Banyumas Menuju Pusat Ekspor Gula Kelapa
Digelontor Kelapa Genjah, Petani Gula Kelapa Banyumas Senang: Kurangi Risiko Jatuh
Pemkab Banyumas terus mendistribusikan bibit kelapa genjah. Petani gula kelapa pun menyambut baik karena mengurangi risiko kerja.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
Ringkasan Berita:
- Pemkab Banyumas terus mendistribusikan bantuan bibit kelapa genjah kepada petani.
- Dengan ketinggian 1 atau dua meter, kelapa sudah bisa panen.
- Kelapa genjah menjadi harapan petani gula kelapa untuk tetap produktif.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, pekerjaan sebagai penderes kelapa seakan kehilangan pamor.
Wawan Ruswandi, anggota Gapoktan Margo Utomo menyebut, hanya satu orang yang masih bertahan memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira.
"Sekarang, di desa saya, cuma satu orang yang masih bertahan sebagai penderes," ujarnya, Minggu (1/21/2026).
Pekerjaan itu, menurutnya, memang tak lagi diminati.
Pohon kelapa yang menjulang tinggi meningkatkan risiko kecelakaan kerja.
Baca juga: Usia 2 Tahunan Panen, Keunggulan Kelapa Genjah Bali Kuning yang Dikembangkan di Banyumas
Tak sedikit penderes yang terjatuh, mengalami cedera serius, bahkan lumpuh.
"Pohon tinggi, banyak terjadi kecelakaan, jadi orang menghindari pekerjaan itu."
"Kami coba supaya petani bisa kembali memproduksi gula dengan kelapa yang pendek," kata Wawan kepada Tribunbanyumas.com.
Tingi 1 Meter Sudah Bisa Dipanen
Harapan baru kini datang dari program pengembangan kelapa genjah varietas kelapa pendek yang mulai berbuah pada ketinggian sekitar 1 sampai 2 meter.
Di desanya, sekitar 2.440 bibit kelapa genjah direncanakan didistribusikan.
Namun, baru 500 bibit yang tiba dan telah ditanam sekitar lima atau enam bulan yang lalu.
Menurut Wawan, program ini sangat prospektif karena jumlah penderes terus menyusut.
Padahal, dulu, hampir setiap warga menggantungkan hidup dari gula kelapa.
Saat ini, satu penderes yang masih bertahan menggarap sekitar 15 pohon, dengan produksi gula cetak sekitar 3 sampai 5 kilogram per hari.
Kondisi itu bisa mencapai 6 kilogram saat kondisi baik.
Harga gula cetak berkisar Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
Kondisi serupa juga dialami produsen gula kelapa di Desa Darma, Kecamatan Ajibarang.
Mereka pun menyambut baik program kelapa genjah.
Baca juga: Pemkab Banyumas Dapat Bantuan 15 Ribu Bibit Kelapa Genjah, Juga Bersiap Kembangkan Kelapa Bido
Bar Fitriana dari Kelompok Tani Gendis Sari mengatakan, kelompoknya yang beranggotakan 15 petani.
"Kendala penderes itu kan karena ketinggian pohon."
"Cuaca hujan, mau seperti apa, harus tetap naik."
"Dengan kelapa genjah, kita dipermudah dan risiko kecelakaan berkurang," kata Bar Fitriana.
Di wilayahnya, ketinggian pohon kelapa bisa mencapai 7 sampai 8 meter, bahkan lebih.
Sebaliknya, kelapa genjah mulai berbuah pada ketinggian 1 sampai 2 meter saja.
Kelompok tani tersebut sebelumnya telah menanam kelapa genjah lokal jenis entok, dengan hasil cukup baik.
"Buahnya banyak, rasanya manis, sama seperti kelapa biasa."
"Sehari bisa dapat 3 liter, kalau bagus bisa 4 liter."
"Kalau kurang bagus, sekitar 1,5 sampai 2 liter," ujarnya.
Pada program sebelumnya, kelompok tani menerima 1.000 bibit kelapa genjah yang kini mulai berbuah sekitar tiga tahun setelah tanam.
Pada tahap terbaru, mereka menerima 500 bibit tambahan, dan direncanakan memperoleh 440 bibit lagi pada Maret 2026 mendatang.
Produktivitas gula dari kelapa genjah memang bervariasi, tergantung kondisi pohon dan cuaca.
Dari 50 pohon, hasil gula bisa berkisar antara 5 hingga 10 kilogram per hari.
Selain gula cetak, petani juga mulai diarahkan memproduksi gula semut yang memiliki nilai jual lebih tinggi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/02022026-bibit-kelapa-genjah-banyumas.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.