang setiap hari melintasi kawasan tersebut, kebijakan ini cukup mengubah ritme kehidupan mereka.

Beruntung, ada perahu swadaya milik warga yang hadir menjadi jembatan sementara di atas aliran Sungai Serayu.

Sebuah perahu kayu milik warga yang biasanya digunakan untuk mengangkut material pasir, mendadak berubah fungsi menjadi sarana penyeberangan bagi masyarakat yang enggan memutar jalan hingga puluhan menit.

Baca juga: Pasang Portal 2,1 Meter, Dishub Tutup Jembatan Serayu Mulai Pagi Ini

Seperti diketahui, sejak pukul 08.00 WIB, Jembatan Serayu Banyumas resmi ditutup total untuk keperluan pekerjaan perbaikan. Penutupan tersebut dijadwalkan berlangsung selama satu setengah bulan hingga tanggal 30 Juli 2026 mendatang.

Dua sisi jembatan, baik dari arah utara maupun selatan, telah ditutup rapat menggunakan seng pembatas. Meski informasi penutupan sudah disosialisasikan dari jauh hari, masih terlihat sejumlah pengendara mobil, terutama yang berpelat nomor luar daerah, terlanjur datang ke lokasi. Mereka akhirnya terpaksa memutar arah setelah mengetahui jembatan benar-benar tidak dapat dilalui.

Sementara itu, para pengendara sepeda motor dan pejalan kaki nyatanya memiliki pilihan rute lain. Mereka berbondong-bondong menuju sebuah dermaga sederhana yang berjarak sekitar satu kilometer ke arah barat dari jembatan utama.

Dermaga di sisi utara berada di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, tepatnya di kawasan depo pasir. Sedangkan dermaga di sisi selatan berada di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas. Di lokasi dermaga buatan itulah sebuah perahu penyeberangan beroperasi melayani warga sejak pagi.

Perahu yang sebelumnya murni digunakan untuk mengangkut pasir, kini beralih rupa menjadi transportasi alternatif yang menghubungkan dua sisi Sungai Serayu. Sang pemilik perahu, Syamsudin, mengaku layanan tersebut awalnya dibuat sama sekali bukan untuk tujuan bisnis. Ia hanya mencari cara agar aktivitas keluarganya tetap berjalan normal selama jembatan ditutup.

"Awalnya memang karena kebutuhan untuk diri saya sendiri. Kebetulan anak saya sekolah di SD IT, jadi daripada harus muter jauh-jauh, saya bikin perahu untuk penyeberangan. Syukur ada tetangga yang mau ikut, kan bisa untuk ibadah dan aktivitas lainnya," kata Syamsudin kepada Tribunbanyumas.com, Senin (15/6/2026).

Apa yang semula menjadi solusi perjalanan pribadi, ternyata justru berkembang menjadi kebutuhan bersama warga sekitar. Setiap kali berlayar menyeberangi sungai, perahu tersebut mampu mengangkut hingga 20 penumpang dan sekitar 10 unit sepeda motor dalam satu kali perjalanan.

"Kapasitas motor maksimal 10 untuk orang 20 itu sudah cukup. Karena saya hitung dari kapasitas 1 perahu itu kan untuk 1 kubik pasir-pasir itu kan 1,9 ton. Berarti kalau untuk 2 perahu kan sekitar 4 ton. Nah ini kalau untuk kapasitas 20 orang sama motor 10 itu kan gak sampai 4 ton," ujarnya merinci hitungan kapasitas beban.

Menariknya, Syamsudin tidak menetapkan tarif khusus bagi para pengguna jasa penyeberangan air tersebut. Ia hanya menerima uang bayaran seikhlasnya dari warga yang menumpang di atas perahunya.

"Sebenarnya saya ikhlas saja. Tujuannya untuk nolong orang yang mau ke pasar, sekolah, kerja, karena saya sendiri juga butuh. Biasanya kalau bawa motor kasih sekitar Rp5.000. Kalau anak sekolah beda lagi," ungkapnya.

Perahu modifikasi tersebut menggunakan mesin tempel berbahan bakar minyak, sehingga mampu menyeberangi sungai dengan waktu yang relatif cepat. Bahkan, Syamsudin merencanakan bakal mengoperasikan layanan transportasi itu selama 24 jam penuh untuk mengakomodasi tingginya mobilitas masyarakat, terutama para pedagang pasar yang harus beraktivitas sejak dini hari.

"Insyaallah 24 jam. Banyak pedagang yang dari seberang sungai menuju arah Sokaraja atau pasar. Tapi kalau debit air tinggi, ya kami libur. Tidak usah ambil risiko," tegasnya menomorsatukan keselamatan penumpang.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
Live
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved