Berita Purbalingga
Wisuda SMK di Purwokerto Viral, Pengamat Pendidikan: Bukan Monopoli Kampus tapi Harus Kontekstual
Pengamat Pendidikan sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Saizu Purwokerto Prof Fauzi mengomentari soal prosesi wisuda SMK viral.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pengamat Pendidikan sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Saizu Purwokerto, Prof Dr Fauzi, MAg memberi komentar terkait prosesi wisuda kelulusan siswa SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto yang viral di media sosial.
Prof Fauzi mengatakan, kegiatan wisuda bukanlah monopoli perguruan tinggi.
Meski begitu, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan aspek substansi dan regulasi.
Diketahui, dalam video yang tersebar di TikTok dan Instagram, siswa SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto mengikuti prosesi wisuda layakknya kelulusan di perguruan tinggi.
Mereka memakai toga lengkap.
Baca juga: SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto Buka Suara setelah Wisuda Kelulusan Viral: Tradisi Sejak 2013
Begitu pun guru dan kepala sekolah, layaknya senat kampus, memakai atribut menyerupai guru besar.
"Sebetulnya, wisuda itu kita maknai sebagai pelantikan orang yang telah selesai studi."
"Jadi, kalau menyelenggarakan wisuda, siapapun lembaga berhak menyelenggarakan," ujar Prof Fauzi kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (14/5/2025).
Ia mengakui, secara tradisi, wisuda memang identik dengan kelulusan sarjana.
Namun, kini, pergeseran makna telah terjadi, bahkan lembaga pendidikan non-formal hingga Taman Kanak-kanak pun mengadopsi tradisi serupa.
"Dalam aspek sosiologis, kegiatan wisuda tidak semata-mata di perguruan tinggi."
"SMA, SMK, hingga TK pun menyelenggarakan sebagai bentuk pengakuan telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu," ujarnya.
Soroti Penggunaan Istilah dan Atribut
Kendati demikian, Prof Fauzi menyoroti penggunaan istilah seperti 'Senat Terbuka' dan atribut kelulusan yang menyerupai perguruan tinggi.
Ia mempertanyakan apakah di tingkat SMK memang ada struktur senat akademik yang secara regulatif berwenang menggelar prosesi tersebut.
"Apakah betul di SMK itu ada senat akademik? Karena istilah senat adalah lembaga normatif yang memiliki kewenangan menggelar sidang senat terbuka," ungkapnya.
Soal atribut, ia menyebut, setiap lembaga memang bisa menentukan sendiri namun perlu mempertimbangkan urgensinya.
"Kalau meniru, kenapa harus begitu? Esensinya apa? Misalkan, untuk motivasi anak melanjutkan kuliah bisa jadi, tapi kalau hanya ikut-ikutan, lebih baik dipertimbangkan ulang," imbuhnya.
Harus Kontekstual
Menurut Prof Fauzi, tradisi wisuda sudah berlangsung lama.
Tradisi ini berasal dari universitas klasik, seperti Oxford dan Cambridge di Inggris, yang membawa tradisi toga dan jubah dari pengaruh budaya Italia.
Namun, pelaksanaan tradisi itu, di Indonesia, harus dikontekstualisasikan.
"Atribut wisuda mengalami perubahan sesuai kesepakatan masing-masing lembaga."
"Misalnya, topi toga lazimnya segi lima, tapi di ITB bentuknya bulat."
"Bahkan, di beberapa UIN, ada yang pakai peci," katanya.
Baca juga: Wisuda Kelulusan Viral, SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto Tarik Biaya Rp600 Ribu Per Anak
Ia menegaskan, yang terpenting dari sebuah prosesi kelulusan adalah bagaimana membekali siswa dengan kesiapan mental dan softskill pascalulus, bukan sekadar seremoni.
"Saya tidak mengatakan itu tidak baik tapi perlu mempertimbangkan urgensinya."
"Yang penting adalah mempromosikan kehidupan pasca studi, membangun kesiapan mental, dan mempersiapkan studi lanjut atau dunia kerja," tegasnya.
Ia juga menambahkan, acara wisuda di luar perguruan tinggi sah-sah saja selama memiliki dasar regulasi dan disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan.
"Ini bukan hal baru, hanya formulasinya yang berbeda-beda di tiap lembaga."
"Yang penting jangan sampai membebani siswa hanya demi penampilan seremoni," ujar Prof Fauzi. (*)
| Warga Karangpucung Banyumas Ditangkap saat Edarkan Sabu di Purbalingga, Dapat Upah Hingga Rp2,5 Juta |
|
|---|
| Purbalingga Sepi, Buruh Pilih Senam dan Jalan Sehat Peringati Hari Buruh |
|
|---|
| Diskusi Bareng Tribun Banyumas, Kapolres Purbalingga AKBP Anita Ajak Media Mainstream Jadi Pencerah |
|
|---|
| Hari Buruh di Purbalingga Diperkirakan Diikuti 10 Ribu Orang, Tak Ada Unjuk Rasa Tapi Bakti Sosial |
|
|---|
| Insiden Penyalaan Flare saat Kontra Persak, Siapkah Purbalingga Jadi Tuan Rumah Liga 4 Nasioal? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/14052025-Dekan-Fakultas-Tarbiyah-dan-Ilmu-Keguruan-FTIK-UIN-Saizu-Purwokerto-Prof-Fauzi.jpg)