Berita Purbalingga
Tak Lupakan Akar Keluarga, Bidan di Purbalingga Jadi Pembatik Usai Tunaikan Tugas Kesehatan
Bidan dan pembatik merupakan dua profesi yang dipilih untuk dijalani Rizky Purwitasari, saat ini.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Bidan dan pembatik merupakan dua profesi yang dipilih untuk dijalani Rizky Purwitasari, saat ini.
Bidan di Purbalingga ini begitu mencintai batik karena tumbuh besar di lingkungan pembatik.
Wanita yang akrab disapa Ita ini lahir dari keluarga besar pembatik asal Majapura, Bobotsari. Mulai dari nenek, bude, dan saudara lain, akrab dengan canting dan malam.
Dalam rilis yang diterima Tribunbanyumas.com dari Dinkominfo Purbalingga, Ita menceritakan, bisnis batik yang kini juga digeluti itu berawal dari rasa penasaran ingin mencoba membuat batik hingga akhirnya keterusan hingga kini telah menjadi bidan.
Walaupun berprofesi sebagai bidan, Ita tidak merasa kepayahan dalam membagi waktu.
Baca juga: Mie Ayam Ceker Pak Sikin Kalimanah Purbalingga Tak Pernah Sepi, Seporsi Jumbo Cuma Rp 12 Ribu
Baca juga: Petani Karangpucung Purbalingga Berhasil Kembangkan Melon Hidroponik, Siap Pasok Pasar Banyumas Raya
Dia memilih membatik siang hingga sore hari, setelah tugasnya sebagai bidan, rampung.
"Mulai membatik 2010-2011, menekuni batik sebagai profesi," ujarnya saat ditemui di galeri batiknya di Desa Kutawis, depan Puskesmas Kutawis, Rabu (10/8/2022).
Ita terjun langsung menangani proses pembuatan batik, mulai dari mencari bahan, membuat pola, pewarnaan, sampai bentuk kain jadi.
Meski begitu, untuk proses finishing, dia dibantu beberapa karyawan.
Batik yang dibuat Ita pun tak pakem. Kadang kala, dia membuat motif hasil konsultasi pada suami. Atau, sesuai permintaan pelanggan.
Ita melayani pembuatan batik tulis maupun cap.
Untuk batik tulis, satu lembar kain batik dihasilkan dalam waktu 2-3 hari.
Sementara, untuk batik cap, dalam satu hari, dia bisa menghasilkan 20-30 kain batik cap.
"Dengan adanya teknik pewarnaan yang modern membuat pewarnaan tidak serumit dahulu yang perlu pencelupan sampai beberapa kali," imbuhnya.
Ita pun dikenal mahir dalam mengombinasikan warna.
Dalam sebulan, Ita bisa menjual hingga 20 lembar kain batik.
Baca juga: Rembang Penghasil Kopi di Purbalingga, Ini Keunggulan Kopi dari Tanah Kelahiran Jenderal Soedirman
Baca juga: 11 Destinasi Wisata Terdekat dari Bandara Purbalingga, Ada Peternakan dan Petik Stroberi
Selain penjualan offline atau luring di Purbalingga, pasar batik Ita telah merambah luar kota berkat penjualan online atau daring.
Dia memanfaatkan media sosial Facebook, Instagram, dan Tiktok, untuk memperluas pasar. Produk-produknya dipromosikan lewat akun Gallery Purwita.
"Penjualan melalui online dari teman-teman dinas dan instansi di sekitar wilayah Purbalingga lewat FB, IG, dan Tiktok."
"Untuk offline, biasa melalui teman-teman di dinas dan instansi di wilayah Purbalingga," imbuhnya.
Harga kain batik buatan Ita dipatok mulai Rp 125 ribu-Rp 200 ribu, proses pembatikan, cap murni atau kombinasi tulis.
Sedangkan untuk kain batik tulis murni, dibanderol mulai Rp 350 ribu, menyesuaikan kerumitan motif. (*)
Baca juga: Mengaspal di Sirkuit Baru, Pebalap Astra Honda Targetkan Podium ARRC Sugo
Baca juga: Burhanuddin dan Deolipa Tak Lagi Dampingi Bharada E. Terlalu Blak-blakan Ungkap Kasus Brigadir J?
Baca juga: Enam Rumah di Dukuh Salam Tegal Terbakar saat Penghuni Terlelap, Api Baru Padam setelah 3 Jam
Baca juga: Bupati Kena OTT KPK, Aktivitas ASN di Pemkab Pemalang Tetap Berjalan Normal