Berita Banyumas
Alat Musik Khas Banyumas Gandalia Terancam Punah, Pemain Mahir di Tambaknegara Tinggal 4 Orang
Banyumas memiliki alat musik khas bernama Gandalia. Namun, keberadaannya terancam punah lantaran pemain alat musik dari bambu ini tinggal empat orang.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Banyumas memiliki alat musik khas bernama Gandalia. Alat ini terbuat dari bambu.
Memiliki bentuk mirip angklung, alat ini dimainkan lewat cara digoyang dan menutup bagian terbuka, untuk menghasilkan nada.
Satu di antara seniman yang masih memainkan Gandalia di Banyumas adalah Ki Kusmarja.
Pria 74 tahun, warga Grumbul (Dusun) Bonjok Wetan, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, itu juga giat melestarikan Gandalia lewat cara melatih generasi muda.
Kusmarja mengakui, Gandalia mulai jarang ditemui.
Alat musik ini terbuat dari bambu dengan panjang 50-60 sentimeter dan berdiameter kurang lebih 6 sentimeter.
Meski mirip angklung, alat ini terlihat lebih besar.
Nada yang dihasilkan juga tak selengkap angklung.
Irama yang dihasilkan terdengar begitu unik meski hanya menggunakan empat tangga nada pentatonis, yaitu ro (2), lu (3), mo (5), dan nem (6).
"Yang dibunyikan (lubang) dibuka, kalau tidak dibunyikan, ditutup. Secara bersamaan, ini juga digoyangkan secara lurus dan tempo yang sama," kata Kusmarja saat ditemui Tribunbanyumas.com di rumahnya, Rabu (22/6/2022).
Baca juga: Mulyani Makin Bersemangat Melatih Tari Topeng Lengger Khas Wonosobo, Masih Digandrungi Para Remaja
Baca juga: Punya Talenta Kesenian Banyumasan? Pemkab Banyumas akan Beri Beasiswa Penuh hingga Lulus Kuliah
Baca juga: Tangis Haru Keluarga Bertemu Siti di Banyumas, Pencarian 16 Tahun Membuahkan Hasil
Baca juga: Razia Kamar Warga Binaan Lapas Purwokerto Banyumas, Petugas Temukan Gunting hingga Lem
Kusmarja menceritakan, dulu, Gandalia dimainkan petani desa untuk mengusir hewan pengganggu tanaman, semisal babi, burung, dan kera.
"Awalnya, dulu buat tunggu di alas (ladang), banyak hewan pengganggu. Dulu, lagunya belum di kolaborasi, masih nyanyi sendiri-sendiri," tambahnya.
Seiring berjalannya waktu, kesenian ini semakin dikenal masyarakat desa untuk dipentaskan dan mulai dimainkan mengiringi lagu-lagu semisal Cucuk Benik, Jo Liyo, Eling-eling, dan Lir-ilir.
Kini, ada kekhawatiran di benak Kusmarja terkait kelestarian Gandalia.
Pasalnya, belum ada anak muda di desanya yang maih memainkan alat musik tersebut.