Success Story
Manfaatkan kekayaan Alam, Batik Bikinan Putri Kini Tembus Pasar Dunia
Putri tak menggunakan pewarna kimia. Ia meracik warna dari daun ketapang, batang kayu secang, kayu tegeran, dan aneka tanaman yang ditanam sendiri
Penulis: budi susanto | Editor: Rustam Aji
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Motif batik di Indonesia cukup beragam, mulai dari warna hingga bahannya.
Salah satu motif batik yang kini mulai merambah pasar, baik nasional maupun internasional, adalah batik bikinan Putri Merdekawati.
Batik ciptaan Putri agak berbeda dari yang lainnya.
Ia menggunakan warna alami dari kekayaan alam yang ada di sekitar rumahnya.
Awal meniti karir sebagai pembatik, sekadar coba-coba.
Namun siapa sangka, dari sebuah rumah sederhana di Jl. Watusari, Kelurahan Pakintelan, Gunungpati Semarang, kini lahir karya-karya batik alami yang kini mewarnai dunia dari Asia hingga Amerika.
Putri Merdekawati, bukan perancang busana atau pebisnis tekstil ternama.
Ia adalah mantan karyawan swasta yang memilih pulang kampung dan memulai segalanya dari nol dengan satu tekad, menciptakan batik yang ramah lingkungan, yang lahir dari akar budaya dan cinta pada bumi.
"Awalnya saya belajar dari teman, sekadar coba-coba. Tapi lama-lama saya merasa ini bukan sekadar kain bermotif, ini adalah cara saya berdamai dengan alam," ujar Putri pelan, sambil menunjukkan lembaran batik yang baru selesai dijemur di teras rumah produksinya yang dikelilingi kebun, Minggu (25/5/2025).
Putri tak menggunakan pewarna kimia. Ia meracik warna dari daun ketapang, batang kayu secang, kayu tegeran, dan aneka tanaman yang ditanam sendiri di pekarangan rumah.
Baca juga: Hadiri Sedekah Laut di Tambak Lorok, Wali Kota Semarang Bangga Tradisi Leluhur Terjaga
Bahkan limbah dapur pun dimanfaatkan. Untuk motif, ia gunakan daun jati, daun kelengkeng, bahkan daun alpukat semuanya dari alam.
Motif batik terus ia kembangkan setiap 2 hingga 3 bulan, mengikuti tren pasar yang ia riset sendiri. Bagi Putri, motif bukan hanya soal estetika, tapi cerita.
"Setiap pola ada kisahnya, ada harapan, ada doa untuk alam dan manusia," katanya.
Usaha yang ia rintis sejak 2017 itu kini memiliki 13 karyawan, mayoritas ibu-ibu sekitar yang sebelumnya tak punya penghasilan tetap.
Mereka diajak belajar, diberi kesempatan, dan kini ikut menggerakkan roda ekonomi kecil dari pinggiran hutan.
| Hadiri Sedekah Laut di Tambak Lorok, Wali Kota Semarang Bangga Tradisi Leluhur Terjaga |
|
|---|
| Prihatin Rob di Sayung Demak, Gubernur Jateng Luthfi Mengaku Malu Tak Ada Perubahan |
|
|---|
| Beri Pesan ke Pemuda Muhammadiyah, Bupati Purbalingga: Jadilah Penggerak Kemajuan! |
|
|---|
| Sony Targetkan Nol Kasus Keracunan MBG, SPPG Harus Pastikan Makanan yang Disajikan Higienis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/batik-putri-oke.jpg)