Rabu, 15 April 2026

Sejarah Purbalingga

Mengulik Cikal Bakal Banyumas Raya Lewat Bedah Buku Babad Wirasaba

Buku yang ditulis dalam bahasa Jawa pada 1927 ini berisi sejarah cikal bakal Purbalingga dan tiga kabupaten tetangganya.

TRIBUN BANYUMAS/ FARAH ANIS RAHMAWATI
BEDAH BUKU WIRASABA: Prof. Dr. Sugeng Priyadi (berbatik, kiri) saat menyerahkan buku Babad Wirasaba kepada Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif (kanan), dalam acara bedah buku di Gedung Dinarspus Purbalingga, Rabu (20/8/2025). Kegiatan ini digelar untuk mengenalkan kembali sejarah cikal bakal Kabupaten Purbalingga dan wilayah Banyumas Raya. (TRIBUNJATENG/FARAH ANIS RAHMAWATI) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarspus) Kabupaten Purbalingga menggelar acara bedah buku "Babad Wirasaba" untuk mengenalkan kembali sejarah dan cikal bakal berdirinya Purbalingga serta wilayah Banyumas Raya kepada masyarakat luas.

Acara yang diikuti oleh 150 peserta ini digelar di Gedung Perpustakaan Umum Purbalingga, Rabu (20/8/2025).

Buku Babad Wirasaba merupakan naskah kuno yang ditulis oleh R. Darmasumarta pada tahun 1927 dalam bahasa Jawa.

Baca juga: Purbalingga Kulon Tembus 5 Besar Lomba Kampung Pancasila se-Jawa dan Bali, Ini Hadiahnya Jika Juara

Harapan Bupati: Kembalikan Kejayaan Wirasaba 

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, yang turut hadir dalam acara tersebut, berharap, kegiatan ini dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk lebih mendalami sejarah Wirasaba.

Menurutnya, Wirasaba pada masa lampau merupakan ibu kota bagi empat kabupaten, yaitu Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Cilacap.

"Kami berharap, kejayaan yang dulu ada di Wirasaba ketika menjadi ibu kota bagi empat kabupaten itu bisa jaya kembali," ujar Bupati Fahmi.

Ia juga berkomitmen untuk mendukung berbagai program dan kegiatan lain yang bertujuan mengangkat kembali sejarah Wirasaba.

Pelajaran Budi Pekerti dari Naskah Kuno 

Sutarman, penerjemah buku tersebut, menjelaskan, naskah asli Babad Wirasaba ditulis dalam bentuk tembang macapat yang terdiri dari 387 bait.

Menurutnya, selain berisi catatan sejarah, buku ini juga sarat akan pelajaran budi pekerti yang masih relevan hingga saat ini.

"Terdapat beberapa pelajaran yang bisa diambil, seperti kepatuhan anak terhadap orangtua, serta pelajaran agar tidak mengambil keputusan saat sedang marah dan pentingnya bermusyawarah," jelasnya.

Pihak Dinarspus berharap, acara ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap naskah-naskah kuno yang menjadi bagian penting dari sejarah lokal.

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved