Berita Jateng
Fenomena Bediding Dirasakan Warga Jateng, Ini Kata BMKG dan Akademisi
Bediding adalah kondisi dimana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: mamdukh adi priyanto
TRIBUNBANYUMAS.COM - Belakangan ini udara atau suhu terasa dingin dari malam sampai pagi hari. Fenomena ini disebut dalam Bahasa Jawa bediding.
BMKG dan akadmisi dari Universitas Muria Kudus mengungkapkan fenomena bediding ini.
Bediding adalah kondisi dimana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya.
Baca juga: Fenomena Bediding Mulai Terasa di Awal Musim Kemarau, Jadi Tanda Kemunculan Embun Es di Dieng
Dalam keterangan tertulis, BMKG menyebut fenomena bediding terjadi saat musim kemarau.
Yang mana tutupan awan yang sedikit di siang hari menyebabkan radiasi matahari tidak memiliki hambatan oleh awan saat kembali ke atmosfer.
"Selain itu, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin."
"Tekanan udara tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau disebut Monsson Dingin Australia," tulis BMKG dikutip Tribunbanyumas.com, Selasa (16/7/2024).
Baca juga: Peringatan BMKG, Waspada Banjir Rob di Pantura Jawa Tengah Tanggal 24 Juni
Akibatnya, lanjut BMKG, suhu di beberapa wilayah bagian selatan Indonesia, termasuk Jateng terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
Sementara, akademisi Psikologi Lingkungan Universitas Muria Kudus, Widjanarko mengatakan, fenomena bediding atau udara dingin, adalah hal normal yang terjadi pada puncak musim kemarau.
Fenomena bediding utamanya terjadi di Indonesia pada bagian selatan Jawa hingga NTT, biasanya udara dingin dirasakan saat kondisi cerah atau beberapa lama tidak ada hujan.
Seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Kudus, meski kondisi siang hari terasa panas namun udara di malam hari terasa dingin hingga mempengaruhi suhu air, yang masih terasa dingin saat esok paginya.
"Kondisi yang kita sebut mbediding ini disebabkan Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia, melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih rendah atau dingin," ujarnya, Selasa (16/7/2024).
Dia menambahkan bahwa angin Monsun Australia ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, terlebih pada malam hari di saat suhu mencapai titik minimumnya.
Sehingga, suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia terutama wilayah bagian Selatan khatulistiwa terasa lebih dingin.
"Fenomena suhu dingin akan terus terjadi menjelang puncak musim kemarau di bulan Juli-Agustus."
"Bahkan kemungkinan bakal terjadi sampai September 2024," tambahnya. (*)
| Pengendara Heran Tiap Malam Pertalite di SPBU Habis, Sulit Dipercaya |
|
|---|
| Pengendara Bingung, Hanya Melintas Jalan Hutan Baturraden Wajib Bayar Tiket |
|
|---|
| Bentuk Dukungan Pemkab Blora untuk Koperasi Merah Putih |
|
|---|
| Truk Guling Lagi, Ada Apa dengan Tanjakan Silayur Ngalian Semarang |
|
|---|
| Botok dan Teguh AMPB Pimpin Demo Lagi, Tuntut Kapolresta Pati Dicopot |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/hamparan-rumput-di-halaman-objek-wisata-candi-arjuna-dieng-diselimuti-embun-es-rabu-772021.jpg)