Jumat, 24 April 2026

Berita Jepang

Dilema Desakan Penutupan Tambang Granit di Baseh Banyumas, Puluhan Warga Terancam Menganggur

Desakan penutupan tambang batu granit di Baseh Banyumas membuat puluhan warga terancam kehilangan pekerjaan. Granit Baseh menembus pasar Jepang.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
DIPROTES WARGA- Lokasi penambangan batu granit di Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (10/12/2025). Penutupan tambang dikhawatirkan membuat puluhan warga Baseh kehilangan pekerjaan. 
Ringkasan Berita:
  • Penutupan tambang batu granit di Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, dikhawatirkan memicu persoalan baru.
  • Puluhan warga Baseh yang bekerja di pabrik batu granit tak jauh dari lokasi tambang terancam kehilangan pekerjaan.
  • Produksi batu granit pabrik tersebut menembus pasar Yogyakarta, Bali, bahkan ekspor hingga Jepang dan Australia.

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Puluhan warga Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terancam menganggur.

Ancaman ini berada di depan mata setelah warga lain mendesak penutupan tambang batu granit di Baseh.

Sehari-hari, puluhan warga tersebut bekerja di pabrik pemotongan batu granit, tak jauh dari tambang.

"Pabrik ini sudah ada sejak 2002."

"Dari dulu, tidak ada masalah sampai akhirnya menimbulkan gejolak seperti sekarang," ungkap Novianto (44), penanggung jawab pabrik granit di Baseh, Rabu (10/12/2025).

Ia menyebut, ada sekitar 40 pekerja di pabrik tersebut.

Dan, 90 persen di antaranya merupakan warga Baseh.

Baca juga: Ditolak Warga, Tambang Granit di Baseh Banyumas Ternyata Belum Berizin. Bupati Sadewo Lapor Gubernur

Novianto mengatakan, saat ini, pabrik tetap beroperasi meski aktivitas penambangan berhenti sementara sejak 4 November.

Mereka masih memiliki stok batu granit yang harus diproduksi.

Namun, stok bahan baku hanya cukup untuk tiga bulan ke depan.

"Kalau sampai berhenti total, ya tidak ada lagi bahan baku," terangnya. 

Menurut Novianto, batu granit produksi Baseh dikirim ke Yogya, Bali, bahkan ekspor ke Jepang dan Australia.

Setiap hari, produksi batu granit Baseh mencapai 60 meter persegi per hari.

Novianto berharap, penambangan batu granit di Baseh tak ditutup setelah dilakukan perbaikan.

Sesuai rekomendasi dari ESDM Jateng, PT Dinas Batu Agung sebagai pemilik tambang batu granit diberi waktu melakukan penataan area bukaan tambang agar sesuai kaidah teknis pertambangan.

Pemilik tambang juga diminta melakukan pengendalian air permukaan secara baik.

"Harapan saya, kita jalankan rekomendasi dulu selama 60 hari."

"Kalau bisa, jangan ada aksi lagi karena menguras tenaga."

"Nanti dievaluasi seperti apa."

"Harus dikaji, mana yang berbahaya, mana yang tidak." 

"Karena, sebagian warga juga kerja di sini," ujarnya.

Novianto menyebut, pabrik dan tambang batu granit berada di RT 07 RW 05 Desa Baseh.

Banyak pemuda desa pernah bekerja di pabrik maupun tambang batu granit itu.

Di pabrik, 8 orang bekerja di bagian produksi dan dua menjadi operator mesin.

"Kalau tambang itu ranahnya DPA."

"Pabrik tetap berjalan. Yang dihentikan hanya tambang untuk penataan lahan dan dampak lingkungan," ucapnya. 

Rusak Kolam Hingga Pertanian

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga menggelar aksi di DPRD Banyumas untuk menolak penambangan batu granit di Baseh, Kedungbanteng.

Menurut mereka, tambang batu granit menimbulkan kerusakan serius di lingkungan mereka.

Tercatat, sebanyak 19 kolam ikan milik warga rusak akibat endapan pasir, kerikil, dan lumpur dari area tambang. 

Baca juga: 2 Tambang di Banyumas Bikin Bupati Sadewo Pusing: Ditolak Warga tapi Izin Dikeluarkan Pemprov Jateng

Air keruh mengganggu fotosintesis alga dan tanaman air, membuat kolam-kolam itu tak lagi produktif.

Sementara, material tambang menimbun struktur tanah dan membuat 24 hektare lahan pertanian tak lagi subur. 

Debu tambang turut mengendap di permukaan tanaman.

Hasil panen menurun dan sebagian sawah mulai tampak seperti padang pasir. 

Saat musim hujan, batu dan lumpur dari bukit penambangan kerap hanyut ke jalan desa hingga membuat jalan licin dan penuh material.

Selain khawatir longsor, keberadaan tambang batu granit ini juga ditakutkan merusak sumber air yang digunakan 100 kepala keluarga (KK).

"Jangan sampai Baseh mengalami apa yang terjadi di daerah lain," kata warga Baseh, Budi Tartanto. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved