Banyumas Menuju Pusat Ekspor Gula Kelapa
Jaga Produksi Gula Kelapa, Program Kelapa Genjah Banyumas Dapat Dukungan Swasta dan Pendanaan Jerman
Ambisi Pemkab Banyumas jadi pusat ekspor gula kepala mendapat dukungan pihak swasta dan pendanaan dari Jerman lewat program kelapa genjah.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
Ringkasan Berita:
- Ambisi Pemkab Banyumas jadi pusat ekspor gula kelapa mendapat dukungan swasta dan pendanaan dari Jerman.
- Mereka ingin, produksi gula kelapa Banyumas kontinyu masuk ke pasar global.
- Mereka pun mendukung program kelapa genjah yang kini digencarkan Pemkab Banyumas.
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Produksi gula kelapa Banyumas terancam seiring menurunnya jumlah penderes.
Tingginya risiko kecelakaan kerja akibat memanjat pohon kelapa dengan ketinggian hingga mencapai belasan meter menjadi penyebab.
Kondisi ini juga meresahkan PT Integral Mulia Cipta (IMC), perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi dan ekspor gula kelapa atau gula semut.
Itu sebabnya, mereka mendukung upaya Pemkab Banyumas memperbanyak program kelapa genjah.
Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC) Mario Ngensowidjaja menyebut, proyek kelapa genjah lahir dari kegelisahan industri gula kelapa nasional.
Survei pada 2012 menunjukkan, rata-rata usia penderes 45–55 tahun.
Kini, sebagian besar sudah berusia di atas 60 tahun.
"Sepuluh tahun ke depan, apakah mereka masih bisa memanjat pohon? Tentu tidak," ujar Mario.
Menurutnya, tanpa intervensi, industri gula kelapa bisa bernasib seperti kakao yang dulu menjadi komoditas unggulan tetapi kini Indonesia justru mengimpor ratusan ribu ton.
"Skill memanjat itu barrier utama."
"Kalau tidak ada yang memanjat, tidak ada gula."
"Generasi muda tidak mau lagi."
"Mereka lebih memilih ke kota, jualan online, atau jadi sopir ojek online," katanya.
Selain regenerasi, industri gula kelapa juga menghadapi tantangan standarisasi produksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/02022026-bibit-kelapa-genjah-banyumas.jpg)