Berita Banyumas

Butuh Uluran Tangan: Nenek Satem Bertahan Hidup di Cilongok Banyumas dari Menjual Kayu Bakar

Menghabiskan masa senja bersama anak cucu tak bisa dirasakan Satem, warga Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Dia hidup sebatang kara.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
ISTIMEWA/KIRIMAN WARGA
Satem, nenek 75 tahun yang tinggal di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, tengah membelah kayu bakar sebelum dijual, Selasa (22/2/2022). Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Satem yang hidup sebatang kara mengandalkan penghasilan dari menjual kayu bakar. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Menghabiskan masa senja dan bersantai bersama anak cucu menjadi idaman banyak orang. Kenyataannya, impian ini tak bisa dirasakan Satem, nenek 75 tahun yang tinggal di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Di usia yang sudah lanjut, Satem masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Biasanya, dia mengandalkan penghasilan dari penjualan kayu bakar yang dia dapatkan, atau mendapat uluran tangan dari tengga.

Satem memang tinggal sebatang kara. Bahkan, rumahnya pun hanya berupa gubug reyot di tengah bangunan tembok rumah milik tetangga.

Setiap hari, berbekal parang, plastik, dan tali, dia mengumpulkan batang ranting yang ditemukan di hutan atau tegalan.

Mata tetap menatap kedepan dan yak satu pun batang ranting terlewatkan.

Saaat hasilnya sudah cukup, Satem memilah kayu, lalu diikat menjadi beberapa bagian.

Baca juga: Temukan Akar Masalah Kelangkaan Minyak Goreng, Disperindag Banyumas: Berapapun Dikirim Pasti Ludes

Baca juga: 3 Bayi di Purwokerto Lahir di Tanggal Cantik 22 2 2022, Hari Ulang Tahun Bareng Kabupaten Banyumas

Baca juga: Tetap Berproduksi, Pengrajin Tempe di Pliken Banyumas Kecilkan Ukuran meski Diprotes Pembeli

Baca juga: Jeritan Hati Pedagang Gorengan di Banyumas: Minyak Langka, Tahu dan Tempe Tidak Ada

Ikatan kayu seberat lebih dari 20 kilogram itu kemudian dia gendong untuk dibawa pulang.

Sesampai di rumah, kayu bakar yang belum kering dibelah menjadi beberapa bagian.

Selanjutnya, kayu dijemur di bawah terik matahari.

"Saya berangkat mencari kayu bakar pukul 06.00 WIB sampai siang. Setiap hari. Kadang dapat lima ikat."

"Tapi, akhir-akhir ini, karena hujan, saya hanya dapat tiga ikat."

"Mencari kayunya jauh, tidak di lokasi sini saja," katanya saat dihubungi via tetangga, Selasa (22/2/2022).

Satem mengatakan, penghasilan dari menjual kayu bakar, per hari, tidak menentu.

"Hari ini saja, saya mendapatkan tiga ikat. Harga satu ikat Rp 3000 rupiah. Uang hasil penjualan untuk membeli kebutuhan sehari-hari," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved