Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Purbalingga

Wisuda SMK di Purwokerto Viral, Pengamat Pendidikan: Bukan Monopoli Kampus tapi Harus Kontekstual

Pengamat Pendidikan sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Saizu Purwokerto Prof Fauzi mengomentari soal prosesi wisuda SMK viral.

Tayang:
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
DOK PRI PROF FAUZI
BAHAS WISUDA SMK VIRAL - Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Saizu Purwokerto Prof Fauzi. Mengomentari acara wisuda SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto yang viral di media sosial, Fauzi menyebut, acara wisuda bukanlah monopoli perguruan tinggi namun tetap memperhatikan aspek substansi dan regulasi. 

Soal atribut, ia menyebut, setiap lembaga memang bisa menentukan sendiri namun perlu mempertimbangkan urgensinya.

"Kalau meniru, kenapa harus begitu? Esensinya apa? Misalkan, untuk motivasi anak melanjutkan kuliah bisa jadi, tapi kalau hanya ikut-ikutan, lebih baik dipertimbangkan ulang," imbuhnya. 

Harus Kontekstual

Menurut Prof Fauzi, tradisi wisuda sudah berlangsung lama.

Tradisi ini berasal dari universitas klasik, seperti Oxford dan Cambridge di Inggris, yang membawa tradisi toga dan jubah dari pengaruh budaya Italia. 

Namun, pelaksanaan tradisi itu, di Indonesia, harus dikontekstualisasikan.

"Atribut wisuda mengalami perubahan sesuai kesepakatan masing-masing lembaga."

"Misalnya, topi toga lazimnya segi lima, tapi di ITB bentuknya bulat."

"Bahkan, di beberapa UIN, ada yang pakai peci," katanya. 

Baca juga: Wisuda Kelulusan Viral, SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto Tarik Biaya Rp600 Ribu Per Anak

Ia menegaskan, yang terpenting dari sebuah prosesi kelulusan adalah bagaimana membekali siswa dengan kesiapan mental dan softskill pascalulus, bukan sekadar seremoni.

"Saya tidak mengatakan itu tidak baik tapi perlu mempertimbangkan urgensinya."

"Yang penting adalah mempromosikan kehidupan pasca studi, membangun kesiapan mental, dan mempersiapkan studi lanjut atau dunia kerja," tegasnya. 

Ia juga menambahkan, acara wisuda di luar perguruan tinggi sah-sah saja selama memiliki dasar regulasi dan disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan.

"Ini bukan hal baru, hanya formulasinya yang berbeda-beda di tiap lembaga."

"Yang penting jangan sampai membebani siswa hanya demi penampilan seremoni," ujar Prof Fauzi. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved