Jumat, 24 April 2026

Berita Banyumas

Perjalanan Karier Bupati Banyumas Achmad Husein: dari Korban Perundungan Hingga Bupati Dua Periode

Bupati Banyumas Achmad Husein merupakan satu di antara bupati yang populer di Jawa Tengah.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI
Bupati Banyumas Achmad Husein saat ditemui di Purwokerto, Jumat (19/3/2021). 

Lulus dari ITB, Husein memutuskan bekerja di perusahan asing. Dia bekerja di Jepang.

Siapa sangka anak yang dulu pernah dua kali tidak naik kelas, empat kali pindah sekolah, sering mendapatkan bully, baru bisa baca kelas 4 SD akhirnya lulus teknik sipil ITB dan jadi bupati Banyumas dua periode.

Di Negeri Sakura, Husein belajar bagaimana etos kerja dibangun, efisiensi, dan manajemen kerja.

Semua itu, dikatakan Husein, sangat berbeda jauh dari budaya di Indonesia.

"Saya, kala itu, lebih banyak (bekerja) ke perusahaan asing, semisal Jepang, Inggris, setelah itu baru ke BUMD."

"Contohnya, saya pernah bekerja di perusahaan Cioda, sebuah perusahaan yang proyeknya di offsore di Merak, Cilegon, Gresik, dan Surabaya, yang bidangnya enginer programmer constructions," jelasnya.

Dari perusahaan asing Jepang, Husein hijrah ke perusahaan Inggris, dan akhirnya bekerja di PDAM Surabaya, Jawa Timur.

Di Surabaya, Husein dipercaya sebagai Direktur Distribusi yang menangani 500 ribu pelanggan.

Angka ini 10 kali lebih banyak daripada pelanggan PDAM di Banyumas.

Dari perusahaan asing ke BUMD, Husein merasakan benar perbedaan jam kerja.

Di perusahaan asing, dia biasa pulang pukul 21.00 WIB karena lembur.

Sementara, di BUMD, dia bisa pulang maksimal pukul 17.00 WIB.

"Saat itu kaget, setelah 13 tahun bekerja di perusahaan asing, akhirnya merasakan pulang kerja sore hari."

"Kalau bekerja di perusahaan asing, itu memang riset oriented, yaitu efektif untuk seluruh elemen, dan tidak ada yang namanya mengkambinghitamkan."

"Meskipun memang, dari sisi persaudaraan, lebih rendah dan sesama karyawan hanya berteman biasa," katanya.

Ketika masuk ke BUMD, Husein merasakan eratnya emosi antarpegawai.

Namun, kondisi ini justru memunculkan faksi-faksi atau kelompok.

Baca juga: Selamat! Pemkab Banyumas Terima Penghargaan Nirwasita Tantra dari Kementerian LHK

Baca juga: Pemkab Banyumas Anggarkan Dana Rp 318 Juta untuk Penanganan PMK

Tak hanya jam kerja dan kedekatan pegawai, di BUMD dia juga harus beradaptasi soal pola kerja.

"Lama-lama paham. Profesional (di BUMD) ada tapi toleransi dan birokrasi menghormati dalam hal persaudaraan, juga ada," imbuh Husein.

Bupati mengatakan, bekerja di birokrasi itu nikmat sekali dibanding di perusahaan swasta.

Apalagi soal sanksi. Di birokrasi, sanksi bagi yang melanggar sangat kecil. Sementara, di perusahaan swasta, aturan begitu ketat diterapkan.

Risiko dipecat sangat gampang terjadi.

"Mana ada PNS yang dipecat? Bekerja di perusahaan asing itu adalah tempatnya orang berprestasi dan tampil."

"Kalau di kita itu lebih ke gotong royong lah. Nikmat birokrat banding swasta kalau soal hidup," ungkapnya.

Dari Keluarga Politik

Lalu, bagaimana awal dia terjun ke dunia politik?

Husein mengungkapkan, orangtuanya memiliki latar belakang politik.

Sang ayah, Agus Taruno, merupakan seorang PNI (Partai Nasional Indonesia), yang sebagian besar anggotanya, terjun dalam pemerintahan semasa Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Itu sebabnya, dunia politik tak begitu asing.

Sehingga, saat ditawari Mardjoko agar mendampingi sebagai calon wakil bupati Banyumas, Husein menerima.

Bupati Banyumas, Achmad Husein berkunjung ke Museum Wayang di Pendopo Duplikat Si Panji Kecamatan Banyumas dan memainkan Wayang Suket, Kamis (21/10/2021).
Bupati Banyumas, Achmad Husein berkunjung ke Museum Wayang di Pendopo Duplikat Si Panji Kecamatan Banyumas dan memainkan Wayang Suket, Kamis (21/10/2021). (PEMKAB BANYUMAS)

Saat itu, Husein masih menjadi direktur PDAM.

Apalagi, ibu dan istrinya, merestuai, bahkan mendorong Husein maju dalam pemilihan kepala daerah.

Pada 2008, pasangan Mardjoko-Husein meraih suara terbanyak. Husein resmi menjadi wakil bupati, hingga 2013.

Pada Pilkada 2013, Husein mencalonkan diri dalam Pilkada Banyumas. Kali ini, dia maju sebagai calon bupati, didampingi Budhi Setiawan.

Kemudian, pada Pilkada 2019, Husein kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Banyumas, didampingi Sadewo Tri Lastiono.

Target Genjot Kesejahteraan Warga

Dia periode keduanya ini, Husein berharap, warga Banyumas lebih makmur dan sejahtera.

Menurutnya, kesejahteraan itu bisa diukur dari pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya indeks pembangunan manusia (IPM).

"Kita lihat tolak ukurnya. Ketika saya pertama kali menjadi bupati, angka kemiskinan itu 23 persen pada 2013."

"Kemudian, sampai kemarin itu, sebelum pandemi, menjadi 12.5 persen."

"Harus tahu simpul ekonomi mana yang harus dimaksimalkan," jelasnya.

Dia pun bangga lantaran pertumbuhan ekonomi di Banyumas mencapai tujuh persen per tahun, dua persen lebih besar dari pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, yang tercatat di angka 5 persen.

Terkait angka ini, dia pun terus melakukan pemetaan sektor mana yang bisa dipertahankan untuk menjaga dan meningkatkannya, apakah dari sektro swasta, pariwisata, atau pertanian.

"Faktor mana yang bisa menjadi alat ungkit paling cepat, itu yang akan saya maksimalkan," ujarnya.

Husein, anak yang dulu pernah menjadi korba perundungan hingga dua kali tidak naik kelas, empat kali pindah sekolah, dan baru bisa membaca pada kelas 4, kini telah menjelma menjadi pemimpin besar di Banyumas.

Di periode kedua masa pemerintahannya ini, dia ingin menjawab tantangan yang ada secara lugas dan tegas. (Tribun Banyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 4/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved