Berita Jateng
Suhu Kawah Gunung Slamet Melonjak, Ada Indikasi Pergerakan Magma
peningkatan aktivitas Gunung Slamet terdeteksi dari dua indikator utama, yakni suhu kawah dan aktivitas kegempaan
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Aktivitas vulkanik Gunung Slamet meningkat seiring dengan kenaikan suhu kawah hingga 460 derajat celsius.
Data ini diungkap dalam sosialisasi mitigasi bencana geologi yang digelar Kementerian ESDM di Aston Purwokerto, Kamis (23/4/2026), sebagai peringatan dini bagi lima kabupaten di sekitarnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Priatin Hadi Wijaya, menyebutkan peningkatan aktivitas Gunung Slamet terdeteksi dari dua indikator utama, yakni suhu kawah dan aktivitas kegempaan.
"Dari hasil citra termal yang kami buat, sebelum Maret suhu masih di kisaran 280 derajat Celsius, kemudian naik menjadi 418 derajat, dan terakhir mencapai 460 derajat Celsius," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com.
Selain itu, peningkatan juga terlihat dari aktivitas gempa berfrekuensi rendah (low frequency) yang menunjukkan adanya pergerakan magma dari bagian dalam menuju permukaan.
"Ini yang perlu menjadi kewaspadaan bersama," katanya.
Atas kondisi tersebut, PVMBG telah memperluas radius kawasan rawan bencana dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari puncak Gunung Slamet.
Baca juga: Kebutuhan di 460 Desa dan Kelurahan, Penempatan PPPK di KDMP Kebumen Pertimbangkan Jarak
Menurutnya, hingga saat ini perluasan radius tersebut dinilai masih cukup.
Namun, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan melakukan evaluasi jika aktivitas kembali meningkat.
Sebagai pembanding, pada erupsi tahun 2014, status Gunung Slamet sempat dinaikkan ke Level III (Siaga) dengan radius bahaya mencapai 4 kilometer.
Priatin menegaskan, pemantauan Gunung Slamet dilakukan secara intensif menggunakan berbagai metode, mulai dari pemantauan visual melalui CCTV hingga pemantauan instrumental.
Peralatan yang digunakan meliputi seismometer, alat pemantau deformasi, hingga teknologi seperti EDM untuk mendeteksi inflasi dan deflasi tubuh gunung.
"Kalau dari visual dan data menunjukkan peningkatan signifikan, maka peningkatan status harus segera dilakukan," jelasnya.
Ia menegaskan seluruh sistem pemantauan tersebut ditujukan untuk mendukung mitigasi secara cepat, sehingga pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah penyelamatan masyarakat.
"Yang terpenting adalah keselamatan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260404-status-waspada-gunung-slamet.jpg)