Berita Banyumas
Perjalanan Karier Bupati Banyumas Achmad Husein: dari Korban Perundungan Hingga Bupati Dua Periode
Bupati Banyumas Achmad Husein merupakan satu di antara bupati yang populer di Jawa Tengah.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Bupati Banyumas Achmad Husein merupakan satu di antara bupati yang populer di Jawa Tengah.
Namun, tak banyak yang mengetahui ceritanya hingga sukses seperti sekarang. Termasuk, masa kecilnya yang sering menjadi korban bullying atau perundungan.
Hal ini disampaikan Husein secara khusus kepada Tribunbanyumas, saat ditemui di Purwokerto, Senin (25/7/2022).
Husein menceritakan perjalanan hidupnya hingga kini terjun ke dunia politik dan menjadi orang nomor satu di Kabupaten Banyumas.
"Kelas 1-4 SD itu masa yang sangat tersiksa bagi saya," ucap Husein menceritakan masa kecilnya.
Baca juga: Lebih Dekat Bupati Banyumas Achmad Husein: Miliki Gelar Bangsawan dan Terima Julukan Bakul Peso
Baca juga: Namanya Masuk Bursa Calon Gubernur Jateng, Bupati Banyumas: Mau Ikut Lomba Azan Saja
Husein mengatakan, saat SD, dia susah mengerti pelajaran. Hal ini membuat dia merasa sebagai siswa bodoh.
"Saya kelas 1 SD itu fisiknya putih, tinggi, kampleng (gampang jatuh) atau ringkih."
"Saya sudah berusaha belajar tapi tidak bisa baca tulis. Dan, kalau ditunjuk guru, selalu tidak bisa."
"Sehingga, saya sering menjadi bahan bully, sampai-sampai dikucilkan dan sering menangis karena itu," cerita Husein.
Kondisi ini membuat Husein tak naik kelas.
Lantaran malu, Husein akhirnya pindah ke sekolah lain.
Namun, di tempat baru, kondisi Husein tak lebih baik.
Dia tak naik kelas lagi hingga akhirnya, guru bisa mengerek nilai menjadi naik kelas namun dengan syarat, Husein harus pindah sekolah.
Tentu saja, ini makin menghambat dia belajar.
Baru saat kelas 4, Husein bisa membaca dan menulis secara lancar.
"Karena sudah bisa baca buku, bapak saya menyarankan untuk pindah lagi ke SD teladan. Dan, akhirnya, kelas 4, pindah (sekolah) lagi."
"Sebenarnya, pada prinsipnya, saya itu bukan anak yang nakal dan malas."
"Terbukti, saat kelas enam, saya jadi juara dan akhirnya bisa masuk ke SMP 1 Purwokerto dan masuk SMA 1 Purwokerto, (kemudian bisa) masuk ITB," ungkapnya.
Cita-cita Masuk ITB sejak SMP
Sejak SMP, bupati yang dikenal di dunia maya sebagai 'bakul peso' atau penjual pisau itu memang punya cita-cita masuk Institut Teknologi Bandung (ITB).
"Saya cari tahu banyak mengenai ITB dan belajar bagaimana bisa masuk ke sana," ujar bupati yang dikenal humoris ini.
Tentu saja, hal ini memicunya giat belajar.
Saat di bangku SMA, sebelum diajarkan guru, dia mempelajari lebih dulu materi yang akan diterima.
Dia mengulang terus materi itu hingga paham sehingga tak kesulitan lagi saat guru mulai menyampaikan materi yang sama.
Hal ini membuat prestasi Husein di sekolah meningkat.
Banyak teman di kelas 1 SMA terkejut karena Husein yang biasa saja ketika SMP, bisa mendapat nilai 10 untuk banyak mata pelajaran di SMA.
Naik kelas 2 SMA, Husein mulai melahap buku-buku tebal.
Baca juga: Kasus Stunting Banyumas Tembus 5000 Anak, Bupati Husein Minta OPD Turun Tangan Lakukan Penanganan
Baca juga: 49 UMKM Meriahkan Ngapak Festival di Purwokerto Banyumas, Diharapkan Ikut Dongkrak Transaksi Digital
Sebab, dia telah memiliki tujuan pasti, bagaimana dapat menguasai materi sehingga masuk perguruan tinggi idaman.
Pasalnya, nilai bagus di ijazah tak bisa menjamin dia diterima di ITB.
"Kuncinyanya adalah materi tes masuk ITB itu harus dikuasai."
"Karena itu, setiap pukul 02.00 WIB, dini hari, saya selalu bangun dan saya selalu belajar sampai subuh."
"Kemana-mana saya selalu membawa buku, bahkan ke toilet juga bawa buku."
"Waktu SMA, saya berprinsip, pokoknya harus bisa masuk ITB dan tidak pernah mendaftar ke perguruan tinggi lain," ungkapnya.
"Saya cari tahu banyak mengenai ITB dan belajar bagaimana bisa masuk ke sana."
"Tentunya, masuk ke ITB tidak mudah, perlu strategi, sehingga kala itu, saya temui kakak kelas yang sudah masuk ITB."
"Meskipun tidak ikut bimbingan belajar apapun tapi saya beli buku-buku sendiri dan saya pelajari itu," kata dia.
Dua bulan sebelum ujian masuk ITB, Husein pergi ke Bandung.
Dia menginap di sebuah gudang buku lantaran tak memiliki cukup uang untuk menyewa kamar kos.
Kebetulan, Husein kenal dengan penjaga gudang buku tersebut sehingga dia mendapat izin.
Sebelum menghadapi ujian masuk ITB, Husein beberapa kali mengikuti tes percobaan masuk perguruan tinggi.
Ini dilakukan untuk mengukur kualitas diri.
Luar biasanya, hasil tes percobaan selalu menempatkan dia di ranking lima besar.
Sehingga, ketika mengikuti ujian sesungguhnya masuk ITB, Husein sangat percaya diri lulus.
Benar saja. Saat pengumuman, Husein diterima di jurusan Teknik Sipil ITB.
Belajar Etos Kerja di Perusahaan Asing
Lulus dari ITB, Husein memutuskan bekerja di perusahan asing. Dia bekerja di Jepang.
Siapa sangka anak yang dulu pernah dua kali tidak naik kelas, empat kali pindah sekolah, sering mendapatkan bully, baru bisa baca kelas 4 SD akhirnya lulus teknik sipil ITB dan jadi bupati Banyumas dua periode.
Di Negeri Sakura, Husein belajar bagaimana etos kerja dibangun, efisiensi, dan manajemen kerja.
Semua itu, dikatakan Husein, sangat berbeda jauh dari budaya di Indonesia.
"Saya, kala itu, lebih banyak (bekerja) ke perusahaan asing, semisal Jepang, Inggris, setelah itu baru ke BUMD."
"Contohnya, saya pernah bekerja di perusahaan Cioda, sebuah perusahaan yang proyeknya di offsore di Merak, Cilegon, Gresik, dan Surabaya, yang bidangnya enginer programmer constructions," jelasnya.
Dari perusahaan asing Jepang, Husein hijrah ke perusahaan Inggris, dan akhirnya bekerja di PDAM Surabaya, Jawa Timur.
Di Surabaya, Husein dipercaya sebagai Direktur Distribusi yang menangani 500 ribu pelanggan.
Angka ini 10 kali lebih banyak daripada pelanggan PDAM di Banyumas.
Dari perusahaan asing ke BUMD, Husein merasakan benar perbedaan jam kerja.
Di perusahaan asing, dia biasa pulang pukul 21.00 WIB karena lembur.
Sementara, di BUMD, dia bisa pulang maksimal pukul 17.00 WIB.
"Saat itu kaget, setelah 13 tahun bekerja di perusahaan asing, akhirnya merasakan pulang kerja sore hari."
"Kalau bekerja di perusahaan asing, itu memang riset oriented, yaitu efektif untuk seluruh elemen, dan tidak ada yang namanya mengkambinghitamkan."
"Meskipun memang, dari sisi persaudaraan, lebih rendah dan sesama karyawan hanya berteman biasa," katanya.
Ketika masuk ke BUMD, Husein merasakan eratnya emosi antarpegawai.
Namun, kondisi ini justru memunculkan faksi-faksi atau kelompok.
Baca juga: Selamat! Pemkab Banyumas Terima Penghargaan Nirwasita Tantra dari Kementerian LHK
Baca juga: Pemkab Banyumas Anggarkan Dana Rp 318 Juta untuk Penanganan PMK
Tak hanya jam kerja dan kedekatan pegawai, di BUMD dia juga harus beradaptasi soal pola kerja.
"Lama-lama paham. Profesional (di BUMD) ada tapi toleransi dan birokrasi menghormati dalam hal persaudaraan, juga ada," imbuh Husein.
Bupati mengatakan, bekerja di birokrasi itu nikmat sekali dibanding di perusahaan swasta.
Apalagi soal sanksi. Di birokrasi, sanksi bagi yang melanggar sangat kecil. Sementara, di perusahaan swasta, aturan begitu ketat diterapkan.
Risiko dipecat sangat gampang terjadi.
"Mana ada PNS yang dipecat? Bekerja di perusahaan asing itu adalah tempatnya orang berprestasi dan tampil."
"Kalau di kita itu lebih ke gotong royong lah. Nikmat birokrat banding swasta kalau soal hidup," ungkapnya.
Dari Keluarga Politik
Lalu, bagaimana awal dia terjun ke dunia politik?
Husein mengungkapkan, orangtuanya memiliki latar belakang politik.
Sang ayah, Agus Taruno, merupakan seorang PNI (Partai Nasional Indonesia), yang sebagian besar anggotanya, terjun dalam pemerintahan semasa Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.
Itu sebabnya, dunia politik tak begitu asing.
Sehingga, saat ditawari Mardjoko agar mendampingi sebagai calon wakil bupati Banyumas, Husein menerima.
Saat itu, Husein masih menjadi direktur PDAM.
Apalagi, ibu dan istrinya, merestuai, bahkan mendorong Husein maju dalam pemilihan kepala daerah.
Pada 2008, pasangan Mardjoko-Husein meraih suara terbanyak. Husein resmi menjadi wakil bupati, hingga 2013.
Pada Pilkada 2013, Husein mencalonkan diri dalam Pilkada Banyumas. Kali ini, dia maju sebagai calon bupati, didampingi Budhi Setiawan.
Kemudian, pada Pilkada 2019, Husein kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Banyumas, didampingi Sadewo Tri Lastiono.
Target Genjot Kesejahteraan Warga
Dia periode keduanya ini, Husein berharap, warga Banyumas lebih makmur dan sejahtera.
Menurutnya, kesejahteraan itu bisa diukur dari pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya indeks pembangunan manusia (IPM).
"Kita lihat tolak ukurnya. Ketika saya pertama kali menjadi bupati, angka kemiskinan itu 23 persen pada 2013."
"Kemudian, sampai kemarin itu, sebelum pandemi, menjadi 12.5 persen."
"Harus tahu simpul ekonomi mana yang harus dimaksimalkan," jelasnya.
Dia pun bangga lantaran pertumbuhan ekonomi di Banyumas mencapai tujuh persen per tahun, dua persen lebih besar dari pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, yang tercatat di angka 5 persen.
Terkait angka ini, dia pun terus melakukan pemetaan sektor mana yang bisa dipertahankan untuk menjaga dan meningkatkannya, apakah dari sektro swasta, pariwisata, atau pertanian.
"Faktor mana yang bisa menjadi alat ungkit paling cepat, itu yang akan saya maksimalkan," ujarnya.
Husein, anak yang dulu pernah menjadi korba perundungan hingga dua kali tidak naik kelas, empat kali pindah sekolah, dan baru bisa membaca pada kelas 4, kini telah menjelma menjadi pemimpin besar di Banyumas.
Di periode kedua masa pemerintahannya ini, dia ingin menjawab tantangan yang ada secara lugas dan tegas. (Tribun Banyumas/jti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/bupati-banyumas-achmad-husein-saat-ditemui-di-purwokerto-jumat-1932021.jpg)