Perusahaan Geo Wehry & Co sendiri berkembang pesat pada awal abad ke-20, bahkan ikut merambah industri manufaktur.
Namun aktivitas mereka mulai terhenti ketika Jepang masuk pada 1942.
Setelah kemerdekaan, status perusahaan pun melemah, hingga akhirnya bangunan itu beralih fungsi.
Kini, gedung bersejarah itu dimanfaatkan untuk aktivitas komersial, sejalan dengan perkembangan kawasan Kota Lama sebagai destinasi wisata.
Tri Subekso menyayangkan musibah kebakaran yang meludeskan sebagian besar lantai dua gedung.
Ia menilai peristiwa ini menjadi pengingat bahwa merawat cagar budaya membutuhkan perhatian ekstra.
“Merawat cagar budaya itu sulit dan mahal. Tapi warisan seperti ini harus dijaga. Kebakaran kemarin menjadi refleksi bagi kita semua untuk lebih siap menghadapi risiko,” ujarnya.
Bisa Dipulihkan
Tri optimis bangunan masih bisa dipulihkan. Dari foto yang beredar, struktur tembok bagian bawah dinilai masih cukup kokoh.
“Tentu nanti perlu kajian teknis. Tapi dengan metode restorasi, desainnya bisa dikembalikan tanpa merubah otentisitas. Itu prinsip pelestarian cagar budaya,” tegasnya.
Bagi Tri, yang paling penting adalah memastikan gedung ini tidak kehilangan nilai sejarahnya.
“Kalau nanti direhabilitasi, yang dijaga adalah keasliannya. Jangan sampai bentuknya berubah karena itu bisa mengurangi nilai sejarah. Kita sudah punya banyak contoh bagaimana bangunan bersejarah yang rusak direstorasi kembali, misalnya Pasar Johar,” pungkasnya. (Rad)