Berita Jateng
Yuk Berbuka di Masjid Darussalam Solo, Ada Menu Bubur Samin yang Lezat dan Langka
Tradisi berbagi takjil Bubur Samin ini sudah ada sejak 39 tahun silam atau dimulai pada 1985.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SOLO – Selama Ramadan, Bubur Samin khas Banjar, Kalimantan selalu menjadi menu takjil andalan yang disiapkan oleh takmir Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo.
Tradisi berbagi takjil Bubur Samin ini sudah ada sejak 39 tahun silam atau dimulai pada 1985.
Tidak hanya untuk menu iftar di masjid, namun takmir Masjid juga membagikan bubur kepada warga.
Sebelum azan asar berkumandang, warga sudah berduyun-duyun datang ke masjid untuk mengantre.
Mereka juga membawa wadah mulai dari mangkok hingga rantang.
Baca juga: Hanya Butuh 3 Bahan, Berikut Resep Jajanan Jadul Sawut yang Cocok untuk Menu Takjil
Salah satu warga yang mengantre adalah Ika, warga Serengan, Solo. Ia mengaku setiap bulan Ramadan selalu datang ke Masjid Darussalam untuk mendapatkan bubur samin khas Banjar.
Setiap hari ia juga tidak pernah melewatkan mengantre bubur, ia mengaku ketagihan dengan rasa bubur samin.
"Setiap tahun selalu kesini (Masjid Darussalam), setiap hari (selama Ramadan) selalu mengantre bubur," kata Ika saat berbincang dengan Tribunjateng.com.
Ika sendiri membawa satu rantang terdiri dari tiga wadah. Bubur itu kata dia bisa untuk dua hari karena bisa dihangatkan kembali sebelum disantap.
Ia menceritakan bubur samin sangat berbeda dengan bubur biasanya. Bubur Samin rasanya lebih enak karena dimasak dengan rempah-rempah dan daging sapi.
"Enak, yang membedakan dengan bubur biasanya ini rempah-rempahnya terasa banget sama daging sapinya juga terasa," kata dia.
Tidak hanya warga sekitar, bubur samin ini juga menarik warga luar Solo. Abdul warga Colomadu, Karanganyar salah satunya. Ia mengaku penasaran dengan rasa bubur samin khas Banjar itu.
Baca juga: Kecamatan Paling Menderita saat Banjir di Semarang, Terparah dan Paling Lama Surut
Sebagai pemula, ia hanya membawa satu wadah kotak makan untuk mencicipi saat berbuka.
Abdul mengatakan antusiasme masyarakat untuk mengantre cukup tinggi. Terbukti, baru 10 menit mengantre bubur samin khas Banjar telah habis.
"Penasaran sama rasanya. Tadi datang pukul 15.50 WIB baru 10 menitan antre sudah habis buburnya, takmir masjid langsung menutup gerbang agar warga tidak lagi mengantre," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Bubur-Samin-masjid-Serengan-Solo.jpg)