Rabu, 13 Mei 2026

Berita Jateng

Fenomena Bediding Dirasakan Warga Jateng, Ini Kata BMKG dan Akademisi

Bediding adalah kondisi dimana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya.

Tayang:
TRIBUNBANYUMAS/UPT Objek Wisata Dieng
Ilustrasi bediding. Hamparan rumput di halaman objek wisata Candi Arjuna Dieng diselimuti embun es atau bun upas. BMKG dan pakar mengungkapkan fenomena bediding yang tengah terjadi. 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Belakangan ini udara atau suhu terasa dingin dari malam sampai pagi hari. Fenomena ini disebut dalam Bahasa Jawa bediding.

BMKG dan akadmisi dari Universitas Muria Kudus mengungkapkan fenomena bediding ini.

Bediding adalah kondisi dimana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya.

Baca juga: Fenomena Bediding Mulai Terasa di Awal Musim Kemarau, Jadi Tanda Kemunculan Embun Es di Dieng

Dalam keterangan tertulis, BMKG menyebut fenomena bediding terjadi saat musim kemarau.

Yang mana tutupan awan yang sedikit di siang hari menyebabkan radiasi matahari tidak memiliki hambatan oleh awan saat kembali ke atmosfer.

"Selain itu, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin."

"Tekanan udara tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau disebut Monsson Dingin Australia," tulis BMKG dikutip Tribunbanyumas.com, Selasa (16/7/2024).

Baca juga: Peringatan BMKG, Waspada Banjir Rob di Pantura Jawa Tengah Tanggal 24 Juni

Akibatnya, lanjut BMKG, suhu di beberapa wilayah bagian selatan Indonesia, termasuk Jateng terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari.

Sementara, akademisi Psikologi Lingkungan Universitas Muria Kudus, Widjanarko mengatakan, fenomena bediding atau udara dingin, adalah hal normal yang terjadi pada puncak musim kemarau.

Fenomena bediding utamanya terjadi di Indonesia pada bagian selatan Jawa hingga NTT, biasanya udara dingin dirasakan saat kondisi cerah atau beberapa lama tidak ada hujan.

Seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Kudus, meski kondisi siang hari terasa panas namun udara di malam hari terasa dingin hingga mempengaruhi suhu air, yang masih terasa dingin saat esok paginya.

"Kondisi yang kita sebut mbediding ini disebabkan Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia, melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih rendah atau dingin," ujarnya, Selasa (16/7/2024).

Dia menambahkan bahwa angin Monsun Australia ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, terlebih pada malam hari di saat suhu mencapai titik minimumnya.

Sehingga, suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia terutama wilayah bagian Selatan khatulistiwa terasa lebih dingin.

"Fenomena suhu dingin akan terus terjadi menjelang puncak musim kemarau di bulan Juli-Agustus."

"Bahkan kemungkinan bakal terjadi sampai September 2024," tambahnya. (*)

Baca juga: Gempa Kembali Guncang Batang, Ini Imbauan BMKG

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved