Berita Jateng
Penemuan Besar, CPAS Indonesia Mulai Ekskavasi Fosil Kerbau dan Gajah di Pegunungan Patiayam Kudus
Centre for Preshistory and Austronesian Studies atau CPAS Indonesia, melakukan penelitian fosil hewan ataupun manusia purba di Pegunungan Patiayam
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, KUDUS - Centre for Preshistory and Austronesian Studies atau CPAS Indonesia, melakukan penelitian fosil hewan ataupun manusia purba di Pegunungan Patiayam, Kabupaten Kudus.
Saat masa purba, Gunung Patiayam ini merupakan daratan yang terpisah dengan Pula Jawa, dimana gunung tersebut diapit oleh pulau lain di sisi utaranya.
Saat ini pulau itu menjadi Gunung Muria dan di selatannya menjadi Pegunungan Kendeng.
Sejauh ini Patiayam menyimpan artefak batu yang melimpah dan fauna yang tidak ditemukan di situs lainnya.
Situs Patiayam Kudus ini khas dengan Topografinya, perbukitan mengandung Fosil Vertebrata Pleistosen
Ekskavasi atau proses pencarian data dengan penggalian tanah, dilakukan di Bukit Selumprit dan Luwehan.
Pada proses ini melibatkan akademisi, pihak Museum Patiayam, serta warga sekitar.
"Untuk saat ini, ada temuan fosil kerbau dan gajah. Kami bisa identifikasi itu dari giginya. Untuk yang gajah dimungkinkan jenisnya Elphas," ucap Mirza Ansori, Peneliti CPAS Indonesia, Rabu (17/1/2024).
Baca juga: Usir Lelah Usai Tagih Nasabah, Karyawan Koperasi di Purbalingga Pilih Pakai Narkoba
Untuk saat ini pihaknya masih belum bisa mengidentifikasi bagian mana saja yang ditemukan, lantaran proses ekskavasi masih berlangsung.
Usai melakukan proses ekskavasi, tim peneliti akan melakukan ekskavasi penyelamatan terhadap temuan fosil tersebut, nantinya temuan itu akan ditaruh di Museum Patiayam Kudus.
Sementara itu, Ketua Regu Penelitian, Retno Handini mengatakan adanya penelitian ini dimaksudkan untuk pembaruan data dan informasi sejarah.
"Minimal kita bisa tahu, kronologi kemudian usia dan hunian dari situs ini. Mungkin dengan metode ini yang kita lakukan mudah-mudahan bisa terjawab situs Patiayam ini ada dari beberapa juta tahun lalu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah melalui metode carbonuranium yang dilakukan," terangnya. (Rad)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.