Kamis, 30 April 2026

Berita Jateng

Pesta Lomban, Masyarakat Jepara Larung Kepala Kerbau ke Laut

Warga masyarakat Kabupaten Jepara sambut antusias prosesi arak-arakan miniatur kapal larungan sesaji pembawa kepala kerbau dari rumah lurah

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Rustam Aji
TRIBUNJATENG/TITO ISNA UTAMA
LARUNG KEPALA KERBAU - Suasana antusias masyarakat saat menyaksikan arak-arak miniatur kapal larungan pembawa sesaji kepala kerbau saat sampai di TPI Ujungbatu Jepara. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Masyarakat Kabupaten Jepara sambut antusias prosesi arak-arakan miniatur kapal larungan sesaji pembawa kepala kerbau dari rumah lurah hingga ke TPI Ujungbatu, Kabupaten Jepara.

Miniatur tersebut nantinya akan dilarungkan ke tengah laut saat pelaksanaan Pesta Lomban pada Senin pagi, 7 April 2025.

Sebelum dilakukan larungan, Miniatur kapal larungan ini harus melalui prosesi seperti pengisian sesaji dan doa terlebih dahulu.

Seusai pembacaan doa dan pengisian sesaji seperti kepala kerbau, pisang raja, satu ekor ayam ingkung, satu ekor ayam bakar, dan kupat lepet.

Miniatur kapal larungan diarak sejauh sekiranya 700 meter, dalam arakan itupun disaksikan banyak masyarakat dan diiringi tarian Sarnemi.

Baca juga: Puncak Arus Balik Lewati Kabupaten Semarang Sabtu, Kendaraan Per Jam 3.000 di GT Banyumanik

Sesepuh Desa Ujungbatu, Suwarno (65) mengatakan sesaji yang akan dilarung didalam kapal memang berbagai macam.

"Larungan macam-macam seperti kepala kerbau, oborampe seperti pisang raja, kupat lepet, ayam ingkung dan ayam bakar, dekem," ucap Suwarno kepada Tribunjateng, Minggu (6/4/2025).

Dia menjelaskan untuk sesaji yang disiapkan masih sama dengan tahun sebelumnya.

"Tetap sama, dari tahun sebelumnya seperti ini, karena ada catatan yang perlu dikerjakan apa yang dicatat oleh sesepuh," ungkapnya.

Suwarno menuturkan tujuan pelaruang miniatur kapal pembawa sesaji kepala kerbau, untuk menolak balak dan membawa rejeki bagi para nelayan.

Baca juga: Polisi Pelaku Pemukulan terhadap Jurnalis Foto di Semarang Minta Maaf, Janji akan Lebih Dewasa

"Kenapa kepala yg dilarung karena pada jaman Nabi, pemimpin yang tidak baik digambarkan kepala, kerbau orang jawa menilai orang bodo.Perlu dilarung kebodohan, untuk meningkatkan taraf hidup seorang nelayan," tuturnya.

Sementara untuk arak-arakan ini bertujuan supaya melestarikan kebudayaan yang pernah ada dari jaman dulu.

"Mewujudkan budaya tetap kitajaga, budaya lama kami teruskan," tutupnya. (Ito)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved