Berita Cilacap
Longsor di Padangjaya Majenang Meluas hingga Merusak 89 Rumah
Pergerakan tanah terjadi di dua dusun yaitu Jatiluhur dan Jatimulya dengan dampak kerusakan yang semakin meluas.
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM,CILACAP - Bencana pergerakan tanah kembali terjadi di Desa Padangjaya Kecamatan Majenang, setelah hujan deras berkepanjangan pada November 2025.
Pergerakan tanah terjadi di dua dusun yaitu Jatiluhur dan Jatimulya dengan dampak kerusakan yang semakin meluas.
Menurut Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggunglangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap Budi Setyawan, fenomena ini sudah berulang sejak 2017, 2023 hingga tahun 2025.
“Daerah tersebut merupakan kawasan gerakan tanah aktif tipe lambat berdasarkan kajian tim geologi,” kata Budi, Selasa (9/12/2025).
Sebanyak 89 rumah warga mengalami kerusakan mulai kategori ringan, sedang hingga rusak berat.
“Pada kejadian sebelumnya di 2023 hanya 23 rumah terdampak, tetapi sekarang meningkat signifikan,” ujarnya.
Selain permukiman, satu mushola dan satu fasilitas pendidikan RA Asidiq juga ikut terdampak.
Budi mengatakan, jalan kabupaten dan sejumlah jalan lingkungan dilaporkan amblas akibat pergerakan tanah susulan.
Selain itu, turap penguat tebing hunian tetap sepanjang sekitar 20 meter dengan tinggi 2 meter juga dilaporkan ambrol.
"Sebagian warga telah mengungsi karena kondisi rumah yang tidak lagi aman untuk dihuni," kata Budi.
Budi mengatakan, pemerintah desa telah membuka Posko Tanah Longsor untuk penanganan warga terdampak.
Baca juga: Bertahun-tahun Proyek Pembangunan Gedung DPRD Purbalingga Belum Selesai, Ini Masalahnya
BPBD juga menyalurkan bantuan sembako sebanyak 84 paket kepada warga di posko utama.
“Kami sudah melakukan pendataan, peninjauan lokasi serta koordinasi dengan dinas terkait,” jelas Budi.
Budi mengatakan, upaya mendesak adalah percepatan kajian geologi pada titik gerakan tanah baru.
“Kami juga mengupayakan penyediaan huntara bagi warga yang rumahnya rusak berat,” tambahnya.
Selain itu, penanganan bronjong kawat dan kantong pasir diperlukan untuk mencegah turap yang ambrol semakin meluas.
"Pergeraka tanah masih berlangsung dan petugas masih terus memantau perkembangan di lapangan," ujar Budi. (ray)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Longsor-padangjaya.jpg)