Rabu, 22 April 2026

Berita Jateng

Potret Seram Eks Penjara Perempuan Gerwani di Pedalaman Kendal

Tempat itu dikenal dengan nama Kamp Plantungan, penjara khusus perempuan yang beroperasi sejak awal 1970-an

Penulis: budi susanto | Editor: khoirul muzaki
Budi Susanto
SISA PENINGGALAN - Beberapa bangunan yang digunakan untuk mengisolasi tahanan politik di era 1970-an masih berdiri kokoh di Kamp Pelantungan yang terletak di Pelantungan Kabupaten Kendal, beberapa waktu lalu. Bangunan tersebut terletak di perbatasan Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang Jawa Tengah 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Di pedalaman Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, berdiri sebuah kompleks tua yang pernah menjadi saksi sejarah gelap Indonesia. 

Tempat itu dikenal dengan nama Kamp Plantungan, penjara khusus perempuan yang beroperasi sejak awal 1970-an hingga 1979.

Kini yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan. Namun jejak fisiknya masih jelas terlihat, seolah menyimpan kisah panjang yang jarang dibicarakan.

Plantungan mulanya adalah sanatorium peninggalan Belanda untuk penderita kusta. Namun di era Orde Baru, bangunan itu diubah menjadi penjara khusus tahanan politik perempuan.

Mereka bukanlah kriminal. Di balik jeruji, ada aktivis, guru, dokter, sastrawan, bahkan ibu rumah tangga biasa. Banyak dari mereka dituduh berafiliasi dengan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), organisasi perempuan yang sebelum 1965 pernah menjadi salah satu terbesar di Asia.

Gerwani aktif memperjuangkan kesetaraan gender, kesehatan ibu-anak, hingga pemberantasan buta huruf. Namun setelah peristiwa G30S 1965, organisasi ini dilabeli terlibat, dan sejak saat itu namanya tenggelam dalam stigma.

Sejumlah tokoh besar pernah mendekam di Plantungan. Di antaranya Umi Sardjono, ketua terakhir Gerwani,  Salawati Daud, wali kota perempuan pertama Indonesia, Mia Bustam, penulis sekaligus istri pelukis Hendra Gunawan; hingga Dr. Sumiyarsi Siwirini, seorang dokter yang tetap mengobati sesama tahanan meski dalam keterbatasan.

Dikutip Tribunjateng.com, Kamis (28/8/2025) dari penelitian Oral History in Indonesian Contemporary Historiography karya Dwi Lestariningsih, kehidupan para tahanan penuh tekanan. 

Mereka dipisahkan dari keluarga, kehilangan pekerjaan, dan setiap aktivitas diawasi ketat aparat. Bahkan untuk menulis surat pun harus melewati sensor militer.

Meski begitu, muncul solidaritas di balik tembok kawat berduri. Para perempuan itu saling menopang, mengajar satu sama lain, membuat kelas-kelas kecil, dan berusaha menjaga martabat meski dibebani stigma “perempuan Gerwani” yang kerap lebih menyakitkan dibanding kurungan itu sendiri.

Kisah para tapol (tahanan politik) juga masih diingat warga sekitar. Sukarni, warga Desa Sangubanyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, masih mengingat jelas masa kecilnya.

"Waktu saya kecil, penjara itu dijaga enam pos brimob bersenjata lengkap. Dari bukit saya bisa melihat aktivitas para tahanan di dalam," kenangnya beberapa waktu lalu.

Meski dibatasi kawat berduri, interaksi sederhana tetap terjalin. Para tahanan kerap membuat kerajinan, menjahit pakaian, bahkan membagikan hasilnya kepada warga sekitar.

"Saat suami saya kecil, dia pernah diberi baju dari hasil jahitan para tahanan wanita. Mereka itu ramah, bahkan sebelum dibebaskan pada 1979, beberapa memberi makanan dan pakaian," tutur Sukarni.

Baca juga: Janji Setia Dua Mempelai Menikah di Tahanan Banjarnegara, Ketulusan Wanita yang Teruji

Ia bahkan masih mengingat salah satu nama tahanan. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved